Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Finansial


__ADS_3

'La, lagi apa?' Pesan Farel saat aku selesai kelas tari topeng.


'Lagi mau ganti baju. Lanjut ikut kelas teori.' jawabku.


'Sama siapa?' tanyanya lagi.


'Sama teman sekelas lah, masak sama kamu.' Kuselipkan emosi ketawa berderet deret.


'Gak boleh sama cowok yaa aku cemburu!!!'


Aku cuma tertawa saja menanggapi. Tidak kubalas pesannya. Dia memang berubah pencemburu akhir akhir ini.


Masuk kamar mandi, ganti baju sopan. Kami diijinkan pakai kaos saat menari, tapi untuk kelas teori harus pakai baju sopan. Jadilah tas ini pasti ada baju ganti. Kalau ada dua kelas teori dan praktek dalam sehari. Belum kalau praktek harus pakai jarik, sampur, dan stagen. Itulah isi tas mahasiswi jurusan tari yang lain dari pada yang lain hihihihi.


Selesai kelas teori aku menuju parkiran yang jadi satu dengan jurusan karawitan. Hari ini aku luntang lantung sendiri. Nita entah kemana sejak kemarin jalan dengan pacarnya yang membiayai kuliah. Lola masuk angin. Pagi pagi tadi sudah gedor gedor kamar minta kerokan.


"Mbak eee ..... Mbak namamu Lala kan?" tanya seorang cowok di parkiran. Aku cuma senyum aja menanggapi. Cowok gondrong itu mendatangiku.


"Aku Riko Mbak dari jurusan karawitan," katanya sambil mengulurkan tangan. Aku jadi gak enak. Kuterima uluran tangannya.


"Lala," kataku singkat.


"Iya aku tahu, Vanila Jean Aliee anak tari asal Solo. Kelahiran Solo, tanggal 24 bulan Januari tahun xxxx," katanya menyebutkan data diriku secara lengkap. Hummmm bermaksud caper rupanya.


"Woooow hebat, tahu dari mana?" tanyaku santai.


"Aku ketua BEM. Udah memperhatikan kamu dari awal masuk. Kamu... Menarik," jelasnya sambil intens menatapku. Rambutnya yang gondrong berkibar tertiup angin sore. Aku tersenyum.


"Terimakasih sudah perhatian. Aku senang. Selanjutnya gak usah memperhatikan lagi. Aku gak kurang perhatian kok," kataku sambil melemparkan senyum. Dia sempat bengong kaget sesaat, tapi berhasil menguasai mimik muka lagi. Aku tancap gas berlalu.


Aku pulang mengendarai vespa merahku. Nita sudah didepan kosnya.


"Udah pulang?" tanyaku sambil melepas sepatu.

__ADS_1


"Udah dari tadi pagi jam 10, tapi males ngampus," kata Nita.


"Kenapa?" tanyaku lagi.


"Lagi males, semalaman digarap banyak sama Romi." Kata Nita tanpa tedeng aling aling (tanpa pakai sensor). Aku cuma garuk garuk kepala yang gak gatal sambil nyengir.


"Digarap, kaya tugas kampus aja Nit," kataku. Dia tertawa.


"Enak lho La kaya gituan. Udah pernah begituan belum?" tanya Nita lagi. Aku bengong. Nita melihat ekspresiku sejenak.


"Enak lho La.... geli geli nikmat. Apa lagi kalau dijilat itu kita. Hummmm bikin merem melek. Aku gak bisa tahan lama kalau pemanasannya kaya gitu," jelas Nita lagi. Aku kok jadi gelisah gak jelas gara gara Nita. Dia tahu perubahan eksprsiku. Tambah gencarlah mulutnya.


"Gak pingin nyoba La? Di jilatin aja dulu.... atau udah pernah nyoba?" tanya Nita mirip detektif somplak.


"Kasih tau gak yaaaa..." kataku sambil berlari masuk kamar. Dia yang ngomong aku yang malu. Emang gendeng si Nita itu.


"Aku yakin belum Laa... kamu itu lugu kaya gadis desa!!" teriak Nita dari luar kamar. Masih usaha dia. Aku ganti baju, trus tidur.


Aku keluar kamar saat sudah malam. Penghuni kos lengkap ngerumpi di halaman. Kecuali dua senior jurusan musik. Udah skripsi, jadi mereka sibuk. Aku membawa setoples kripik tempe dan sus kering yang dibawakan Mama waktu aku pulang minggu kemarin.


"Ini anak bukan sembarang mahasiswi kere macam kita," kata Lola. Sambil ngambil keripik.


"Haa siapa bilang, aku ya cuma mahasiswi ngekos. Kalau kaya aku sudah beli rumah," jawabku santai. Mereka emang mulai curiga dan nanya nanya tentang keluargaku. Alasannya simpel, aku gak pernah ribut uang. Bahkan Lola sering minjem uang sama aku di akhir bulan.


"Merendah dia.... padahal cuma dia disini yang gak pernah ribut duit padahal jajanin pacar makan malam tiap hari," kata Lola.


"Iya sih yak, enak jadi Farel. Datang minta makan, minta susu didua gunung dan kue apem lipat juga," mulut Nita mulai ngeres. Kami cekikikan dengan istilah yang Nita buat.


Yang dibicarakan datang. Sudah senyum manis sambil melepas helem.


"Panjang umur Rel....," kata Nita.


"Apa? Kalian ngomongin aku?" tanya Farel.

__ADS_1


"Iya, tentang jatah susu dan kue apem yang kamu ambil tiap hari," kata Nita. Aku memukul kepalanya dengan tutup toples.


"Emang kamu kelonan aja tiap hari," kataku. Nita nyekikik.


Aku berjalan mendekati Farel.


"Mau makan sekarang?" tanyaku.


"Boleh, aku udah lapar," jawab Farel. Kami makan penyetan di ujung jalan masuk kos. Memang benar kata Nita. Akulah yang selalu membayar makan malam kami setelah ngambekan kemarin. Bahkan akhir akhir ini aku juga yang membayar ongkos pulang. Pakai motorku juga lagi. Sepertinya kebutuhan Farel memang agak banyak jadi aku yang sering memback up pengeluaran kami. Bagiku tidak masalah. Kata mama dulu, dia juga punya jarak finansial yang jauh dengan papa. Akan tetapi Papa menerima tanpa ada masalah. Aku juga akan melakukannya pada Farel. Pacarku dari jaman kanak kanak.


"Laa... aku boleh minta tolong gak?" tanya Farel saat kami selesai makan.


"Apa? Katakan saja. Kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu," jawabku sambil menyeruput es jeruk. Farel seperti bingung menyampaikan.


"Apa sih? Bikin penasaran deh," pancingku lagi.


"Aku boleh pinjam uang?" tanya Farel.


"Uang?" tanyaku kaget. Apa dia sedang benar benar kesulitan keuangan? Kenapa? Bukankah kuliahnya gratis karena bea siswa? Biaya hidupnya juga gak banyak. Dia salah tingkah dengan tatapan menyelidikku.


"Apa Tante Ine gak kasih uang saku?" tanyaku.


"Aku..... marahan sama ayah, dan dia menyetop uang sakuku," jelas Farel.


"Kenapa sampai marahan sama om?" tanyaku kepo.


"Ya masih sama penyebabnya La, dia mau aku jadi polisi. Sekarang kan ada bukaan pendaftaran perwira, tapi aku tetep kekeh mau kuliah aja," kata Farel.


"Apa gara gara aku sampai kamu dipaksa jadi polisi? Maaf, kemarin aku sempat mencuri dengar saat nganter kue buat Tante Ine. Apa perlu aku bicara sama Om Nando kalau keluargaku gak akan mempermasalahkan pekerjaanmu?" tanyaku pada Farel.


"Gak, gak usah La..... Aku malu sebenarnya..... udah lupain aja La," kata Farel kikuk. Mukanya terlihat gak enak sekali. Aku jadi merasa bersalah. Hah, dulu waktu kami kecil gak ada tuh jarak finansial. Asik asik aja main berdua. Sekarang makin dewasa makin banyak jarak dan masalah yang memisahkan.


"Nomer rekening. Sebutin nominal yang kamu butuhkan," kataku sambil membuka M bangking di hpku.

__ADS_1


"Serius La?" tanya Farel. Senyum cerah tergambar di wajahnya. Aku manggut manggut. Hasil pembagian mebel yang masuk rekeningku mencapai dua digit tiap bulannya. Mama memang melepas keuangan dan kebutuhanku. Tapi nominal yang masuk masih terlalu besar untuk kuhabiskan perbulan. Gak masalah untuk membantu teman, sahabat, sekaligus pacarku.


Kami pulang kekosanku. Farel langsung sigap buka laptop. Kayaknya tugasnya banyak. Lha enaknya jurusan tari ya ini yang lain banyak tugas, kita banyak gerak hahaha. 80% tugas kami adalah nari. Walaupun tetap ada teorinya. Aku nongkrong sama teman temanku di depan kamar. Ngerumpi sana, ngerumpi sini. Termasuk ketua BEM yang katanya adalah anak orang kaya.


__ADS_2