Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
liburan semester


__ADS_3

Libur semester pertama. Hubungan Farel dan Om Nando justru semakin memburuk. Farel sekarang jarang pulang. Aku terpaksa pulang sendiri tiap minggunya. Bahkan untuk libur semester pertama ini Farel gak pulang. Tante Ine memintaku untuk membujuknya pulang.


"Pulang lah Rel, kasihan tante," kataku saat Farel datang ke kosku. Dia memandangku sejenak. Mukanya semakin tirus, tubuhnya juga mengurus. Sejujurnya aku agak khawatir dengan kondisi Farel. Dia seperti tidak terurus.


"Bilang sama Bunda aku baik baik saja," katanya kemudian sibuk dengan game di hpnya. Aku menghembuskan nafas kasar.


"Besok aku mau pulang lho," kataku bermaksud memberi tawaran terakhir.


"Pulanglah, biar sisa makananmu disini aku bawa kekosan ku. Lumayan," katanya santai.


Farel sekarang bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Walaupun kadang aku meneransfer uang ke rekeningnya. Namun sepertinya nominal transferku tidak bisa mencukupi kebutuhannya.


***


Kegiatan liburan semester bukan diisi dengan santai. Aku dipaksa Mama ikut mengurus mebel. Kali ini akan ditempatkan pada adminnya.


"Aku gak tahu soal bisnis Maa... Nanti kalau ke pabrik ketahuan bodoh gimana?" aku berkilah. Enak enak liburan semester. Rencananya mau main atau nari malah suruh kerja.


"Hanya bantuan kecil selama libur semester. Emang ada karyawan baru terlihat pintar. Semua karyawan baru pasti terlihat bodoh. Biar kalian tahu alurnya. Kalau gak kalian, siapa lagi yang nerusin itu mebel humm," Mama ceramah pagi.


"Hector aja lah Maa, dia lebih pintar," aku tetap malas.


"Bantu Mbak Citra ngurus pembukuan atau hasil mebel distop dari rekeningmu," ancam Mama. Aku cemberut. Mau gak mau kalau begini.


Hector mau lulus SMA. Sebentar lagi ujian, namun sepertinya dia santai saja. Otaknya emang encer. Dia masih ikut Mama ngurus mebel. Papa ambil bebas tugas sebelum pensiun. Sekarang juga ikut mengurus mebel. Jadilah kami sekeluarga akan berangkat kepabrik mebel pagi ini.


"Wah, soto Mbah Mar!!!" aku semangat melihat menu sarapan. Soto favorit Mendiang Mbah Kung, tapi aku juga suka.


"Nikmati Mbak, Mbah sengaja masak ini soalnya Mbak Lala pulang kerumah," kata Mbah Mar. Beliau sekarang dibantu satu art dan satu tukang kebun, karena tenaganya yang sudah sepuh tidak mampu lagi ngurus rumah. Mbah Mar tinggal instruksi aja. Mirip kepala pelayan difilem filem korea. Hihihihi.


"Makasih ya Mbah," kataku sambil membelai lengan beliau. Kami sarapan dalam diam.


***


Turun dari mobil Papa semua orang di pabrik memandang kami.


"Aku berasa artis," bisik Hector terdengar hanya kami berempat. Mama tertawa.


"Mereka heran melihat kalian berdua. Dapat gaji besar, tapi gak pernah ikut ngurus bisnis," kata Mama. Sukses membuat aku dan Hector merasa bersalah.


"Cit, nitip satu anakku. Suruh dia bantu bantu kamu. Dia Lala anak mbarepku," kata Mama pada Mbak Citra.


"Baik Bu, saya Citra Mbak Lala," kata Mbak Citra sambil mengulurkan tangan.


"Aku Lala Mbak, panggil nama saja. Aku lebih muda," kataku sungkan.


Kulihat Hector diterjunkan kebagian produksi sama Mama. Ngamplas ngamplaslah dia. Hihihi aku senang kalau dia tersiksa. Papa diperkenalkan sebagai pemilik yang akan mulai aktif mengurusi bisnis.

__ADS_1


"Mohon bimbingannya, saya anak baru walaupun sudah setua ini," kata Papa. Di depan beberapa karyawan penting perusahaan ini. Semua orang tertawa. Hari ini ternyata kami di go public kan sama Mama.


"Hihihi seneng aku kayak gini. Kerja serumah. Gak sendiri lagi," kata Mama.


"Sekarang semua masalah biar aku yang hendel. Nyonya Revan cukup duduk diam sambil mengambil keputusan," kata Papa sambil merangkul pundak Mama.


"Tempat umum wooooiii!!!" Hector mengingatkan.


Seharian itu aku nempel sama mbak Citra jadi asisten pribadinya dia. Ternyata perusahaan ini cukup besar. Sudah menjadi eksportir produk mebel beberapa negara. Hebat. Aku malah gak tahu. Hihihihi....


'Laa, boleh pinjam uang gak,' pesan dari Farel. Aku menghembuskan nafas kasar. Ini yang membuat orang baik jadi jahat. Aku sekarang merasa seperti dimanfaatkan. Bukan dua kali ini dia minta uang, tapi berkali kali. Iya, minta uang, karena gak pernah dibalikin. Padahal bilangnya pinjam. Iya, berkali kali karena entah sudah beberapa kali seperti ini.


'Buat apa? Bukannya kamu udah aku transfer sebelum aku pulang?' balasku.


'Plis Laaa bantuin aku kali ini, aku beneran butuh buat bayar hutang,' balas Farel cepat.


'Kamu berhutang buat apa?' tanyaku balik.


'Pokoknya kamu transfer dulu, nanti aku jelasin, aku butuh banget soalnya. Plis Laa aku akan kerja buat ngelunasin semua hutangku ke kamu,'


'Kamu butuh berapa?'


'Xx.000.000,-' balas Farel cepat. Gila!!! Itu setara dengan uang hasil pembagian mebel satu bulan!!! Untuk apa uang sebanyak itu??? Farel hutang apa???


"Mbak, aku permisi mau telepon sebentar boleh?" tanyaku pada Mbak Citra.


"Lima menit doang Mbak. Ntar tak rusuhin lagi habis itu," kataku sambil nyengir.


"Tolong lah La, aku butuh uang itu sekarang, bantu aku," suara Farel mengiba.


"Kamu hutang apa sampai sebanyak itu?" tanyaku.


"Aku..... habis nabrak orang. Orangnya agak parah. Aku harus ganti biaya pengobatan," suara Farel terdengar gugub.


"Astaga Rel... kamu sendiri gimana? Om sama Tante Ine tahu gak?" tanyaku mulai cemas.


"Aku gak papa, ayah sama bunda gak tahu. Tolong jangan kasih tahu," suara Farel memohon.


"Kamu ada dimana?" tanyaku.


"Aku masih di Jogja," kata Farel menyebut kota kampus kami berada.


"Cepat La, aku butuh sekarang. Janji aku kembalikan," kata Farel lagi. Aku diam sejenak. Gak tega juga. Ya... sudahlah.


"Oke, ditunggu," jawabku sambil mengakhiri panggilan. Lagi lagi kutrasfer nominal ke rekening Farel.


Aku disuruh Mbak Citra minta tanda tangan sama Mama. Langsung nyelononglah aku ke ruangan Mama. Hasilnya.... kulihat adegan dewasa Mama sama Papa. Mereka lagi asik berciuman. Hedeeehhhh..... kayak gak inget umur dehh... sengaja kubanting pintu agak keras. Mama terlonjak kaget.

__ADS_1


"Lala... kenapa gak ketuk pintu dulu?" Mama protes.


"Gak kedengeran. Yang didalam lagi asik," kataku membela diri. Mama langsung menabok lengan Papa. Yang ditabok cuma senyum senyum gak jelas. Mereka terlihat serasi dan hot. Meskipun sudah tua..... Pasangan yang akan membuat iri pasangan lain. Haahhh manisnya...


Kami makan siang berempat. Mama memesan makanan favorit kami masing masing. Membagikannya beberapa pada karyawan di kantor. Makan di ruangan CEO dengan seenaknya. Kalau CEOnya bukan mamamu jangan coba coba.


"Gimana kerja hari ini?" tanya Mama sambil makan.


"Capek!!" Hector menjawab lantang. Pendangan Mama beralih keaku.


"Pusing, mataku pusing seharian lihat angka berderet deret," jawabku sambil menyuapkan nasi. Mama tertawa senang.


"Kalian harus tahu alurnya. Ini bisnis keluarga. Dari sini kita bisa makan dan bisa hidup. Kalian pewarisnya nanti," kata Mama.


"Biar Hector yang urus. Lala terima bersih," kataku.


"Enak saja!!! Kamu yang urus. Aku mau jadi TNI," Hector gak terima.


"Trus ini gimana?? Satunya jadi TNI satunya jadi penari???" tanya Mama.


"Nikahkan saja Lala dengan Farel, Maa. Biar Farel yang urus. Dia kan pinter," kata Hector asal. Membuat aku tersedak saja. Papa sigap mengambilkan aku minum.


"Ngomong ngomong sejauh apa hubungan kamu sama Farel, La?" tanya Mama.


"Sejauh Solo dan Jogja Ma," jawabku asal.


"Kalau pendapat Mama, Mama setuju lho kalian tunangan dulu. Nikahnya nanti saat udah sama sama lulus. Atau mau nikah sekalian gak papa. Biar Mama tenang kamu di sana ada yang jagain," kata Mama aneh aneh.


"Ciehhh.... calon manten...." Hector langsung dapat bahan ejekan.


"Gak aneh aneh deh Ma, aku mau fokus sekolah sama nari. Kita pacaran juga gak ngapa ngapain kok. Lala janji jaga diri. Gak akan bikin Mama sama Papa kecewa," kataku berapi api.


"Papa pegang omongan kamu La, sekali kamu bikin kecewa kita, Papa akan ambil keputusan sepihak. Ingat itu!!" kata Papa menyeramkan. Papa suka gitu.... jarang bicara, sekali bicara membuat aku merinding.


Usai makan siang aku kembali sibuk jadi asisten Mbak Citra. Beberapa kali kena tegur karena salah. Mbak Citra ini galak. Dan dia kaya gak takut aku anak pemilik pabrik ini. Tetep saja aku kaya karyawan treningan biasa.


Mama keluar sama Papa. Pamit sama asistennya mau ketemu pelanggan. Papa ngekor dibelakang Mama. Mama gak sengaja kesandung kabel yang melintang di lantai. Dengan sigap tubuhnya ditopang Papa saat mau jatuh.


"Makasih Mamas," kata Mama sambil senyum sok cantik.


"Sama sama Dek," jawab Papa. Aaaa aku seperti melihat adegan drakor. Cuma ini pemerannya orang tuaku sendiri. Apa aku juga bisa seromantis ini sama Farel??? Sampai tua cintanya seperti kawah diatas gunung. Tetap hangat, tetap membara.


Aku tersadar dari lamunanku. Papa sengaja melempar polpen tepat mengenai keningku.


"Ngedip!! Kerja, bukan melamun!!" kata Papa sebelum nyusul Mama keluar pabrik. Aku mengelus keningku. Sakit kagak....kaget iya. Mbak Citra cekikikan di sampingku.


"Pak Revan galak yaa... matanya kaya elang. Tajem banget," komen Mbak Citra.

__ADS_1


"Lebih cenderung ke serem Mbak. Papa jarang ngomong, tapi sekali ngomong bikin aku kedinginan kaya buka kulkas di kutup utara," kataku. Membuat semua karyawan yang dengar nyekikik.


__ADS_2