
Akhirnya aku masuk juga ke kamar Vano. Kamar yang cukup rapi ternyata. Cuma selimut aja yang lupa dilipat. Aku kemudian masuk kamar mandinya. Ada sabun cair dan stok sikat gigi baru. Haaa ini cukup untuk keadaan darurat seperti ini. Aku pun mandi dengan nyaman.
Hampir selesai mandi, aku mendengar suara gaduh dari dalam kamar. Rupanya Vano atau Papa datang. Ketukan dipintu kamar mandi terdengar.
"Po, kamu di dalam?" suara Vano.
"Iya," jawabku singkat. Aku mencari handuk dikamar mandi. Tidak ketemu. Alah, rupanya Vano naruh handuk diluar kamar mandi.
"No, kamu masih di dalam kamar?" teriakku.
"Iya, kenapa?" sahut Vano.
"Pinjam handuk yaa!! tolong bawain kesini sekalian," kataku. Terdengar suara tawa Vano.
"Keluar aja Po, gak usah pakai handuk. Aku rela kok," goda Vano dari dalam kamar.
"Hisss dasar mesum. Cepetan ihh!! Aku udah selesai mandinya," kataku.
"Aku sambil ngintip boleh?" tanya Vano. Suaranya sudah didepan pintu kamar mandi.
"Gak!! Aku laporin Papa nanti!!" ancamku. Aku membuka pintu. Bersembunyi dibalik daun pintu. Pandangan Vano tertuju pada dinding dibelakangku. Lekat disana. Dia ternyata bukan tipe pria mesum pengambil kesempatan.
Aku mengambil handuk dari tangannya.
"Terima kasih," kataku sambil menutup pintu.
"Ah, kenapa cepat sekali," kata Vano aneh. Aku berbalik. Ternyata dinding dibelakangku ada cermin besar setinggi badan. Sial!!! Aku tarik kata kataku tadi!!!! Vano itu pria mesum, pengambil kesempatan dan menyebalkan!!!!
Aku keluar dari kamar Vano. Papa duduk bersandar disofa. Memijit keningnya sendiri. Beliau terlihat berfikir keras. Vano terlihat membuat tiga cangkir kopi didapur. Satu cangkir diserahkan pada Papa, kemudian menyerahkan satu cangkir lain padaku. Mukanya masih meringis mesum melihatku.
Aku mencubit perutnya sekilas. Dia mengaduh, tapi nyengingis.
__ADS_1
"Mesum!!" bisiku. Hanya itu yang bisa kulakukan. Gak berani mengadu sama Papa. Beliau pasti sudah pusing dengan kasusku. Aku gak berani ngadu lebih. Aku mendekati Papa.
"Pa, apa boleh Lala ambil baju ganti dikos? Lala gak bawa baju ganti.... ini sudah lengket," kataku sambil menarik bajuku sendiri. Baju yang kupakai saat sarapan sebelum penangkapan. Papa memandangiku sebentar, kemudian memengeleng.
"Beli baju baru saja. Kosmu masih disegel buat olah TKP lebih lanjut," kata Papa sambil berdiri.
"Pergilah beli baju baru, diantar Vano yaa.... Papa sedikit lelah dan pusing," Lanjut Papa. Beliau masuk kamar Vano. Nampak lelah sekali. Aku jadi merasa bersalah. Diusianya yang sekarang, harusnya Beliau sudah bersantai. Papa malah dibebani kasusku. Aku merepotkan sekali jadi anak.
"Ayo berangkat!" kata Vano mengagetkanku dari lamunan.
"Apa ada perkembangan kasus?"tanyaku saat masuk mobil Vano.
"Perkembangan terspektakuler hari ini adalah Pak Revan berhasil meyakinkan temannya untuk ikut penyelidikan kasus ini," kata Vano bangga.
"Aku jadi bisa menangani kasus bersama Pak Revan!!! Ini gila!!! Teman teman satu letingku akan iri. Andai aku bisa mendokumentasikannya," lanjut Vano gak nyambung. Aku nanya apa... dijawab apa. Sesenang itu dia bisa kerja bersama Papa?
"Lalu statusku masih tahanan kota?" tanyaku lagi. Vano mengangguk.
"Kami sedang proses menanyai dan menelusuri teman teman Farel. Anak itu banyak masalah ternyata. Selain pemakai narkoba, banyak hutang, juga sering melakukan se eks bebas," jelas Vano sambil melirikku. Aku melongo mendengar penjelasan Vano. Merinding sudah badan ini.
"Aku tahu kamu tidak mudah menerima ini. Kamu terlalu bucin hingga matamu terbutakan. Maaf kalau aku bicaraku terlalu pedas. Tapi coba sejenak gunakan logikamu Sayang. Kau pasti sebenarnya lebih tahu kelakuannya. Daripada aku atau pun keluarganya yang lain," kata Vano tepat.
Aku sebenarnya merasakan perubahan Farel dari SMA. Sosoknya perlahan berubah dari Farel yang lembut menjadi Farel yang sebelum meninggal. Tapi aku mengacuhkannya, mencoba menutup mataku dan berharap dia berubah kembali. Ah... Betapa penyesalan selalu datang terlambat. Harusnya aku bersikap lebih tegas agar ia tidak terjerumus lebih dalam. Jika aku melakukannya, mngkin saat ini aku masih bisa bercanda dengannya..... Farel..... Aku kangen. Sesenggukan aku menangis.
Mobil Vano sudah masuk parkiran mall.
"Hapus air matamu Po, kamu akan terlihat buruk sekali kalau masuk mall masih sesenggukan seperti itu," kata Vano sambil menyerahkan tisue. Aku menerima tisunya dan mengatur nafas. Vano lekat memperhatikan aku.
"Andai aku bisa," kata Vano menggantung diudara.
"Bisa apa?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Bisa..... Kau cintai seperti.... Kamu mencintai Farel," kata Vano. Aku mengacuhkannya dan keluar dari mobil. Kami beriringan masuk mal.
Aku pun belanja beberapa baju dan pakaian dalam. Vano ngikut saja di belakang.
"Yang hitam bagus Po," komentar Vano saat aku memilih pakaian dalam.
"Dasar mesum!! Gak malu kamu ngikutin ketempat dalaman wanita kayak gini??! Tunggu diluar sana!!!" Kataku sebal. Vano tersenyum mesum.
"Aku hanya memberi pendapat. Kulitmu kan putih... hummmm terlalu putih dibagian dalam. Akan kontras sekali kalau pakai warna hitam. Hemmm pasti menarik..... ah Lala sayang kau membuat otakku kacau. Sudahlah aku tunggu diluar," katanya buru buru keluar. Mukanya berubah merah. Cenderung mesum malah. Aku ingat dia baru saja mengintipku tanpa busana. Dasar menyebalkan!!!
Aku pulang kerumah Vano, Papa sudah bangun. Duduk didepan laptop dengan muka serius.
"Papa udah bangun?" tanyaku. Papa mengangguk saja.
"Papa punya pertanyaan untuk kamu. Pernahkah kamu dengar sesuatu dari Farel. Misalnya musuhnya atau orang yang tidak suka dengannya?" tanya Papa. Aku menggeleng.
"Lalu apa yang kau tahu tentang Farel?" tanya Papa lagi.
"Mahasiswa cerdas, lagi marahan sama Ayahnya. Berusaha hidup mandiri di sini," jelasku. Papa dan Vano langsung melengos.
"Kenapa? Farel memang seperti itu kan Pa," kataku meyakinkan Papa. Beliau mendekat dan menoyor kepalaku.
"Kau ini terlalu bucin. Papa kesal sekali sama kamu. Sudah tidak pernah bilang kalau mendapat kekerasan, jadi ATM berjalan juga diam saja. Kau ini bodoh atau apa??!" kata Papa kesal. Vano dengan menyebalkannya tertawa gak ada akhlak.
"Aib dari AKBP Revan Aji Pratama. Punya anak bucin gak ketulungan," komentar Vano. Papa kemudian menatap Vano.
"Kamu mau merawat anak bucinku ini?" tanya Papa sambil memegang kaos belakangku mirip memegang kucing.
"Saya akan merawatnya dengan sepenuh hati, kalau anda memberikannya," kata Vano serius. Aku jadi merinding. Papa seperti menyerahkan aku pada Vano.
"Makannya cuma ikan asin dan wishcas kan?" lanjut Vano sambil tertawa senang. Sial..... aku disamain kucing beneran. Aku jadi dapat omelan dari Papa panjang lebar.
__ADS_1
"Lelaki sejati tidak akan meminta uang wanitanya semiskin apapun hidupnya. Teman yang baik juga tidak terus terusan minta bantuanmu secara finansial. Jangan bodoh Lala. Orang yang beneran baik itu punya etika minta tolong, bukan ditolong lalu minta di tolong terus. Papa gemas sekali, kamu ini sebenarnya terlalu baik atau terlalu bodoh?" kata Papa berapi api. Baru sekali ini Papa mengomeliku. Biasanya pelit bicara.
Malam semakin beranjak. Mereka berdiskusi tentang kemungkinan kemungkinan. Aku ikut nyimak walau sambil ngantuk ngantuk. Ternyata Vano dan Papa kompak sekali kalau lagi bekerja. Papa menyuruhku tidur. Aku pun beranjak masuk kamar dan tidur.