
Tante Winda dan Om Dedi memelukku. Mereka bilang bahagia memiliki menantu sepertiku.
"Ibu juga kaget saat Vano memintamu langsung jadi istri, tapi terimakasih sudah menerima Vano sebagai suami," kata Tante Winda senang.
"Selamat Nak, semoga kalian diberikan jodoh yang panjang dan saling melengkapi," doa Om Dedi pada aku dan Vano. Kami makan makan keluarga sebagai penutup acara. Aku gak ada niatan makan sama sekali.
"Kamu tidak lapar Sayang? Mau kuambilkan sesuatu?" tanya Vano padaku.
"Kamu sudah tahu acara ini dari kapan?" tanyaku.
"Aku melamarmu secara tidak resmi saat kamu masih dirawat di rumah sakit. Papamu bingung bagaimana kamu melanjutkan kuliah, sedang tidak ada siapa pun yang menjagamu disana. Aku menawarkan diri menjagamu," jelas Vano.
"Dan pernikahan konyol ini ide kalian?" tanyaku berusaha meredam amarah didepan para tamu.
"Tidak, ini ide spontanku hari ini. Aku tidak tahan melihat kamu... Kupikir kenapa tidak sekalian memperistri kamu," jawab Vano sambil nyengir. Aku melengos saja, emang dasarnya menyebalkan ini orang!
Acara usai. Aku melepas sanggulku dan mandi. Kamar peninggalan Mbah Kung ini ada kamar mandi dalamnya mirip kamar Mama. Jadi aku gak perlu keluar kamar untuk mandi.
Aku keluar dari kamar mandi. Melihat Vano nyantai dikamarku sambil main hp. Cuma pakai singlet dan celana kolor. Sedetik aku sudah ingin mengusirnya, namun detik berikutnya aku sadar dia suamiku sekarang.
Aku cuwek saja sambil menyisir rambutku. Dia datang mengambil sisirku dan menggantikan aku menyisir rambut.
"Apa bahumu sudah tidak sakit? Kenapa udah mandi?" tanya Vano sambil mengurai pelan rambutku.
"Aku pakai plester anti air. Udah gak sakit. Aku bisa nyisir sendiri," kataku sambil menengadah meminta sisir.
__ADS_1
"Aku mau memanjakan istriku. Duduk diam yang cantik," katanya sambil menggeleng. Kami berpandangan dalam pantulan cermin meja riasku. Aku mencoba tidak membuat keributan. Walaupun ndongkol parah. Rasanya aku ingin berteriak pada semua orang. Aku ingin marah entah pada siapa saja.
Vano menyisir sambil menciumi rambutku.
"Ini wangi, aku suka wanginya. Kamu sebenarnya cantik dengan rambut yang bergelombang mirip mamamu, tapi lurus begini juga cantik," kata Vano.
"Sudah, ini sudah rapi, aku mau keluar kamar," kataku sambil berdiri.
"Kenapa buru buru?" tanyanya sambil memegang kedua sikuku. Membawaku mendekat kearahnya. Tubuh kami berhimpit dia menempelkan keningnya dikeningku.
"Aku tahu aku terlalu memaksakan ini. Maaf, aku serakah memilikimu. Beri aku kesempatan masuk dalam hatimu. Beri aku waktu agar bisa membuatmu jatuh cinta padaku," kata Vano. Dia kembali mendekatkan bibirnya. Satu ciuman mendarat sempurna dibibirku. Kubiarkan saja semaunya. Dia mulai memperdalam ciumannya. Menggoda lidahku untuk ikut berpartisipasi. Aku diam saja seperti patung. Kubiarkan ciuman itu hambar tanpa tanggapan.
"Haaa protes kecil yang cukup menyakitkan," komentar Vano setelah beberapa lama mencoba berciuman denganku. Dia tahu aku sengaja melakukannya. Aku berlalu dan keluar kamar tanpa hambatan.
"Weee ini dia pengantin baru..... kok udah keramas aja," Hector langsung berkomentar. Rumahku masih dibersihkan pihak panitia. Bodo amat aku malas berdebat. Menuju dapur mencari kripik kentang favorit. Aku mau ngemil untuk menenangkan hatiku.
"Apa Mbah Kung akan melakukan hal yang sama Mbah? Apa dia akan menikahkan aku dengan orang yang tidak aku suka?" tanyaku pilu sama Mbah Marni. Beliau mengelus sayang punggungku.
Makan malam tiba. Aku dipanggil Mbak Nana untuk makan malam. Hector langsung heboh karena bajunya muat dipakai Vano. Mama bicara ini dan itu. Menceritakan apa saja yang membuat cair suasana. Papa lekat memandangku. Aku diam saja dari awal sampai akhir makan.
"Kamu langsung balik ke Jogja No?" tanya Mama.
"Iya Tante, eh, Mama. Besok pagi saya kembali. Saya minta beberapa surat agar bisa segera melengkapi berkas," kata Vano semangat. Mama manggut manggut.
"Kamu mau balik besok juga La?" tanya Mama dibuat sesantai mungkin. Semua orang tegang menunggu jawabanku. Mereka tahu aku marah.
__ADS_1
"Memang ada yang bisa kulakukan? Memang aku punya hak bicara dan mengutarakan pendapat?" tanyaku menggantung diudara. Papa segera meminum airnya. Mama menggenggam tanganku. Vano lekat menatapku. Suasana canggung langsung tercipta. Bodo amat. Aku meneruskan makanku dengan tenang. Suasana canggung berlangsung sampai makan malam itu usai. Kami makan dalam keheningan.
Aku masuk kamar setelah makan malam. Vano mengikutiku.
"Mau jalan jalan keluar Cantik?" tanya Vano seolah tidak terjadi apa apa.
"Ya, aku mau bulan madu denganmu, aku mau selfie dan menunjukkan kalau aku sudah menikah sama semua orang!" sindirku pada Vano sambil berurai air mata. Dia tidak lagi berkomentar. Aku masuk selimut dan tidur. Vano ikut tiduran disampingku. Menyalakan tv dan menontonnya. Mungkin karena lelah hati dan perasaan. Aku benar benar tertidur pulas.
***
Dini hari aku dibangunkan Vano. Bersiap menuju kota tetangga. Kota sejuta seniman dan tempat wisata. Mama memeluku erat. Sambil bilang kalau dia minta maaf atas apa yang terjadi. Juga memintaku belajar menerima semuanya.
"Mama juga marah pada Papamu, tapi seumur hidup Mama mengenal Papamu, dia tidak pernah salah mengambil keputusan," bisik Mama di telingaku. Aku diam saja. Papa memelukku tanpa mengucapkan apapun. Mencium pipiku lama hampir tidak rela melepaskannya. Hector belum bangun.
"Aku mau ke makam Farel," kataku begitu masuk mobil Vano.
"Boleh, beritahu jalannya," jawab Vano.
Sampai di makam tumpah lagi air mataku. Masih ada foto Farel disana. Dia dimakamkan tak jauh dari makam Mbah Kakung.
"Kamu pergi dan aku harus menerima pernikahan konyol ini Rel, bagaimana caraku hidup sekarang?" tanyaku pada makam Farel.
"Kamu hanya anak baik yang terjerumus dalam hal hal buruk. Maafkan aku tidak memperingatkanmu. Aku juga sudah memaafkanmu. Tidur yang tenang, temani Mbah Kakung....... kau jahat meninggalkanku...... jahat sekali. Sekarang siapa yang menungguiku tampil?" Aku seperti orang gila. Sebentar marah, sebentar menangis pada makam Farel. Vano diam menungguiku.
Aku beralih kemakam Mbah Kung.
__ADS_1
"Mbah, kamu tahu apa yang dilakukan Papa? Mbah, dia sangat memaksakan kehendak. Ditambah pria konyol yang menyebalkan. Hancur..... mereka kompak membuat hidupku hancur!" curhatku pada Mbah Kung. Aku gak peduli Vano mendengarnya. Biar dia dengar sekalian. Aku akan membuat hatinya patah berkeping keping, karena mengambil paksa hatiku. Lihat saja!!! Aku akan menyiksanya setiap hari! Vano mengangkat tubuhku dan membantuku berdiri. Memelukku dengan erat dan menghapus air mataku.
"Kamu menyebalkan! Ini semua gara gara kamu! Aku benci kamu Noo!!Aku benci!!!" kataku sambil memukuli dadanya. Vano diam menerima semua perlakuanku.