
Aku menceritakan kejadian tadi siang sama Farel saat aku pulang berboncengan dengannya.
"Trus reaksi cowoknya gimana?" tanya Farel.
"Yaaa gitu... langsung tancap gas kabooorrr. Hahahahaha," kataku sambil ngakak. Farel ikut ngakak. Kami sudah sampai di halaman rumahku. Farel memasukkan motornya sampai halaman.
Rencananya kami mau nonton filem horor lagi nanti. Ada motor asing terparkir. Ku tengok ruang tamu sepi.... paling teman Hector. Aku mencoba melepas helemku tapi pengaitnya macet.
"Rel, macet ini," kataku saat Farel akan masuk rumah. Dia berbalik dan memegang pengait helemku. Tangan kami berpegangan. Mukanya juga terlalu dekat. Farel itu manis. Dengan kulit kecoklatan dan alis tebal. Dia menyadari tatapanku. Kami bertatapan dalam diam. Farel mendekatkan wajahnya. Semakin dekat. Dug dak.... dugg dak.... jantungku berdisko. Farel akan mencium bibirku.
PRAAAANGGGGGG!!!
Tiba tiba entah dari mana kaca rumahku pecah. Aku dan Farel melompat menjauh. Mirip maling ketahuan nyuri. Pengait helemku juga bisa terlepas.
"Maaf, aku gak sengaja," kata Vano nyengir keluar dari dalam rumah. Sebuah bola base ball mengelinding keluar rumah. Mbah Mar langsung datang.
"Mbah, nanti aku bilang sama Tante Putri, Mbah cari tukang buat benerin dan bersihin yaa. Ini aku kasih uangnya," kata Vano sambil menyelipkan beberapa uang merah ke tangan Mbah Mar.
Vano masuk rumah lagi. Duduk anteng diruang tengah sambil nelpon Mama. Hah, ngapain sih dia kesini? Sendirian lagi.
"Mas Vano ngapain kesini?" tanyaku semi gak suka.
"Main PS sama aku," Hector menjawab sambil mengeluarkan PS dari kamarnya.
"Gak bolehh main PS disini!! Di kamarmu sana! Aku mau lihat film sama Farel," kataku sambil menggandeng tangan Farel.
"Gak!!! Dikamar TV ku kecil gak enak. Aku mau disini. Nonton filem apa? Paling paling mau,-"
"Aku udah beliin makdi ya kemarin," potongku sebelum Hector membongkar kelakuan kami tempo hari.
"Kalau gitu sayaratnya nambah. Aku mau main PS gak boleh ganggu." Hector makin ngelunjak.
"Gak bisa gitu dong,-"
__ADS_1
"Telepon Mama ahh... Atau yang lebih serem telepon Papa," ancam Hector sudah ambil hp.
"Dasar adek nyebelin. Udah lahir gak direncana masih juga nyebelin!!" aku ngomel sambil merampas hpnya. Hector nyengingis dan tos sama Vano. Aku melempar hp Hector berharap mengenai kepalanya. Tapi dia sigap menangkap hpnya dengan tangan kiri. Menjulurkan lidahnya sambil mendelik. Aku semakin sebel. Berlalu menarik Farel keruang tamu.
"Udah, besok juga bisa La, besok kan libur. Atau mau nonton dirumahku?" tawar Farel.
"Udah gak mood Rel. Aku mau tidur saja lah!!" kataku sebal. Farel pun pamit pulang.
Aku masuk kamar dan berganti baju. Menjatuhkan diri di kasur empuk. Menscroll hp cari cari video bagus. Gak ketemu. Beteku sama Hector masih. Ngemil aja lah. Aku beranjak menuju dapur. Melintasi ruang tengah. Hector dan Vano asik main PS.
"Minggir dasar teletubis!!" kata Hector saat aku sengaja mempelambat jalanku di depan TV. Aku nyengingis saja pura pura gak tahu dan gak bersalah.
Aku membongkar lemari dapur. Berharap menemukan snack kentang kesukaanku. Gak ada. Adanya kue brownies faforit Mama.
"Kamu pacaran sama bocah ingusan itu?" suara Vano tepat di belakang mengejutkan.
"Iya, emang kenapa?" tanyaku sambil berbalik. Dia semakin mendekat. Jarak tubuh kami tak sampai 5 cm.
"Bocah ingusan mau coba coba ciuman!!" katanya sambil lekat menatapku. Aku kaget. Dia tahu aku hampir berciuman dengan Farel tadi. Ada kemarahan dimatanya. Tidak, aku pasti salah lihat.
"Emmmm... emmmm...." mulutku dikuasai Vano. Ada sensasi manis yang kurasakan. Lidahnya menerobos masuk. Disaat itu juga ada permen lunak yang masuk mulutku. Vano mempermainkan permen lunak itu diantara mulutnya dan mulutku. Aku lemas. Sepertinya darah tidak mengalir dengan wajar ditubuhku. Membuat desiran aneh yang membuatku.... lemas.....
Dia menopang tubuhku dengan tangannya. Aku tersengal saat dia melepaskan ciuman kami. Permen itu tertinggal di mulutku. Dia tersenyum. Meninggalkan aku yang masih berpegangan pada meja dapur tanpa berkata apapun.
Aku mau marah, tapi entah kenapa tidak bisa. Justru merinding hebat teringat ciumannya tadi. Kesalku bukan main. Dia kembali main PS sama Hector. Aku kembali melintas di ruang tengah. Dia fokus pada PS seolah tidak terjadi apa apa. Menyebalkan!!!
***
Ternyata ini libur semester juga untuk Vano. Dia pulang beberapa hari. Menyempatkan diri main sama Hector. Papa juga pulang esoknya.
"Pokoknya Papa ambil rapot aku. Kamu diambil Mama!!" kataku pada Hector. Kami berebut Papa untuk ambil rapot. Jarang jarang Papa bisa ambil rapot soalnya.
"Gak bisa dong!!! Papa itu ambil rapot aku!!" Hector gak mau kalah.
__ADS_1
"Iya iya sana pada rebutan Papa. Mama gak ada yang ngelirik," kata Mama cemberut. Papa tersenyum.
"Nanti Papa sama Mama yang ambil rapot kalian. Ke SMK Mbak Lala dulu, kemudian ke SMP Hector. Oke?" Papa memberi solusi. Kami tetap berebut siapa yang diambil duluan. Pokoknya tiada hari tanpa berebut dengan Hector.
"Enakan punya kakak Mas Vano dari pada kamu Po. Kalau ada tukar tambah kakak udah tak tukerin kamu!!" kata Hector sebal.
"Iya, kamu cocok sama dia.... Sama sama menyebalkan!!" jawabku gak mau kalah.
"Vano itu manis loh, gak nyebelin," sahut Mama. Idiiihhhh.....
"Mama juga ngefans sama Vano??? Dasar!!! Vano emang pinter cari muka berarti," kataku berapi api. Mama cuma senyum senyum menanggapi.
***
Aku memasukkan sampurku dalam tas kecil yang ku bawa. Walau liburan sekolah, jadwal menariku masih tetap. Sambil menunggu jemputan mama aku main hp. Ada pesan dari Farel. Berisi foto liburannya dengan teman teman SMA nya. Aku jadi iri. Farel udah diijinin main sendiri sama temannya. Nginep lagi. Lha aku? Bawa motor saja harus nunggu nanti setelah 17 tahun.
Motor Vano mendekati tempatku berdiri.
"Naik!!!" perintahnya.
"Ogah, aku dijemput Mama," tolakku.
"Mamamu udah otw ke xxx. Kita makan malam keluarga disana," kata Vano. Sambil mengulurkan hpnya. Aku menerimanya. Berisi chat Mama yang menyuruh Vano menjemputku dan langsung menuju xxx. Aku menscroll keatas ternyata anak ini sering berbalas pesan sama Mama. Dia merampas hpnya di tanganku. Gak mau aku kepoin chatnya ternyata.
"Udah, percaya sekarang?" tanya Vano. Dengan berat hati aku naik kemotornya.
"Gak pegangan? Nanti tiduran di jalan lagi," kata Vano sambil nyekiki. Dasar!!! Aku masih malu kalau ingat jatuh dari motor ketimpa ketel. Dia malah mengingatkan.
"Gak, aku bisa pegangan sedel," aku ngeyel. Vano pun memacu motornya.
"Laa kancingin helemku dong!" teriak Vano diantara riuh jalanan minggu malam. Dia dari tadi emang rempong benerin tali helm dengan satu tangannya. Aku pun membantunya dari belakang. Tiba tiba dia ngegas dan ngerem bersamaan. Membuatku berhimpit memeluk tubuhnya. Ku tabok helemya dengan keras. Dia tertawa.
"Dasar pencari kesempatan!!" kataku sebal. Beberapa kali dia melakukan hal yang sama. Ngerem ndadak terus. Aku yang pegangan sama sedel tetap saja maju kedepan berhimpit dengan punggungnya. Menyebalkan memang!! Aku memegang pundaknya agar dia tidak bisa melakukkannya lagi.
__ADS_1
"Silahkan ngerem sampai remmu gesot!!!" teriakku padanya. Vano nyekikik saja.