Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Kunjungan


__ADS_3

Nita pamit pulang setelah kami selesai makan siang. Masih senyum senyum sendiri mengingat kejadian di warung makan. 


"Kamu kelihatan cemburu, tapi gengsi. Itu bikin gemes tau," kata Nita. 


"Kamu jadi tukang fitnah kaya Vano, dibayar berapa kamu sama Vano?" jawabku kesal. Nita tertawa terbahak bahak. Dia mengucapkan sampai jumpa dan berlalu dengan motornya.


***


seminggu lebih setelah perkuliahan dimulai.....


Aku sudah terbiasa dengan kehadiran Vano. Sudah biasa dengan omelannya kalau aku meletakkan barang sembarangan. Aku ini tipe orang yang gak mau ribet dan sembarangan, sedangkan vano itu rapi, bersih, dan planner. terjadilah penyesuaian antara si pemalas dengan si rajin. Walaupun si rajin banyak mengalah untukku. hahahahah. Aku juga sudah sangat terbiasa dengan ciumannya. Hampir tiap hari dia nyosor mirip bebek.


Aku pulang kuliah sore hari, kulihat mobil Papa terparkir di halaman rumah Vano. Aku masuk rumah disambut Mama yang rempong. 


"Mama bawain soto dan cemilan favorit kamu. Astagaaa kenapa gak pulang sih? Padahal udah seminggu lebih lho, kamu udah mulai kuliah lagi kan?" tanya Mama. Aku mengangguk saja. Kulihat Vano sudah pulang. Tumben pulang sore.


Papa menyodorkan tangannya. Aku salim, tapi gak mau ngomong. Papa memelukku.


"Masih marah sama Papa Nak? Papa minta maaf," kata Papa lembut. Aku diam saja. Nyelonong masuk kamarku.


"Gak salim sama Vano?" tanya Mama. Demi menghindari omelan Mama, aku mengambil tangan Vano dan menciumnya. Ini pertama kali aku melakukannya. Setelah kami tinggal bersama. Aku masuk kamar dan mandi.


Kami makan malam dengan menu yang dibawa Mama. Enak, soto Mbah Marni selalu juara.


"Gimana luka kamu La?" tanya Mama.


"Udah sembuh Ma," jawabku singkat. 


"No, ajak Lala pulang sesekali. Mama juga kangen Lala. Jangan dikekepin sendiri," kata Mama. Vano tersenyum.


"Nanti Vano ajakin pulang ya Ma, kemarin diajakin gak mau Ma, katanya masih suka disini," kata Vano berbohong dikalimat akhirnya. Dia emang ngajakin pulang, tapi aku menolak bukan karena betah disini. Aku gak mau pulang karena masih ngambek sama Papa. Yang menyerahkan aku begitu saja sama Vano.


Mama tertawa senang.


"Syukur kalau betah disini. Mama tahu kok kalian emang butuh penyesuaian, tapi kalian itu serasi. Pasti bisa langgeng pernikahannya," kata Mama Vano mengamini kata kata Mama. Aku membisu saja asyik makan.


"Habis makan malam kita pulang ya Dek," kata Papa.

__ADS_1


"Kok pulang?" Mama protes.


"Mau nginep dimana? Dua kamar disini penuh semua, atau mau ke pantai, paling dua jam dari sini. Nanti kita bulan madu lagi," kata Papa.


"Oh, iya ya Mas, ya udah kita ke hotel aja. Mama pergi habis ini ya La, besok kesini lagi. Mama masih kangen sama Lala," kata Mama membuat aku gak enak.


"Mama sama Papa bisa tidur di kamar Vano, gak usah nginep hotel, besok kita ke pantai ramai ramai. Gimana?" tanya Vano dengan ceria.


"Lha kamu tidur mana No?" tanya Mama.


"Vano bisa tidur sofa depan TV," kata Vano menunjuk sofa itu. Yang benar saja!!! Dia gak lihat tubuh jangkungnya dan panjang sofa itu? Yakin bisa nyaman tidur semalaman disitu?


"Ah, kamu emang pengertian No," kata Mama girang.


"Kita dapat tumpangan tidur Pa," lanjut Mama.


Aku membereskan sisa makan malam dengan Vano. Dia mencuci piring aku yang ngelap. Pertama kali juga kulakukan di rumah ini.


"Tumben pegang piring basah," sindir Vano. Aku emang jarang banget cuci piring. Hampir semua pekerjaan Vano yang handel.


Dua orang tua itu bermesraan di depan TV. Mereka bahkan berciuman gak canggung. Mataku panas melihatnya. Bukan cuma mata, tapi tubuhku merinding aneh.


"Udah ah Mas, lanjut dikamar. Gak enak sama anak anak," kata Mama.


"Mereka udah nikah, udah boleh ngapa ngapain kenapa harus malu?" kata Papa. Mama menyeret Papa ke kamar Vano. Aku cuma geleng geleng kepala.


"Aku kok iri dengan orang tuamu," kata Vano.


"Mereka masih hot, padahal udah punya anak secantik ini," lanjut Vano sambil merengkuh pinggangku. Cucian piring kami emang udah beres. 


Vano menciumi pipiku kemudian turun ke leherku. Tangannya sudah aktif menggerayangi punggungku. Menyusup dibalik kaosku. Ini lebih dari ciuman biasa. Vano sepertinya terpancing dengan aksi orang tuaku. Aku mengelak, mundur beberapa langkah.


"Aku mau tidur," kataku dan berlalu masuk kamar. Aku udah ganti hot pants gombrong dan tank top tali spageti. Baju tidur favoritku. Aku ingat Vano yang harus tidur di sofa. Kok ya kasihan juga.


Aku keluar kamar. Ruangan depan kamar sudah gelap, tapi masih ada cahaya dari hp Vano yang menyala. Aku menghampirinya. 


"Tidur di kamarku, kamu gak akan nyaman tidur disini," kataku. Vano diam saja, tapi mengikutiku ke kamar.

__ADS_1


Aku meletakkan dua guling di tengah. Menata dua bantal berjauhan.


"Tapi gak boleh macam macam. Atau balik lagi sana tidur disofa," ancamku sama Vano. Dia cuma nyengir.


Aku tidur membelakanginya. Tak berapa lama langsung terlelap. Aku terbangun karena geli. Vano menciumi pundakku dan menurunkan talinya.


"Noo, aku mau tidur," rengekku.


"Tidurlah," kata Vano, tapi tangannya aktif menggerayangiku. Semakin lama semakin berani. Dia sudah melonggarkan dalamanku dan meremas dua bukit dari balik kaosku. Des sah han lolos dari mulutku. Vano mencium mulutku dengan ganas.


"Kamu semakin cantik La," bisik Vano sambil menggigit daun telingaku. Dia mengeraskan remasanya. Aku kembali mengeluarkan suara des sah han. Membuatku tersadar dengan apa yang kami lakukan.


"Nooo udah!!" kataku sambil menghentikan tangannya.


"Ayolah Sayang, udah nanggung," bisik Vano memelas. 


"Aku mau tidur. Udah! Pokoknya udah atau kamu mau tidur di sofa lagi," kataku sadis. Vano menghentikan aksinya. Berjalan menuju kamar mandi. Menutup pintunya dengan kasar.


Pagi datang. Seperti biasa Vano duluan bangun. Bajuku masih berantakan sekali. Astaga… apa yang Vano lakukan semalam? Aku malu dan merinding sendiri kalau mengingatnya. Kulihat ada bercak merah di leherku. Aku mengumpat kesal saat melihat cermin. Keterlaluan!!! Kalau banyak begini bagaimana caraku menutupinya? Ada orang tuaku lagi.


Aku keluar kamar udah mandi, udah aku dempul semua bercak yang terlihat. Kulihat Vano dan Mama lagi masak sarapan. Aku duduk diam memperhatikan dimeja makan.


“Astaga La!! Kamu ini cewek, tapi malah duduk nonton seperti itu. Bantuin suamimu masak. Kamu gak malu kalah pinter masak sama dia?” omel Mama karena aku sibuk menonton saja.


“Biarkan saja Ma, itu cara dia mengagumi Vano. Mungkin Vano terlihat ganteng saat masak seperti ini,” kata Vano percaya diri.


“Setiap hari dia menonton seperti ini?” tanya Mama kaget. Vano hanya mengangguk. Mama langsung tepok jidat.


“Dan kamu tahan dengan wanita seperti ini?” tanya Mana pada Vano.


“Tentu, dia wanita yang saya pilih dan saya minta,” kata Vano sok romantis. Aku melengos saja. Kuambil pisau cadangan dan mulai membantu. Biar Mama anteng gak cerewet.


Sebenarnya benar kata Vano. Dia itu sexy sekali kalau lagi masak. Aku rela bangun pagi untuk melihatnya masak ini itu. Aku suka melihatnya sibuk dengan api di hadapannya. Aroma masakan menguar di sekeliling tubuhnya. Itu kebiasaan baruku selain bikin kotor di rumah ini. Kami sarapan dengan tenang. Mama menceritakan tentang kerinduannya pada Hector. Anak itu sudah mulai pendidikan TNI nya.


"Mama kangen anak anak Mama, satunya di Jogja, satunya pendidikan. Huft... Mama merasa sepi," kata Mama sedih.


"Main kesini Ma, sekarang Vano juga anak Mama kok. Vano janji, kalau gak sibuk akan ajak Lala pulang tiap minggunya,” janji Vano pada Mama. Cih, siapa yang mau pulang tiap minggu sama dia batinku.

__ADS_1


__ADS_2