Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Dia pelakunya


__ADS_3

"Tuliskan salam perpisahan untuk semua orang. Akui kalau kamulah pembunuh Farel!!" kata Lola tepat di telingaku. Dia mengeluarkan kertas dan pulpen dari dalam tasnya. Mendorongku berlutut dilantai menghadap meja ruang tamu dengan kasar. Ujung pisau sudah melukai bahu kiriku sedikit. Aku tahu persis siapa pembunuh Farel.


"Kenapa? Apa salah Farel padamu?" tanyaku. Aku ketakutan, tapi juga penasaran.


"Tulis dan jangan banyak bicara!!" bentak Lola. Aku pun menuliskan apa yang dia inginkan. Dia menduduki kedua kakiku dengan berat tubuhnya. Benar benar membuatku tidak bisa berkutik.


Satu tangannya memegang pisau, satu tangannya membekap tubuhku. Hanya membebaskan tangan kananku untuk menulis. Aku terkunci oleh tubuh dan pisaunya. Sudah kucoba meronta, tapi posturku dan postur Lola berbeda jauh. Tubuh Lola itu dua kali posturku, entah tingginya, entah besarnya. Aku menulis tiap kata yang ingin dia tulis.


"Sekarang jelaskan kenapa kau bunuh Farel?" tanyaku setelah selesai menulis surat dibawah tekanannya. Aku mencoba menahan air mata yang sudah menggenang, mengaburkan pandanganku. Kakiku benar benar sakit terhimpit tubuhnya. Dia tertawa.


"Mungkin sudah waktunya baj jing ngan macam itu mati. Dan aku suka saat kamu dituduh menjadi pelakunya," kata Lola dengan kejam.


"Kenapa? Apa salah Farel dan apa salahku?" tanyaku lagi.


"Aku hamil anaknya, dan pacar dari masa kecilmu itu tidak mau bertanggung jawab. Aku rasa bagus jika cewek manja sepertimu yang bertanggung jawab. Sedikit kemalangan menimpa gadis kaya yang selalu beruntung. Cih, membuaku muak," kata Lola sambil lebih dalam menancapkan pisaunya di bahu kiriku.


"Kau iri denganku? Dan kau tidur dengan Farel? Aku tidak pernah berbuat salah padamu. Kita teman Lol, sudah seperti keluarga. Kau tega mengkhianatiku dan tidur dengan pacarku?!!" kataku membentaknya. Ada manusia seperti itu. Aku mencoba berkelit. Tidak berhasil. Dia justru semakin dalam menancapkan pisau di bahu kiriku. Aku mengaduh. Rasanya ada dua nyeri ditubuhku. Nyeri dari pisau yang dia tancapkan, juga nyeri dari hatiku karena dikhianati dengan begitu kejam oleh mereka yang aku kira orang terdekatku.


"Sakit yaa.... uhhh dasar anak manja.... sekarang biar aku pencipta nasib burukmu!!" kata Lola. Beberapa kali aku berteriak. Tapi percuma...... Lingkungan ini terlalu sepi saat jam kerja.


Lola menjatuhkan tubuhku kelantai. Pergumulan singkat terjadi, tapi lagi lagi aku kalah postur. Dia duduk diperutku dan mencekik leherku. Aku kehabisan nafas sampai pusing. Tanganku coba menggapai mukanya. Dia semakin keras mencekikku......


***


Aku melihat Farel berjalan menjauh. Kami masih menggunakan seragam SMP. Aku memanggilnya. Dia berhenti berbalik dan merentangkan tangannya menungguku. Aku berlari mengejarnya. Jaraknya tak terlalu jauh. Tapi sepertinya bumi yang kupijak memanjang. Aku sampai capek berlari. Nafasku ngos ngosan. Farel menarik rentangan tangannya, berbalik dan kembali berjalan meninggalkan aku..... Aku masih berusaha mengejarnya, namun nafasku semakin habis. Perlahan Farel menghilang. Aku membuka mataku, mengerjap pelan.

__ADS_1


"Bagus, tetaplah hidup Nak," kata Papa, kemudian beliau membopongku keluar rumah. Vano melihatku sekilas kemudian pergi. Rumah Vano ramai orang.


Aku dibawa dengan ambulan kerumah sakit. Luka di bahu kiriku dijahit. Kata dokter tidak merusak organ, namun cukup dalam. Aku dibius lokal, kemudian dijahit.


Aku keluar ruang operasi. Mama dan Hector menungguku. Mama langsung memegangi tanganku.


"Apa yang terjadi?" tanyaku bermaksud menanyakan apa yang terjadi pada Lola dan aku.


"Haaa dia amnesia? Dia gak ingat punya adik setampan aku?" Hector langsung nyahut. Aku malas berdebat nyeri di bahu kiriku sedikit demi sedikit terasa.


"Kau benar benar tidak ingat Nak?" tanya Mama khawatir. Aku menggeleng.


"Aku ingat Maa, aku cuma nanya apa yang terjadi setelah..... Lola mencekikku?" kataku sambil merinding hebat. Ini bukan kejadian yang mudah aku lupakan. Lagi lagi sesak dikhianati menjalar di dadaku.


"Mama gak tahu pasti. Yang penting kamu selamat dan bebas dari tuduhan. Itu udah bikin Mama bahagia dan bersyukur," jawab Mama, sambil membelaiku. Berusaha keras untuk tidak menangis. Aku juga berusaha mengabaikan semua perih dibahu dan dadaku.


"Memang tidak ada orang yang menyaksikan kamu pulang, untungnya cctv bisa membuktikannya," jelas Mama. Aku mengangguk saja.


Papa dan Vano menjengukku saat sore. Vano meminta Hector dan Mama beristirahat, lagi lagi menawarkan rumah mungilnya. Terjadilah pertukaran shift menungguku.


Papa keluar membeli makan malam. Tertinggal aku dan Vano.


"Apa yang terjadi No?" tanyaku pada Vano. Dia memandangku, kemudian duduk dikursi dekatku.


"Kau sungguh ingin tau? Atau kau sebenarnya sudah tahu, hanya memastikan hatimu?" tanya Vano. Membuatku terisak seketika. Air mata lolos tanpa bisa kubendung lagi.

__ADS_1


"Farel selingkuh dengan Lola.... Sampai Lola hamil, No... Mereka mengkhianati aku....... apa salahku? Bahkan selama ini Lola tidak tulus berteman denganku..... dia iri denganku...... dia...... sengaja membuatku terlihat melakukan itu........ itu...... jahat...... aku salah apa?" kataku sambil sesenggukan. Sudah kutahan seharian ini agar tidak terlihat terlalu mengenaskan didepan keluargaku. Gadis sial yang terluka, dikhianati sahabat dan pacarnya sendiri. Menurutku itu terlalu memalukan.


Vano membelai rambutku. Turun kepipi dan mengusap air mataku yang jatuh.


"Kau jelek kalau menangis. Sudah kerempeng, jelek, terbaring lemah seperti ini. Hentikan air matamu. Kamu yang sedang jelek ini tidak pantas menangisi sahabat dan mantan pacar jelekmu itu," kata Vano. Dia menarik tisu di meja sampingku.


"Nihh aku baik hati menghapus ingusmu," katanya sambil mengacak acak hidungku. Dia memang perusak suasana yang baik!!!


"Vano ihhh kau menyebalkan!!!" Kataku agak keras. Membuat nyeri dibahuku terasa menyiksa. Aku mengaduh dan memegangi bahuku. Mata Vano terlihat khawatir. Dia meniupi bahuku. Seolah tiupannya mampu meringankan nyeriku. Wajah kami berdekatan sekali. Dia mengangkat wajàhnya. Hembusan nafasnya terasa dipipiku. Bibirnya mendrat sekilas di atas bibirku.


"Sembuhlah dulu sayang, baru kau bisa berdebat denganku," bisiknya mesra, tapi menyebalkan. Dia berbalik memandangi jendela kamarku. Terlihat beberapa kali menghembuskan nafas panjang. Aku yakin dia sedang nenenangkan diri untuk tidak menciummu lebih.


Papa datang dengan dua porsi makan malam untuk mereka.


"Mau makan juga Nak? Kamu belum makan dari siang," tawar Papa padaku. Makan malam dari rumah sakit emang belum aku sentuh. Menghadapi sifat menyebalkan Vano membuatku lapar juga. Akhirnya kita makan malam bertiga.


"Pak Revan pulang saja, biar aku yang menjaga Po," kata Vano usai makan malam.


"Hei, siapa kamu sampai mau menjaganya disini? Aku Papanya. Kamu yang pulang sana," usir Papa pada Vano. Yang diusir manut. Dia pulang tanpa banyak drama. Dia cuma minta bicara sebentar sama Papa diluar. Coba yang ngsir aku, pasti ngeyel aja dia gak mau pulang.


Esoknya Mama datang. Langsung mensibin aku dan merawatku dengan sayang.


"Pabrik Mama kocar kacir, Hector pulang menjembut mbak Nana, kamu nanti ditungguin mbak Nana disini yaa. Mama harus urus pabrik, Hector mulai seleksi masuk TNI. Kamu gak papa kan diurus mbak Nana?" tanya Mama. Aku mengangguk. Mbak Nana itu asisten rumah tangga yang membantu Mbah Marni dirumah.


"Gak masalah, asal ada yang menemani," jawabku. Mama tersenyum.

__ADS_1


"Kamu emang anak yang nerimo dan penuh pengertian. Terimakasih ya Nak," kata Mama.


"Oh ya, Papa mengurus barang barangmu. Kamu akan pindah kos. Emm..... pokoknya tetap menjadi anak penurut yaa. Mama sedikit kecewa kamu gak dengar kata Mama, bukankah sudah Mama larang pindah kos? Dan semua kebungkamanmu..... Membuat Mama terlihat tidak kamu percaya. Ini sedikit.... Menyakitkan," kata Mama. Aku cuma bisa nyengir kuda. Mama benar, orang tuaku pasti sedikit kacewa dengan sikap diam yang aku tunjukkan. Sikap diam yang ternyata membawaku pada nasib buruk untukku sendiri. Aku benar benar menyadari kebodohanku.


__ADS_2