
Vano….. ternyata sama saja dengan Farel. Semua pengkhianat!!! gak ada yang benar dengan semua lelaki di dunia ini!!! bodoh!!! Aku masuk kamar mengambil tas dan hpku. Bergegas keluar kembali. Berpapasan dengan Vano di ruang tamu.
"Mau kemana Sayang?" tanya Vano heran. Cihh dasar buaya. Bilang sayang ke aku, tapi habis nyium cewek lain. Bilang cinta dari balita, tapi selingkuh saat sudah menikah. Aku sudah mengomeli Vano dalam hati, tapi mulutku terkunci rapat. Vano memegangi tanganku. Aku berkelit dan buru buru keluar dari rumahnya.
"Setidaknya bilang mau kemana! Jangan seperti ini. Lala aku serius bicara sama kamu!!" kata Vano menghalangi jalanku. Kami sudah sampai di luar pagar rumahnya.
"Aku mau pulang. Aku gak mau sama kamu!! Aku mau pulang sendiri!!" kataku sudah berderai air mata. Bodoh!!! Kenapa aku harus nangis??? Aku menyeka air mataku dengan kasar.
"Aku salah? Kamu marah sama aku? Kenapa??" tanya Vano bodoh. Aku melewati Vano begitu saja. Dia berbalik menarik tanganku.
"Lala, sayang jangan begini. Aku salah apa jelaskan dulu,-"
"AKU MAU PULANG!!!" potongku keras pada Vano. Suaraku pasti terdengar sampai dalam rumah.
"Oke pulang, pulang kemana? Aku antar ya… ini sudah malam. Kamu istriku,-"
"Iya aku istrimu, tapi kamu bebas berciuman dengan orang lain!!!" sindirku pada Vano. Dia bengong sesaat. Aku berkelit melepaskan tanganku. Dia semakin menggenggam erat.
"Lepas!" bentakku. Vano bergeming. Menyeretku ke dalam rumah. Aku membelot. Dia dengan mudah menggendongku masuk rumah dan masuk kamarnya.
Aku kesal bukan main. Ingin aku berteriak kencang, tapi aku sadar betul aku dirumah mertua. Akhirnya aku hanya menangis diatas kasur. Vano berusaha memelukku. Aku terus menampiknya. Dia terus berusaha. Akhirnya aku menyerah. Aku menangis dipelukannya sampai tertidur.
Minggu pagi yang canggung. Kedua mertuaku tahu kami sedang bermasalah. Mataku yang sipit juga bengkak luar biasa. Aku memutuskan pulang ke Jogja. Dengan atau tanpa Vano.
"Ibu gak tahu masalah kalian, tapi Ibu harap cepat selesai," kata Ibu Mertua saat aku pamit. Vano ternyata ikut pamit. Kami pulang dalam keheningan yang panjang. Aku memilih untuk tidak peduli, bukankah aku tidak menyukai Vano? Aku akan terus seperti itu. Aku gak mau Vano. Sudah cukup!! Itu bukti dia tidak serius mencintaiku bukan?
"Aku bisa jelaskan. Aku mau bicara," kata Vano saat kami tiba di rumahnya.
"Kamu gak usah ngomong. Udah anggap aja aku gak lihat. Kamu boleh ciuman sama siapa aja. Aku gak peduli, karena aku gak cinta kamu!" kataku menegaskan kalimat terakhir.
"Gak cinta tapi cemburu?" tanya Vano. Senyum sudah terbit dari bibirnya.
"Siapa yang cemburu? Aku gak!! Terserah kamu mau nyipok siapa. Terserah….. aku gak peduli!! Bubarkan saja semuanya aku gak peduli!! Aku juga mau cari cowok lain. Setidaknya yang konsisten dan tidak menyebalkan!!" jawabku. Rahang Vano mengeras. Dia nampak tidak suka dengan kata kataku.
__ADS_1
"Akui saja lah Lala, kenapa harus membohongi diri sendiri? Terus terusan bilang gak cinta, gak peduli. Aku juga gak sesabar itu nunggu kamu terus terusan!" Vano ikut ngegas.
"Kalau gitu kenapa harus ditunggu!! Aku gak pernah minta kamu tunggu! Aku gak pernah mau jadi istri kamu!" jawabku gak mau kalah. Vano diam menatapku dengan tatapan tajam. Aku balas tatapannya. Dipikir aku takut? Vano menghentikan aksi saling tatap kami. Berlalu masuk kamarnya.
***
Seminggu lebih berlalu. Sikap Vano berubah dingin. Tidak lagi tidur sekamar denganku. Aku gak peduli. Dia dingin, aku mau jadi es sekalian! Terjadi aksi saling diam dan gak peduli. Kami bahkan tidak bertegur sapa saat sama sama dirumah.
Suara Vano mengganggu tidurku. Aku cuma mengerjap pelan. Semalam aku tidur cukup larut karena nonton drakor beberapa judul secara marathon.
"Lala!!!!! Astaga..... kamu bisa terlambat beneran!!" suara Vano entah untuk yang keberapa kalinya. Aku masih nyaman merem.
"Oke terserah, aku udah bangunin pokoknya!" kata Vano lagi. Dia membanting pintu kamarku cukup keras. Aku mengerjap kaget. Langsung tahu kalau aku akan terlambat banget.
Aku berangkat terburu buru. Gak sempat sarapan, cuma sempat mengambil sosis goreng dan telur yang dibikin Vano. Walaupun marahan dia tetap mengurus rumah dengan baik. Aku hampir jatuh saat keluar rumah buru buru. Vano menangkap tubuhku dengan sigap. Kami berpandangan sejenak. Aku kangen.... Aku kangen tatapan matanya yang penuh cinta memandangku.
***
Aku memulai perkuliahan di kelas tari, artinya joget joget sampai berkeringat dan belum sarapan. Pukul 10 aku sudah lapar sekali, tapi kelas tari belum berakhir. Haa tentu saja karena aku gak sarapan tadi.
"Woooo Cowok ganteng bestie," kata Lisa temanku.
"Badan tegap, potongan cepak. Kayaknya abdi negara, sexy ya," komentar yang lain. Dasar cewek cewek ganjen! Aku langsung mendatangi Vano.
"Ngapain disini?" tanyaku begitu sampai di hadapannya. Dia menyodorkan bungkusan makanan tanpa berkata apapun. Aku agak terkesima dengan perhatiannya. Nita datang tergopoh gopoh.
"Maaf Mas, udah lama nunggu?" tanya Nita. Vano tersenyum sambil menyerahkan STNK.
"Makasih Mas," kata Nita sambil menerimanya.
"Sama sama, bilang sama temanmu untuk makan. Aku gak mau ditelpon gara gara dia pingsan belum sarapan." kata Vano lekat menatap Nita, tapi aku tahu benar kalau dia menyindirku.
"Permisi," kata Vano pergi menuju mobilnya.
__ADS_1
"Lagi ngambekan?" tanya Nita sambil nyengingis.
"STNK apa itu?" tanyaku pada Nita. Gak mau membahas Vano. Dia bilang itu STNK motornya yang kena tilang beberapa waktu lalu. Dia minta teman Vano yang mengurusnya.
"Tapi malah Mas Vano yang datang," jelas Nita. Aku cuma manggut manggut.
Aku makan sejenak sebelum lanjut kelas make up karakter. Nita sudah duluan masuk kelas. Di kelas teman temanku heboh cari tempat. Kami akan melangsungkan sendratari ramayana, tapi kampus ini cukup sesak dengan banyak mahasiswa. Ini musim penghujan. Kalau latihan di tempat terbuka dan malam hari gak yakin juga. Yang ada kami cuma nongkrong dipinggiran karena kehujanan. Gak jadi latihan.
"Pendopo udah sesak sampai malam, halaman juga full. Kita mau latihan dimana?" kata Santi gusar.
"Pada bisa manjat gak? Latihan di atas genteng biar keren," jawab Yudi ngasal. Aku yang paling dekat dengan Yudi langsung mengetuk kepalanya. Kami cekikikan bersama. Dosen datang, pembicaraan tentang tempat latihan terjeda.
Usai kelas kami berkumpul lagi membahas tempat latihan Nita nyeletuk dengan santainya,
“latihan di rumah suamimu saja.” kata Nita sambil menyenggolku.
“Suami???” beberapa temanku berkata kompak mirip paduan suara. Aku cuma bisa nyengir kuda. Kujelaskan pada mereka kalau aku udah nikah siri. Beberapa temanku kaget. Pertanyaan pertanyaan koplak muncul. Dikira aku hamil sampai jadi gadis penebus utang.
"Aku nikah sama anak teman papaku. Biar ada yang jagain. Gak hamil dan bukan gadis penebus utang tentu saja. Kamu kira hidupku kaya sinetron ikan terbang? Kejadian Lola membuat keluargaku sedikit takut melepasku sendiri melanjutkan sekolah. Jadilah pernikahan ini," jelasku. Teman temanku manggut manggut. Usai menjelaskan kutabok kepala Nita yang udah ember. Dia nyekikik saja.
"Suaminya gak sembarangan gaes, perwira polisi di polsek B," Nita ember lagi.
"What?? Yang tadi kalian temui di halaman?" tanya Lisa kaget. Nita manggut.
"Itu pun katanya Lala gak cinta tuh," kata Nita lagi. Aku gak tahan buat miting lehernya.
"Cerai aja kalau gitu La, nanti aku rela mengisi hati pak duda," komentar Lisa ngawur. Aku gak bisa janjiin latihan tempat Vano. Kami saja baru perang dingin.
***
Aku pulang kerumah, kulihat mobil Vano sudah terparkir rapi. Tumben pulangnya duluan dia. Biasanya juga pulang larut, balik lagi kerja pagi. Vano duduk sambil main Hp. Baru mau buka kamarku. Ada wewe muncul dari kamar Vano.
'Nanti malam makan apa Mas? Aku bisa memasak walaupun....." Rita keluar dari kamar Vano. Rambutnya basah terlihat habis mandi. Aku tajam menatap Vano. Yang ditatap santai saja.
__ADS_1
"Eh, Mbak Lala udah pulang kuliah," kata Rita sambil menggantung tangan. Menunggu sambutan tanganku. Kami pun bersalaman. Entah dia ngomong apa lagi aku gak peduli. Aku cuma manggut manggut sambil masuk kamarku sendiri. Mandi biar ademan dikit. Emang siapa yang panas?