Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Akhir


__ADS_3

Dia tegak dengan senjatanya. Aku agak merinding. Baru pertama itu aku melihat. Sebesar itu masuk kedalam? Apa yakin seperti itu? Baru aku bayangkan sebuah benda asing menerobos dengan perlahan. Aku memekik kesakitan.


“Kaaaakkk!!!!!” teriakku keras. Vano tidak peduli dia terus memasukkannya dan berdiam. Air mata mengalir membasahi pipiku. Vano menjilatinya dan mengecup bibirku.


“Kamu…. sudah milikku seutuhnya,” kata Vano mulai bergerak perlahan.


***


Pagi datang. Tubuhku remuk dan semakin masuk angin. Ada yang aneh di bawah sana. Rasanya bergerak pun sakit. Vano juga kesiangan pagi ini. Dia menelpon atasannya dan ijin gak masuk. Semalam entah berapa kali aku gak bisa menghitung dengan benar.


“Kamu mau makan apa Sayang?” tanya Vano sambil meremas benda kesukaannya. Aku menggeliat dan berusaha menepisnya, tapi tangan Vano terus menempel disitu seperti ada lemnya.


“Aku gak selera makan, aku mau tidur saja,” kataku sambil menarik selimut menutupi tubuhku yang masih polos. Vano gak rela. Dia justru menarik selimutku dan terjadi lagi apa yang kami mulai malam tadi. Keringat kami sudah bercucuran. Hari sudah beranjak siang. Aku semakin lemas dibuat Vano.


Vano mengangkat tubuhku ke kamar mandi. Kami mandi bersama berpangkuan. Seperti pose belajar gitar dulu.


“Tubuhmu semakin panas Sayaang,” kata Vano.


“Gimana gak panas kalau masuk angin, tapi semalaman harus telann jjang!” kataku kesal. Vano cuma tertawa bodoh. Dia menyalakan kran air panas lagi.


“Ini yang terakhir untuk hari ini, Aku janji besok lagi,” katanya dengan tangan yang sudah tidak bisa dikondisikan.


“Emoh… Kak!!!” protesku tidak didengar.


Seharian itu dihabiskan Vano dengan merawatku dengan benar. Pijat dan kerokan juga dalam arti yang sebenarnya. Bukan cuma modus seperti kemarin malam. Sore hari badanku sudah enakan. Sudah tidak terasa dingin dan panas lagi. Kami makan di angkringan langganan dekat rumah. Kemudian muter muter kota indah ini sambil beli kebutuhan dapur. Berbelanja bersama mirip suami istri beneran. Heiii dia emang suamiku beneran kan.


***


Beberapa minggu berlalu….

__ADS_1


Sendratari kami digelar. Gedung kesenian itu sudah penuh penonton. Kejutannya Mama dan Papaku datang ikut menonton. Aku sampai terbengong sebentar diatas panggung saat melihat mereka. Vano pasti memberitahu mereka untuk datang, karena aku gak pernah kasih tahu.


Acara berlangsung sukses. Vano mendatangiku saat aku melepas kostum di belakang panggung.


“hebat!” pujinya sambil mencium sekilas keningku. Teman temanku langsung men cieh cieh. Aku jadi malu sendiri.


“Kamu kasih tau Mama dan Papa buat datang?” tanyaku pada Vano. Dia mengangguk.


“Papa yang minta dikabari tiap kamu ada pertunjukan. Beliau ingin menebus rasa bersalahnya dulu saat bertugas, karena tidak bisa menonton,” jelas Vano. aku jadi terharu.


Kami pulang berempat. Vano seperti biasa jadi sopir dan aku ada disampingnya. 


“Waa ada yang berubah, kamar ini sudah tidak terawat lagi,” kata Mama sambil ketawa ketawa. Saat beliau masuk ke kamar Vano. Aku pura pura gak dengar. 


“Sukses No?” tanya Mama tanpa malu. Vano cuma senyum senyum.


"Ini stodio yang cantik," kata Mama.


"Kalau Bandung Bondowoso membuktikan cintanya dengan candi, aku membuktikan cintaku dengan stodio ini Ma," kata Vano. Aku nyekikik dibuatnya. Kebiasaan Vano sebelum tidur adalah mendengarkan dongeng pewayangan dariku. Mirip bocah. Wajar jika dia akrab dengan pewayangan sekarang.


"Bukti cintamu terlalu gombal No, sana buktikan cintamu di depan atasanmu. Bukan suruh Papa yang mengurusnya," kata Papa. Kali ini Vano yang nyengingis. Papa dibuat repot sama Vano agar diperbolehkan nikah kantor tanpa dihukum. Sejatinya seorang abdi negara tidak disarankan nikah siri sebelum ijin nikah diperoleh dari kantor. Vano sudah melanggar aturan itu.


***


Beberapa bulan berlalu….


Aku dan Vano baru saja menyelesaikan nikah kantor di kantor Vano. Keempat orang tua kami juga ikut. Akhirnya kami makan siang bareng di sebuah restoran iconic di kota ini. Orang tua kami sibuk bergurau. Vano meletakkan tangannya di bahuku dan mengusapnya pelan.


“Aku mencintaimu,” bisiknya di telingaku. Papa langsung berdehem.

__ADS_1


“Ayo pulang para orang tua, tinggalkan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta ini berdua,” perintah Papa pada semua orang. 


“Dimabuk cinta!!!” kataku protes. Mereka cuma tertawa dan benar benar meninggalkan restoran, karena acara makan itu sudah selesai.


"Jangan lupa untuk pulang sehari sebelum hari H," Mama mengingatkan. Aku dan Vano manggut manggut.


***


Upacara pernikahan digelar cukup mewah. Aku mengundang teman teman kampusku untuk datang. Kebetulan ini liburan semester untukku. Vano sudah memikirkannya matang matang sebelum memilih bulan ini. Benar benar planner sekali. Upacara pedang pora digelar. Aku diantar kesamping Vano. Bersanding dengan Vano dengan jas kebesarannya. Vano tersenyum menunggu aku.


Ini…. Seperti bayangan Vano yang kulihat di pendopo saat aku nari Bedhaya Ketawang. Vano yang tersenyum dengan jas hitam. Astaga….. tarian itu memang tarian sakral. Bahkan aku langsung diberi gambaran pasti saat mempertanyakan jodoh saat menari.


Aku memakai gaun soft pink yang menjuntai indah. Aku harus mengakui selera Rita kali ini. Aku sangat menyukai gaunnya.


“Ini mimpiku dari kecil, aku gak nyangka bisa menikahimu," kata Vano sebelum kami memasuki gapura pedang.


"Tetaplah bermimpi Ipda Vano. Rangkai mimpimu bersamaku," jawabku. Kami melintasi gapura pedang sesuai tradisi. Musik dan puisi magis mengiringi langkah kami. Vano tegap dengan langkah pasti sambil menggandengku. Sebuah upacara kemiliteran yang mengharukan. Di depan sana kulihat empat orang tua kami hadir. Sekilas aku melihat mbah kung diantara Papa dan Mama. Tersenyum menatap kami. Mungkin hanya bayanganku. Akan tetapi itu bayangan yang aku sukai.


Kejutan datang untuk Vano. Aku berganti baju tari. Dan menari untuknya. Tarian yang aku ciptakan sendiri. Menggambarkan kebencianku awal aku bertemu dengannya, sampai pada aku yang jatuh cinta dengan kesabarannya.


Hector datang terlambat dengan baju hijau khas taruna angkatan darat. Naik ke panggung dengan gagah. Memeluk aku dan Vano bergantian.


"Haaa manten udah basi kalian ini. Aku yakin malam pertamanya udah dari dulu. Pantes baunya apek. Gak wangi manten," kata Hector ngajak ribut.


TAMAT


Haiii saya Utiyem. Terimakasih untuk para pembaca yang menemani cerita receh ini. Kedepannya saya berjanji untuk menulis dari hati. Bukan sekerdar nafsu untuk sukses didunia novel yang saya cintai sejak saya beseragam merah putih.


Terimakasih untuk Iptu xxxx yang namanya gak mungkin mau disebutkan. Yang ternyata diam diam menginstal aplikasi novel ini demi saya. Hahaha saya senang anda menjadi pembaca setia saya walaupun gak pernah komen dan ngelike 1 bab saja. Anda adalah pembaca gelap yang saya sukai.

__ADS_1


__ADS_2