Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Introgasi


__ADS_3

"Aku meninggalkannya dalam keadaan hidup. Aku melihat Farel dikaca sepion motorku. Dia masih bisa berdiri didepan gerbang kos," kataku mengakhiri cerita terakhir aku ketemu Farel. Vano diam mendengarkan baik baik.


"Jadi kau memukulnya dengan sapu, sampai pelipisnya berdarah. Itu saja?" tanya Vano. Aku mengangguk.


"Lalu kamu pulang ke Solo. Ada yang melihat kamu pulang?" tanya Vano. Aku menggeleng. Vano terlihat putus asa. Dia menghembuskan nafas kasar.


"Artinya kamu gak punya alibi, Po," kata Vano sambil bersandar dikursinya.


"Apa kamu percaya aku membunuhnya?" tanyaku balik. Vano tersenyum.


"Entalah, disini aku harus objektif. Siapapun bisa jadi tersangka," jawab Vano.


"Tapi aku tidak pernah melakukannya!!! Untuk apa?? Farel itu teman, sahabat sekaligus pacar. Kami kenal sejak kanak kanak. Kami seperti sodara. Kamu tahu itu. Aku bahkan gak percaya Farel udah..... udahhhhh....." aku gak sanggup lagi berkata kata. Tangisku pecah begitu saja. Aku menangis sesenggukan.


"Sudah," hibur Vano. Aku belum bisa menghentikan isakan. Vano mengetuk ngetukan jarinya.


"Sudah, hentikan tangismu. Aku tidak ingin terlihat tidak profesional," Vano mengoceh lagi. Aku belum bisa berhenti. Dari tadi aku cuma diam. Baru ini aku bisa menangis hebat.


"Biar .... aku.... Nangis No..... biar dulu...... Rasanya sakit," kataku ditengah isakan.


Vano berdiri dari kursinya. Berjalan mondar mandir diruangan itu. Bodo amat. Aku masih sesenggukan sambil telungkup dimeja. Tiba tiba Vano mendatangiku. Mengangkat tubuhku untuk berdiri dan memeluku erat. Aku semakin keras mengangis didadanya.


"Lihat! Kau berhasil membuatku tidak profesional Sayang," bisik Vano ditelingaku.


"Tenanglah Sayang. Aku akan berusaha keras agar kau cepat keluar dari sini. Aku.... percaya padamu. Kamu tidak mungkin melakukannya. Turur berduka untuk kehilanganmu," bisik Vano lagi sambil mengelus rambutku dengan sayang.


Pintu terbuka. Vano langsung melepaskan pelukan kami. Seorang polisi dengan seorang yang pakai jas dan dasi. Necis sekali penampilannya.


"Wow, apa ini tindak pelecehan?" tanya orang yang pakai jas tadi.


"Polisi itu humanis, dia menangis tanpa henti. Mengganggu penyelidikan," jawab Vano. Orang tadi ternyata bernama Tomy. Pengacara yang dipilih keluargaku untuk mendampingiku.

__ADS_1


Aku kembali di cecar berbagai pertanyaan. Kali ini Vano serius melakukannya. Konologi pertengkaranku dengan Farel. Terakhir aku melihatnya dan masih banyak lagi. Termasuk tentang asal usul cunduk mentul yang ditemukan di kamar kosku. Bahkan dimana aku menyimpannya. Diulang ulang sampai bosan. Dibiarkan menunggu lama. Ditanya lagi sampai bosan.


Aku pusing sekali. Mengurut kepalaku sambil tengadah di sandaran kursi. Pak Tomy tersenyum. Beliau terlihat sangat santai.


"Begitulah cara mereka bekerja Nak, tenanglah. Ini segera berakhir," kata Pak Tomy. Aku cuma meliriknya sekilas.


Akhirnya aku dibebaskan. Pak Tomy tersenyum lega. Kami beriringan keluar ruangan. Pak Tomy tertawa sendiri. Aku sedikit ketakutan. Apa dia tidak waras? Batinku. Dia menoleh kearahku.


"Maaf, maafkan aku Nak, bukan aku menertawakan kasusmu, tapi.... kau terlalu mirip dengan mamamu itu. Hahahaha..... wajah kalian, kelakuan kalian.....yaaaahhh... Juga gak jauh jauh amat. Aku seperti dejavu masa masa aku kuliah dulu dengan mamamu," kata Pak Tomy. Beliau kemudian menepuk pundakku.


"Bapak teman mama semasa kuliah?" tanyaku. Pak Tomy mengangguk.


"Bisa dibilang mamamu yang membuat Bapak jadi pengacara," kata Pak Tomy sambil matanya menerawang. Rupanya dia teman dekat Mama saat kuliah.


"Tenanglah, kau bukan pelakunya. Bapak percaya padamu," kata beliau sebelum kami keluar. Aku cuma mengangguk.


Aku keluar dari ruangan sudah malam hari. Papa terkantuk menungguku di depan pintu saat aku berpisah dengannya. Aku langsung memelukknya.


"Tidak apa apa. Semua sudah berakhir, semua harus berakhir. Papa janji melindungimu sebisa Papa," kata Papa menenangkan. Hening.... Beberapa saat kami masih berpelukan.


"Ayo istirahat Nak!" ajak Papa kemudian. Kami beriringan keluar dari kantor polisi.


"Aku antar ketempat kalian," kata Pak Tomy. Papa mengangguk.


"Kau tau status Lala Van?" tanya Pak Tomy di parkiran. Ternyata cukup dekat juga dengan Papa.


"Aku tahu persis," jawab Papa sambil mengangguk.


Pak Tomy mengantar kami ke sebuah rumah. Papa langsung mengambil kunci diatas celah pintu dan membukanya.


"Kita istriahat disini dulu Nak," kata Papa. Beliau kemudian membuka satu kamar dan menyuruhku masuk.

__ADS_1


"Tidurlah. Berusaha untuk tidur. Jangan pikirkan apapun. Kita harus jaga kondisi. Percayalah kalau Papamu akan selalu ada untukmu," kata Papa sambil mengelus rambutku pelan. Mencium pelipisku dan berlalu meninggalkan kamar. Aku tertidur juga walau rasanya kepalaku mau pecah.


***


Aku terbangun karena pembicaraan diluar kamar. Melihat jam yang tergantung di dinding kamar. Jam 6 pagi. Aku tidur cukup lama ternyata. Aku kemudian menempel dipintu untuk mencuri dengar. Suara Vano dan Papa sedang berdebat.


"Kau pikir berapa kuat Lala sampai sanggup menyeret Farel? Lihat posturnya. Anak itu terlalu kurus untuk melakukannya. Ini sudah menjadi bukti kuat," suara Papa.


"Tapi Pak Farel juga kurus kering. Ini belum menjadi bukti kuat. Apalagi sidikya ada pada cunduk menthul itu," bantah Vano. Aku keluar kamar.


"Ada apa dengan cunduk mentul sebenarnya?" tanyaku sambil buka pintu. Aku penasaran sekali. Kenapa benda itu dipermasalahkan dari kemarin. Dua orang yang sedang berdebat itu terkejut melihatku.


"Lala, kamu sudah bangun Nak? Ayo sarapan dulu, Papa beli nasi gudeg enak tadi," ajak Papa sambil menarikku kedepan TV. Vano sibuk membereskan berkas yang berserak di meja depan TV. Dia terlihat acak acakan dan lelah.


Kulihat ada fotoku saat menari disamping TV. Aku heran sendiri.


"Rumah siapa ini? Kenapa ada fotoku saat menari?" tanyaku sambil menyuap sarapan yang dibukakan Papa. Aku lapar sekali, kemarin diberikan Vano makanan, tapi aku sama sekali gak selera makan diruang introgasi. Alhasil seharian kemarin aku gak makan. Aku melihat dua orang lelaki yang ikut membuka sarapan mereka. Belum ada yang mau jawab.


"Ini rumah siapa?" ulangku. Papa menoleh kearah foto.


"Entahlah, rumah psikopat yang menyukaimu mungkin. Siapa yang mengizinkan pemilik rumah ini menyimpan foto anaku?" tanya Papa. Matanya beralih memandang lekat Vano. Yang dipandang terlihat gugup.


"Itu.......cuma hiasan, dari pada..... gak ada hiasan sama sekali," jawab Vano gugup. Haaa ini rumahnya ternyata. Aku menghentikan makanku. Masih lapar, tapi tenggorokanku tercekat.


"Lalu apa hubungannya cunduk mentul dengan kematian Farel?" tanyaku lagi. Dua orang pria di depanku langsung saling pandang. Papa tidak berminat menjawab langsung melanjutkan makan. Aku melihat kearah Vano. Kami berpandangan sejenak.


"Cunduk mentul itu ditemukan tertancap didada Farel. Dan sidik jarimu ditemukan disana," jelas Vano. Langsung menghilangkan selera makanku semuanya. Aku meletakkan sterofoam gudegku dimeja. Mengangkat kakiku dan meringkuk.


Air mata lolos lagi dari mataku. Papa langsung memelukku. Menyandarkan kepalaku didadanya.


"Cunduk menthul itu tertancap tidak dalam ditubuh Farel, bukan menjadi penyebab kematian Farel, jadi tenanglah. Pembunuhnya sengaja menjebakmu. Apa kau punya musuh Nak?" tanya Papa sambil memegang lenganku. Melepaskan pelukan kami. Matanya lekat menatap mataku.

__ADS_1


__ADS_2