
Ternyata para senior juga unjuk bakat. Ada yang membacakan puisi, dance moderen, dan lain lain. Vano menyanyi Roman Picisan dengan gitarnya.
Tatap matamu bagai busur panah
Yang kau lepaskan ke jantung hatiku
Meski kau simpan cintamu masih
Tetap nafasmu wangi hiasi suasana
Saat kukecup manis bibirmu
Cintaku tak harus, miliki dirimu
Meski perih mengiris
Iris segala janji
Aku berdansa diujung gelisah
Di iringi syahdu lembut lakumu
Kau sebar benih anggun jiwamu
Namun kau tiada
Menuai buah cintaku
Yang ada hanya sekuntum rindu
Teman temanku langsung heboh tepuk tangan. Ada yang baper dengan nyanyian Vano. Pakai teriak teriak nyebut namanya lagi. Haaa.... Berasa artis lah dia.
"Kalau menurutku permainan gitarnya standar. Dia kayak pengamen menurutku," komenku saat teman temanku histeris. Langsung dapat protes dari beberapa orang yang menyebut aku jahat.
Acara usai. Para senior itu pun berterimakasih atas acara yang berlangsung meriah. Meminta maaf jika ada tindakan mereka yang membuat kami junior sakit hati. Acara di tutup dengan menyanyi disini senang disana senang bersama sama.
Aku kembali ke tenda setelah melepas segala atribut tari. Berganti dengan celana trening dan kaos sama seperti teman temanku.
"Cieh... yang dapat hasduknya Kak Vano." Kata Feby.
"Kamu mau? Nih buat kamu," kataku sambil nyodorin hasduk itu.
"Eh, ya jangan dong. Itu kan kenang kenangan," kata Feby mencegah tanganku. Teman temanku yang lain nyengir saja. Aku tahu ada beberapa tatapan iri.... Hahhh andai saja mereka mengenal Vano bukan dari wajahnya doang, tapi tindakannya yang menyebalkan.
__ADS_1
Pagi datang. Saatnya kami bongkar tenda dan beres beres sebelum apel penutupan. Ternyata telur yang dijaga dari kemarin katanya harus dimasak.
"Dibagi per semua anggota sangga," kata senior. Haaahhh ada ada aja.
Kami sudah bongkar tenda. Aku sudah merapikan barang yang aku bawa. Sebuah ember cangking sedang, ketel, dan panci kecil. Juga tas ransel full berisi barang pribadi. Tambah bawaan atribut tari sekarang.
Aku pulang menenteng itu semua. Menunggu mama menjemputku di pinggir jalan. Kulihat Farel juga menunggu jemputan.
"Capek Rel?" tanyaku sambil berdiri di sampingnya. Dia memandangku sekilas. Mukanya langsung berubah jutek.
"Capek lah... emang kamu. Gak capek habis dapat hasduk Kak Vano," katanya ngegas. Ini anak kenapa yak??? Dia juga pingin hasduk Kak Vano??
"Kok gitu omongnya," kataku sedih.
"Lha mau gimana lagi. Seneng kan ada yang naksir. Kak Vano itu naksir kamu tahu!! Makanya ngasih hasduk segala!!" katanya tambah jutek.
"Ih, muka muka nyebelin gitu kamu bilang naksir,-" kata kataku terputus.
"Aku udah dijemput," potong Farel menunjuk mobil ayahnya. Bergegas pergi meninggalkan aku. Gak nawarin tumpangan lagi. Padahal biasanya siapa dijemput duluan pasti nawarin tumpangan. Secara kami bertetangga. Itu anak kenapa yak.
Aku kering menunggu jemputan. Kalau boleh bawa HP sudah kutelpon mama. Ini udah telat banget. Teman temanku sudah dijemput semua. Bahkan para senior juga sudah bubar setelah apel lanjutan yang mereka gelar seusai para junior pulang. Motor Vano mendekat kearahku.
"Mau bareng?" tawarnya sambil tersenyum manis.
"Gak, aku dijemput mama," tolakku cepat.
"Boleh, mungkin mama lupa," kataku. Kemudian aku menyebutkan nomer mama yang kuhafal. Vano menempelkan hpnya ditelinga. Menunggu beberapa saat.
"Halo Tante, aku Vano anaknya Pak Dedi. Tante, ini Lala sudah pulang kemah, aku antar pulang yaa? Sekalian kok, aku juga udah pulang," kata Vano. Aku langsung melotot berusaha mengambil hpnya. Dia terus menangkis tanganku. Sambil senyum senyum mendengar suara mama.
"Enggak Tante, gak papa."
"Iya, beneran," katanya seperti meyakinkan mama.
"Oke tante, oke," kata Vano lagi.
"Maaa aku mau dijemput mama saja!!" teriakku. Vano memamerkan hpnya. Sudah terputus panggilan mama. Menyebalkan. Dia menyimpan hpnya di saku celana.
"Naik!!" perintahnya.
Dengan terpaksa aku berboncengan dengan dia. Sambil memangku ember dan teman temannya. Tas ransel Vano tetap disandang. Membuatku hanya dapat duduk sempit diujung jog. Bahkan sebenarnya aku duduk di besi belakang jog belakang.
Ada polisi tidur cukup tinggi di depan. Vano hanya ngerem sedikit. Membuat guncangan yang cukup hebat di jog belakang. Tubuhku yang cukup kurus membuat aku terpental keatas dan mendarat diaspal. Jatuh sambil ketimpa ember dan ketel.
__ADS_1
"Aaaww!!" teriakku cukup keras. Ada penjual bakso gerobak dan beberapa pembelinya melihatku jatuh. Mereka segera menolong.
"Ada yang sakit Dek?" tanya mereka padaku. Sakitnya enggak seberapa, tapi malunya luar biasa. Batinku.
Aku jatuh gak cantik banget. Keningku ketimpa ketel lagi. Dilihat banyak orang lagi.
"Pefffttt...... maaf Dek, gak bermaksud ketawa, tapi aku gak tahan," kata ibu ibu bikin nambah merah lah mukaku nahan malu.
Untung Vano menyadari aku jatuh. Vano berhenti dan putar arah dengan santainya. Sambil cengar cengir lagi.
"Dasar bocah, kenapa malah tiduran diaspal?" tanyanya tanpa rasa bersalah. Ingin kupukul kepalanya.
"Masnya gimana!! Bawa anak orang kok sampai jatuh!! Itu tasnya taruh depan. Barang adeknya juga taruh depan," kata ibu yang ketawa tadi. Akhirnya Vano baru menyadari tas ranselnya yang segede gajah itu makan tempat. Dia mengikuti saran ibu tadi. Ransel dan barang barangku semua ditaruh di bagian depan motor maticnya.
Di jalan dia menarik tanganku melingkari pinggangnya.
"Pegangan Po... nanti jatuh lagi," katanya sok perhatian. Ihhhhh nyebelin emang!!!
Sampai rumah, mama gak ada. Cuma ada Hector dan Mbah Kung.
"Makasih ya No, udah nganterin Lala pulang. Mampir dulu sini," kata Mbah Kung. Dan tanpa rasa malunya, Vano beneran mampir rumah. Ngobrol sama Mbah Kung dan Hector. Anak itu emang selalu nyambung ngobrol sama Hector. Aku masuk rumah dan membereskan barang barangku.
Aku minta antar Mbah buat ngembaliin atribut tari.
"Biar saya aja Mbah, sekalian pamit pulang." Vano kembali menawarkan diri.
"Gak mau!! Lala mau diantar Mbah," kataku cepat. Mbah Kung langsung memelototiku.
"Apa gitu yang namanya sopan La?" sindir Mbah Kung padaku. Aku langsung terdiam. Mbah Kung ternyata juga kurang enak badan.
"Gak papa kok. Gak ngerepotin. Ayo," kata Vano sepihak.
Aku boncengan lagi sama Vano. Lewat depan rumah Farel. Orangnya lagi duduk di bangku bawah pohon yang biasa kami panjat. Matanya mendelik lihat aku sama Vano boncengan.
"Mau jajan krepes dulu?" tanya Vano sambil nunjuk alun alun yang Minggu siang itu masih rame. Salon rias yang ku pinjam kostumnya emang dekat dengan pendopo tariku. Aku menggeleng.
"Antar aja aku pulang," jawabku singkat. Vano tetap berhenti di depan penjual krepes. Memesan tiga buah krepes coklat strawbery.
"Aku sering lihat kamu nari dipendopo itu Po," katanya sambil memandang pendopo tari tempat aku latihan.
"Baguskan tarian aku," kataku bangga memuji diri sendiri. Vano tersenyum dan mengangguk.
"Bagus, kamu selalu cantik kalau menari. Tadi malam juga," jawab Vano yang membuatku malu. Entah kenapa.
__ADS_1
Sampai di depan rumahku, dia langsung pamit pulang. Sambil menyerahkan dua krepes padaku.
"Yang satu buat Hector. Jangan dimakan sendiri," katanya. Kemudian tancap gas pergi.