Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Galau


__ADS_3

Farel mengajakku jalan jalan malam ini. Kami duduk di lapangan kota setelah makan malam.


"La, kamu kemarin pulang kerumah kan?" tanya Farel. Aku mengangguk.


"Sempat lihat bundaku gak?" tanyanya aneh.


"Kamu kangen? Kalau kangen pulang aja," kataku sambil menoleh pada Farel. Dia menghembuskan nafas. Menengadah kelangit yang bertebaran bintang. Malam ini memang cerah.


"Nantilah.... aku masih suka disini," kata Farel.


"Ngapain disini? Enak pulang deket sama keluarga. Masalah yang lalu biar berlalu," kataku meyakinkan.


"Bunda pasti juga kangen kamu kok," lanjutku. Farel menggeleng.


"Bunda kangen, tapi ayahku gak," katanya mantap.


"Siapa bilang? Emang kamu tahu?" tanyaku. Dia hanya mengangkat bahu.


Farel memeluk pinggangku. Kami duduk makin berhimpit.


"La, aku boleh pinjem uang lagi gak?" tanyanya. Sekarang aku serius melihat mukanya.


"Sebenarnya uang uang itu kamu apain Rel? Kamu-,"


"Kamu mau bantu gak? Percaya sama aku La, aku butuh uang lagi," potong Farel.


"Iya butuh uang, tapi buat apa? Liburan semester kemarin kamu butuh uang. Katanya nabrak, tapi motormu gak lecet. Kamu juga gak ada bekas luka sedikitpun. Kamu sebenarnya kenapa Rel?? Kenapa butuh uang terus? Buat apa? Bahkan tante sebenarnya ngasih kirim uang kan? Kamu bohong sama aku!!!" kataku panjang lebar. Farel diam.


"Pokoknya aku butuh uang La, kamu kan banyak uang. Pabrik mebel keluargamu tidak pernah sepi," kata Farel ngeyel.


"Gak, gak ada uang lagi!" kataku tegas. Dia pikir aku ATM berjalan apa?!!!


"Kamu beneran gak mau bantuin aku? Aku pacarmu lho," katanya.


"Kalau mau uang lagi kerja sana. Kamu janji buat kerja dan gantiin uang aku kan? Mana buktinya. Kamu cuma luntang lantung aja!!" kataku mulai meninggi.

__ADS_1


"Owww, kamu nagih sekarang??" kata Farel dengan mata menyala. Dia sekarang gampang marah.


"Kamu janji akan balikin. Dan itu bukan nominal yang kecil!!" kataku gak kalah melotot.


"Ber eng gsek!!! Baj ji ngan!!!" berani kamu nagih aku haahhh!!!" teriak Farel benar terbawa emosi. Beberapa orang pengunjung melihat kami. Aku jadi sedikit malu.


"Rel, ayo pulang. Kita jadi bahan tontonan," kataku mencoba sabar. Namun Farel justru semakin gila. Dia menampar pipiku kemudian pergi meninggalkan aku sendiri.


Aku tidak memanggilnya. Dia melaju kencang dengan motornya. Apa ini.... aku menyadari air mataku tumpah dengan derasnya. Aku tidak ingin terlihat bodoh. Berdiri dan segera meninggalkan tempat ini. Namun tiba tiba seseorang menyodorkan tisue dari belakang. Aku menoleh.... Vano. Aku menampik tisuenya, tapi langsung minta peluk. Persetan dengan orang orang yang menontonku. Aku benar benar dalam tahap hancur. Farel..... benar benar berubah. Perlakuannya kasar menyakiti tubuh dan hatiku. Aku senang melihat Vano disini. Setidaknya ada orang yang aku kenal yang bisa kupeluk.


Vano membalas pelukanku. Mengelus rambutku dengan sayang.


"Kita mirip adegan filem India. Ayo pergi... sebelum viral di medsos," kata Vano sambil melepaskan pelukan kami dan menarik tanganku pergi.


Dia bawa mobil. Terparkir tak jauh dari tempat kami berpelukan. Vano memeriksa pipiku sebentar begitu kami masuk mobil.


"Aku melihat tamparannya sekali di pipi kiri, tapi kenapa pipi kananmu juga ada bekas tamparan?" tanyanya. Aku bungkam. Vano tahu aku gak mau jawab. Dia mengusap sisa air mataku dan mulai menjalankan mobilnya pelan.


"Kamu kos dimana?" tanyanya setelah sekian lama hening.


Aku sampai kosan saat penghuni kost lain lagi ngerumpi di depan kamar.


"Ini kosku. Makasih sudah antar," kataku sambil melepas seat belt. Berlalu cepat masuk halaman kos.


"Weeee Lala diantar siapa kamu?" tanya Lola sambil melihat belakangku. Ternyata Vano turun dan mengikutiku.


"Dia.... temanku. Gak sengaja ketemu dijalan." Kataku. Vano maju menyalami Lola dan Nita. Berkenalan sendiri tanpa kukenalkan.


"Ganteng banget sih," Nita nyeplos.


"Iya kah Mbak? Wah, saya merasa tersanjung," jawab Vano percaya diri. Aku masuk kamar gak peduli.


"Udah punya pacar Mas? Kenal Lala dimana?" tanya Nita lagi.


"Kami temenan sejak kecil Mbak, waktu Lala masih imut imut dulu," jawab Vano.

__ADS_1


"Emang sejak kapan kita temanan?" balasku nyembul dari dalam kamar. Gak trima punya teman menyebalkan kaya dia. Vano tertawa keras. Dua orang sahabatku bengong.


"Lala kasar ihh.... ehh.... kenapa pipimu La? Kok kayaknya bengkak?" tanya Lola sambil memperhatikan wajahku. Hatiku kembali teriris teringat perlakuan Farel. Vano menggandengku masuk kamar dan menutup pintu kamar kosku. Memperhatikan sejenak kamarku. Aku sudah mewek lagi. Gak tahan. Ini..... sakit.


Vano mengambil handuk rambutku dan gelas plastik yang tersedia. Mengambil air panas dari dispenserku. Mendekat dan menempelkan handuk hangat itu ke pipiku.


"Aku sebenarnya menyarankan visum. Kamu gak usah cari saksi mata. Aku saksi matanya, tapi aku yakin kamu gak bakalan mau," katanya sambil mengelus pipiku pelan. Aku diam saja membisu.


"Ini lebih lama.... kamu sering ditampar gini sama dia?" tanya Vano sambil menunjuk pipi sebelahku. Lagi lagi aku hanya membisu. Vano merengkuhku dalam pelukannya. Lagi lagi air mata banjir begitu saja....


Kilasan tentang kenangan bersama Farel berdesakan. Pohon faforit kami, Farel yang selalu membelaku, Farel yang tersenyum menyaksikan pertunjukanku. Farel yang menemaniku ini itu. Antar jemput sekolah..... janjian kita jadian di tepi pantai. Semuanya berkilas bagai filem marathon di otakku. Aku sesenggukan dipelukan Vano.


"Dia terlalu baik dulu. Tapi juga terlalu jahat sekarang. Aku harus apa Noo?" tanyaku. Vano diam, menghapus satu satu air mata yang turun dari pipiku.


"Aku gak sanggup hidup tanpa Farel. Aku sudah menganggapnya kakak, teman, sahabat dan pacar. Ikatan kami sudah selama hidup kami di dunia..... aku..... aku gak nyangka dia berubah seburuk itu...." kataku terbata disela tangisan.


Vano semakin erat memelukku. Mengecupi rambutku banyak.


"Menangislah..... tumpahkan semua kesedihan padaku Sayang. Menangislah," katanya membuat aku semakin kencang menangis. Iya... aku hanya butuh menangis lama. Bersandar lama..... bahkan sebenarnya aku tahu Farel mungkin bermain wanita di belakangku. Tapi selama ini aku menutup mata. Berharap semua masih baik baik saja.


Entah sampai berapa lama aku menangis. Vano masih setia memelukku.


"Sudah yaa... matamu bisa bengkak kalau nangis terus. Sudah... kamu itu udah jelek, kerempeng, sekarang tambah mata bengkak. Mirip korban kdrt beneran," senyum jahil terbit dibibirnya. Aku melorok. Memelototinya dengan sebal. Melepaskan pelukan kami.


"Sudah bertahun tahun, tapi menyebalkanmu masih sama," kataku sebal. Dia tertawa.


"Aku bicara fakta Po, lihat dirimu... kamu memang kerempeng dan matamu bengkak," katanya sambil melihat bodyku. Aku menabok dadanya.


"Dan kau Vano.... kau lebih menyebalkan sekarang daripada dulu. Itu body shaming... aku bisa laporkan kamu," teriakku sebal. Dia tertawa makin keras.


"Ngapain ketawa terus? Kamu mirip orang gil,-"


Dengan cepat aku kembali direngkuh Vano. Bibirnya menempel dibibirku. Aku kaget, tapi ini terlalu cepat. Refleku menghindar memang buruk.


Tiba tiba pintu kamarku terbuka....

__ADS_1


__ADS_2