Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Kerikil


__ADS_3

Kami makan malam dengan sambal bawang geledek dan seafood. Kemudian nonton TV berdua sambil menghabiskan malam. Gak ada acara yang bagus. Akhirnya nonton kartun Beauty And The Beast. Aku nangis bombay saat Bell menangis melihat buruk rupa terluka. Membuktikan ketulusan cinta sejati Bell, walaupun seburuk itu wajah buruk rupa. Vano merengkuhku dalam pelukannya.


"Itu cuma dongeng, kartun lagi. Aku ingin memecahkan TVnya kalau begini. Entah TVnya yang menyebalkan, atau kamu yang cengengnya kebangetan," kata Vano sambil berdecak kesal.


"Itu mengharukan No, cinta yang benar benar sejati. Siapa yang tidak mau, siapa yang tidak terharu dan mupeng lihat kisah cinta sebagus itu," kataku sambil mengusap air mata. 


"Setiap orang akan terlihat indah dihadapan cinta sejatinya Sayang. Seburuk apapun tampilan fisiknya," kata Vano. Aku mengangguk. 


"Benar, sayangnya gak semua orang bertemu cinta sejatinya. Banyak rumah tangga yang hampa. Saling menyakiti walaupun berstatus suami istri. Sebenarnya Beauty And The Beast adalah refleksi dari cinta sejati bukan karena buruk rupa," kataku.


"Seorang wanita akan tampil semakin cantik kalau menikah dengan cinta sejatinya. Juga seorang pria, akan semakin ganteng dan terawat bila bertemu dengan wanita yang tepat," kataku puitis. Film kartun itu masih mempengaruhiku.


"Lalu bolehkah aku mencoba untuk menjadi cinta sejatimu Sayang? Aku tidak tahu apa yang bisa kujanjikan selain cinta ini, tapi ijinkan aku berusaha menjadi suami yang baik," kata Vano lekat menatapku. Hening… Vano serius menunggu jawabanku.


"Aku…. Masih mencintai Farel. Luka akibat dukaku belum mengering No. Semuanya masih terasa sangat baru. Aku belum bisa menerima cinta manapun, sedangkan hatiku masih terluka. Aku mohon pengertianmu," kataku jujur. Vano mengangguk. Dia terlihat kecewa.


"Tapi… aku akan mencoba menerimamu dalam hidupku. Aku akan berusaha keras," lanjutku sambil membelai alisnya yang tebal. Dia menggenggam tanganku dan mencium bibirku dengan lembut. Aku membalas ciumannya. 


Kami tidur berdua di kamarku. Vano gak mau pindah ke kamarnya sendiri. 


"Tapi aku gak mau digerayangi kaya semalam!!" peringatan keras pada Vano. Dia manggut manggut. 


"Aku borgol tanganku sendiri selama tidur," kata Vano lebay. Dia tidur dengan tangan yang bebas sambil memelukku.


***


Hubungan kami membaik. Vano sekarang lebih sering tidur di kamarku. Kami jadi saling berbagi kamar. Semua semua berbagi. Kadang makan sepiring berdua, minum teh secangkir berdua. Dia…. Partner hidup yang baik.


"Jangan lupa celana pendek dan cel@n@ d@l@m Sayang, aku gak mungkin minjem cel@n@ d@l@m Hector atau papa," Kata Vano. Kami bersiap pulang ke rumah Mamaku dulu, kemudian ke rumahnya. 

__ADS_1


"Beres, udah semua tinggal cus," kataku sambil mengacungkan jari jempol. 


"Good, ayo berdoa sebelum berangkat," kata Vano. Selain rapi dia itu ternyata sangat soleh. Bangun pagi gak pernah lupa sembahyang…. Lima waktu yang selalu disiplin dia jalankan. Ah, aku merasa semakin kesini dia semakin mempesona. 


Tiga jam lebih kami dijalan. Selain mulai weekend, perjalanan pakai mobil emang lebih makan waktu. Kami sampai rumah malam hari. Sudah ditunggu Mama dan Papa. Mereka senang sekali melihat kami pulang. Ngobrol sebentar sambil makan malam, kemudian istirahat masuk kamar.


Vano tersenyum saat melewati pintu kamarku.


"Kenapa?" tanyaku aneh.


"Di depan pintu ini aku pertama kali berani nyium cewek," katanya. Aku teringat kejadian beberapa tahun lalu.


"Kamu emang tukang sosor dari dulu No," kataku pada Vano. 


"Seperti ini?" tanya Vano sambil mencium bibirku. Kami berciuman dengan panas. 


"Udah," kataku menghindar. Lama lama aku butuh dari sekedar ciuman.


"Bolehkah aku minta waktu lebih? Aku… belum siap," pintaku pada Vano. Dia terlihat kecewa. 


"Aku tunggu, aku udah janji menunggunya," Vano berlalu masuk kamar mandi. Aku juga mau ganti baju tidur. Seperti biasa Vano tidur sambil terus menempel di tubuhku. Kadang aku sampai tidur mojok gak bisa bergerak. Vano terus mengejar tubuhku untuk berhimpitan. Benar benar kebiasaan tidur yang aneh.


Pagi datang. Aku menghabiskan sabtu pagi itu dengan bercengkrama dengan Papa dan Mama. Kemudian berangkat sama sama ke pabrik. Aku kangen suasana pabrik. Vano juga ikut. Kata Mama dia akan diperkenalkan sebagai menantu nanti. 


"Sejauh mana persiapannya No?" tanya Mama di mobil. 


"50% Ma, Rita menyiapkan semuanya dengan baik," kata Vano. Aku bengong.


"Persiapan apa?" tanyaku kepo. 

__ADS_1


"Kau tidak tahu Nak?" tanya Mama heran. 


"Jangan bilang kamu mau bikin kejutan untuk Lala ya No. Gak bisa dibikin kejutan, kalian harus latihan dulu!" kata Mama pada Vano. Ternyata mereka membicarakan resepsi pernikahanku dan Vano. Aku iya iyain aja. Aku malas membicarakannya. Vano tahu itu.


Sabtu itu kami habiskan di pabrik. Vano ikut Papa entah kemana. Aku sama Mama ikut ngekor jadi aspri. Vano datang saat jam makan siang. Membawa setumpuk map entah apa isinya. Mukanya cerah, sepertinya habis menang undian atau sejenisnya. Sabtu malam Vano mengajakku pindah nginep. Dia juga mau pulang ke rumahnya sejenak. Aku jadi canggung. Ini pertama kali aku kerumah Vano sebagai menantu.


“Bawa oleh oleh apa? Pakai baju apa?” tanyaku gugup sama Vano. Yang ditanya tertawa senang sekali.


“Kalau kamu mau gak pakai baju, gak usah ke rumahku. Kita habiskan malam ini disini sampai pagi,” Jawab Vano sambil mengedipkan mata. Dasar mesum!!!!


Sampai rumahnya Tante Winda menyambut kami dengan hangat.


“Tante apa kabar?” tanyaku basa basi. Aku gugup setengah mati.


“Kok tante?” Tante Winda protes.


“Eh, maaf Ibu maksudku?” kataku sambil senyum canggung. Vano malah tertawa ngakak. Seseorang keluar dari dalam rumah. 


“Ini kah Kakak Ipar dadakanku?” tanyanya sambil menyalamiku.


“Aku Rita Mbak, adik sepupu Mas Vano dari Pak De Dedi,” katanya memperkenalkan diri.


“Rita ini WO kalian nanti. Dia yang akan mengurus semuanya. Aaahhh…. Bagaimana Ibu bisa mengungkapkan? Ibu senang bukan Main. Vano sudah menikah dengan putri dari AKBP Revan,” kata Ibu sambil melirik Rita. Yang dilirik terlihat tidak suka. Ada apa?


“Kalian mau berdiri dan ngobrol saja? Tidak ada yang berencana makan?” Kata Ayah Dedi. Kami makan malam berlima. Walaupun suasana santai dan penuh humor, tapi aku merasa Ibu tidak terlalu suka dengan Rita. Kenapa? beberapa kali Ibu seperti sengaja memujiku dan menjatuhkan Rita. Bodo Lah…. yang penting aku disayang sama Ibu mertua, gak kayak sinetron di ikan terbang. Hihihihihi


Usai makan malam dan membahas sedikit soal rencana pesta, aku diantar ke kamar Vano. Kamar yang cukup rapi. Bahkan lebih rapi dari kamarku sendiri. Kamarku kalau gak dirapikan Vano bisa mirip kapal pecah. Hihihihihi


“Aku keluar sebentar. Aku mau ngobrol sama Rita soal berkas berkas pernikahan kita. Tidurlah, aku nyusul nanti,” kata vano sebelum meninggalkan kamarnya sendirian.

__ADS_1


Aku bosan. Mencoba tidur juga tidak bisa. Aku keluar kamar bermaksud mengakrabkan diri dengan siapa saja dirumah ini. Aku keluar ke ruang tengah, sudah sepi.  Sepertinya Ibu dan Ayah juga sudah masuk kamar. Aku melihat siluet orang diteras. Sepertinya vano dan Rita. Aku perlahan mendekat. Betapa terkejutnya aku melihat Rita mencium Vano. Suamiku itu perlahan meletakkan tangannya dipinggang Rita.


__ADS_2