Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Mbah Kung


__ADS_3

Beberapa bulan ini kondisi kesehatan Mbah Kung menurun. Kolestrol yang tidak terkendali membuat Mbah kung berkali kali harus dirawat dirumah sakit.


"Ternyata jantung Mbah juga bermasalah. Ada pembengkakan jantung dan beberapa masalah kesehatan lain. Kamu bisa tungguin Mbah sebentar La? Mama mau pulang sebentar ganti baju dan lihat mebel," pinta Mama saat Mbah untuk kesekian kalinya dirawat. Aku mengangguk.


"Pulang aja Ma. Lala bisa kok nungguin Mbah Kung disini," jawabku.


"Kamu bawa hp kan? Kalau ada apa apa hubungi Mama," kata Mama sambil menciumku, kemudian berlalu keluar dari ruang perawatan Mbah Kung.


Aku mendekat ke arah Mbah Kung. Lelaki tua itu tertidur. Aku mau Mbahku ini bangun. Kembali bercerita tentang dongeng dongeng pewayangan yang sangat menarik. Menemaniku menari, atau duduk mengukir di teras rumah.


Dulu kata mama, Mbah itu pemimpin mebel yang baik. Dia selalu rendah hati dan menyatu dengan karyawan. Sekarang mebel berpindah kepemimpinan. Mama mengambil alih sepenuhnya. Tidak muat lagi di halaman rumah. Mama akhirnya memindah mebel kesebuah bangunan tersendiri. Mbah Kung sekarang hanya mengkir sebagai pengisi waktu.


"Nduk," Mbahku membuka mata.


"Iya Mbah." Aku sedikit kaget. Buyar lamunanku tentang pria tua ini.


"Ambilin Mbah minum dong," pinta Mbah Kung. Aku segera mengambil air putih diatas nakas. Menancapkan sedotan dan memberikannya pada Mbah Kung.


"Mamamu mana?" tanya Mbah Kung setelah minum.


"Mama pulang lihat rumah, sama lihat pabrik sebentar," jelasku sambil memijit tangan beliau.


"Kamu bolos?" tanya Mbah Kung. Aku menggeleng.


"Aku udah pulang sekolah Mbah. Pulang langsung kesini. Nih masih pakai seragam," kataku sambil membuka jaket yang kupakai.


"Sekolah yang rajin. Jadi penari yang hebat. Kamu pasti sukses jadi penari nanti," kata Mbah Kung lirih. Beliau terlihat lemah sekali. Aku mengangguk. Entah kenapa ada haru menyelip begitu saja.


"Temani Lala menari Mbah. Mbah harus lihat setiap kali Lala menari. Biar Lala makin percaya diri," pintaku. Mbah ku tersenyum.


"Mbah akan selalu lihat Lala menari. Dimanapun Lala menari. Mbah suka tarian Lala," kata beliau. Nafasnya sedikit berat dari biasanya.


Papa datang masih dengan seragam polisi melekat. Menciumku sekilas dan mencium tangan Mbah Kung.


"Kenapa balik kesini?" tanya Mbah Kung. Papa tersenyum.

__ADS_1


"Aku bisa ijin Pak. Aku mau menemani Bapak disini," kata Papa.


"Kamu bisa ijin waktu Lala pentas Van, gak usah ijin sekarang," kata Mbah Kung masih membahas pentasku.


"Nanti Revan usahain ijin saat Lala pentas lagi," kata Papa menenangkan.


Sore itu aku habiskan di rumah sakit sama Papa dan Mbah Kung. Papa sempat bicara pada suster. Wajahnya berubah lesu. Ku tanya beberapa kali Papa gak mau bilang. Sampai Mama kembali dan aku disuruh pulang sama Papa.


"Nanti Papa balik lagi ke rumah sakit. Kalian di rumah berdua gak papa ya," kata Papa dimobil. Aku mengangguk.


"Oke Pa, Lala udah gede kok," kataku. Papa tersenyum.


***


Empat hari semua orang sibuk bolak balik RS dan kegiatan masing masing. Aku dan Hector langsung ke rumah sakit begitu pulang sekolah. Biasanya gantian sama Mama. Beliau akan pulang sebentar dan mengurus mebel. Yang paling ekstirm Papa. Beliau bolak balik kota kami dan Semarang. Pagi kerja berangkat dari sini. Pulang kerja langsung otw kesini. Semua ingin Mbah Kung sembuh dan sehat seperti sedia kala.


"Pooo.... Pooooo aku boleh masuk?" tanya Hector di balik pintu kamarku.


"Masuk Tor!" jawabku. Aku sudah beres ngerjain PR. Menjadwal buku pelajaran untuk besok.


"Po aku tidur sini yaa," kata Hector sambil bawa bantal guling dari kamarnya.


"Aku.... gak tau lah Po, malam ini rasanya beda. Aku sedih..... Mbah Kung......." Hector tidak melanjutkan kalimatnya. Ada perih mulai merayapiku juga. Kondisi Mbahku semakin memburuk empat hari ini. Tanpa terasa air mata mengalir. Kami sedih dalam diam. Hector meletakkan bantal gulingnya. Kemudian memeluk tubuhku. Kami saling berpelukan. Walaupun dia adiku, tapi tingginya sudah melebihi aku. Dia jangkung mirip Papa. Aku terisak di dada Hector.


Kami bangun pagi langsung ngecek hp. Gak ada kabar dari rumah sakit. Semua aman. Aku berharap Mbah Kung membaik.


"Pagi Mbah Mar," sapaku pada pengurus rumah tangga itu.


"Pagi Mbak, ada kabar dari rumah sakit?" tanya Mbah Mar. Aku menggeleng.


"Apa Pak Aji membaik?" tanya Mbah Mar penuh harap.


"Aku gak tau Mbah, aku juga berharap Mbah Kung membaik," kataku murung. Beliau nampak sedih. Bahkan pengurus rumah tangga saja menyayangi Mbah Kung ku dengan tulus.


***

__ADS_1


Aku berangkat bersama Farel dan Hector. Adiku itu kini juga satu SMP denganku. Numpang sama Tante Ine. Ketika bel masuk istirahat pertama berbunyi, guru BP memanggilku.


"Bawa tas sekalian Papa mu menjemput," kata guru BP. Deg....... Lututku gemetar. Papa?? Menjemput? Di jam sekolah??? Belum sampai ruang BP mataku sudah ber air. Kulihat Papa dan Hector berdiri didepan ruang BP. Mata mereka sama sama sembap. Aku langsung berlari memeluk Papa.


"Turut berduka Nak, Mbah kung ...... udah gak sakit lagi," bisik Papa di telingaku.


Kami pulang. Menunggu dirumah. Mama akan membawa pulang Mbah Kung dari rumah sakit. Air mataku tidak berhenti mengalir. Mbah Kung datang dan akan dimakamkan sore itu juga.


"Mbah, Mbah bilang mau lihat Lala menari di manapun. Kok Mbah malah pergi," kataku pada Mbah Kung yang sudah berada dipeti. Mama memelukku. Duka memenuhi rumah ini.


Farel datang sepulang sekolah. Bersama dengan teman teman yang lain. Aku membagi kesedihanku dengan Farel. Dia menemaniku sampai Mbah Kung selesai dimakamkan.


"Mbah Kung bilang dia akan lihat aku menari Rel, tapi dia malah pergi," kataku pada Farel. Setengah marah, setengah sedih pada Mbahku.


"Dia melihatmu kapan pun Laa, bukankah di surga mudah untuk melihat bumi?" kata Farel sambil memeluk pundakku. Mengajakku beranjak dari pemakaman. Mama dan Papa masih disana. Hector ikut pulang bersamaku.


"Sekarang aku yang akan melihatmu di manapun kamu menari. Aku akan menggantikan Mbah Kung," hibur Farel.


***


Sebulan berlalu.....


Aku membereskan kamarku dibantu Mbah Mar. Aku sudah ijin Mama mau pindah ke kamar Mbah Kung. Dengan begitu aku lebih merasa dekat dengan beliau.


"Torrrr .... Sentoooorrr.... bantuin angkat barang!!!" teriakku pada Hector. Dia datang setelah beberapa kali kuteriaki.


"Lama deh!!! Kamu kura kura atau manusia??" aku ngomel.


"Matamu udah rabun Po? Seganteng ini dibilang kura kura. Gantengan aku dari pada Farel mu itu." kata Hector gak mau kalah. Aku melemparnya dengan bantal. Dia sigap menghindar. Membalasku melempar dengan kaleng pensil. Tepat mengenai tengah keningku. Sakit......


"Awas kamu!!" kataku. Kami kejar kejaran dulu sebelum mulai memindahkan barang barangku.


Aku membuka lemari Mbah Kung. Berisi pakaian beliau. Aku menciumi bajunya. Aku kangen.....


Lama aku bergulat dengan kenangan Mbah Kung dan aroma tubuhnya. Aku melihat bawah lemari. Ada sejenis kayu ukir kecil. Aku mengambilnya. Ternyata ukiran patung penari. Di bawahnya ada namaku yang belum terselesaikan. Baru terukir Vanila Jean. Aku berlari ke ruang tengah. Mama Papa ada disana.

__ADS_1


"Mungkin ini untuk ulang tahunmu. Mbah Kung belum menyelsaikannya," kata Mama pilu. Benar juga.... ulang tahunku beberapa minggu lagi.


Papa mengutak atik patung ukir itu. Membuka slot di belakang namaku. Ada ruang rahasia disana. Sebuah kertas mencuat keluar. Berisi surat dari Mbah kung.


__ADS_2