Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Hector datang


__ADS_3

Aku jadi gak terlalu konsentrasi saat ujian gara gara Farel. Ujian tariku kali ini hasilnya gak memuaskan. Usai kelas tari, ada kelas teori makeup karakter. Kali ini kami harus bermakeup ala ala pengantin. Aku sudah disanggul Lola.


"Cunduk menthulnya mana La?" tanya Lola.


"Wait," jawabku sambil mengaduk aduk tas. Ketemu.... kotak berisi tiga cunduk mentul..... hadiah dari Farel. Aku memandanginya. Farel lagi, Farel lagi.


"Itu udah mau dipasang, atau masih mau dilihatin?" tanya Lola mengagetkanku.


"Eh, pasangin dong. Hati hati jangan rusak," kataku mengingatkan.


"Sepesial banget yaa?" tanya Lola.


"Dari Farel, hadiah saat seweet seventeen dulu," jawabku. Lola manggut manggut. Cunduk mentul kuno berujung lancip itu menancap di rambutku.


Aku pulang kekosan. Hector menunggu di depan kamarku. Aku mengucek mataku. Beneran Hector kok.


"Ngapain kesini?" tanyaku setengah terkejut.


"Aku habis ujian nasional. Mau cari suasana baru liburan disini sebelum seleksi angkatan darat dibuka. Kamu kok pindah kost Po? Bukannya Mama gak bolehin kemarin?" tanya Hector. Aku kebingungan menjawab.


"Gak akan ada yang tau kau kamu gak ember," kataku sambil buka pintu. Hector ikut nyelonong masuk. Langsung rebahan di kasurku.


"Aku nginep sini yaa, ada induk semangnya gak? Ijinin aku nginep sini. Aku bawa kartu keluarga kita kok," kata Hactor. Aku cuma nyengir menanggapi. Dia pasti shok kalau tau ini kosan las vegas.


Hector langsung jadi perhatian penghuni kost. Terutama Nita. Dia terus caper sama Hector sampai adiku muak.


"Po temenmu kaya Pee rrek," bisik Hector. Masih kedengeran Nita.


"Emang, kamu mau sewa aku?" jawab Nita membuat Hector shock. Mukanya jijik jijik heran. Aku ketawa geli.


Magrib tiba, ada suara orang teriak dari gerbang menyebut nama Farel. Aku dan Hector langsung berdiri. Semua penghuni kosan langsung grecep nguping.

__ADS_1


"Wesss cakep juga Lon ntenya Farel," kata orang itu sambil mendekat kearahku.


"Gue Bruno, mau nagih hutang Farel. Dia bilang lon ntenya yang kaya ngekos disini. Elu orangnya?" tanya orang itu sambil menatapku.


"Bang, sodara gue bukan lon nte ya!! Jaga mulut Abang. Dia juga gak ada hubungan apa apa sama Farel lagi. Lu tagih sendiri sama Farel!!" kata Hector nyolot.


"Siapa luu... bocah minggir... gue mau ngobrol sama cewek," kata orang itu mendorong dada Hector kebelakang. Hector sigap mengambil tangannya dan memutar lengan Bang Bruno. Menendang lututnya membuat Bang Bruno berlutut kesakitan. Bang Bruno bangkit. Mencengkeram bagian depan kaos Hector. Pergumulan singkat terjadi, tapi rupanya adiku itu pintar karate. Dengan mudah dia melumpuhkan Bruno yang badanya lebih besar darinya.


"Gue nanti balik lagi, awas loe!!" ancam Bang Bruno sebelum kabur. Mukanya babak belur, padahal Hector cuma berkeringat.


"Kamu gak papa?" tanyaku sambil memandangi Hector. Dia nyengir saja.


Malam hari aku dan Hector makan penyetan. Dia megap megap kepedesan, tapi gak mau berhenti ngunyah.


"Udah, diare kamu nanti," kataku mengingatkan.


"Enak Po, Mbah Mar gak pernah masak sambel bawang," Hector ngeyel. Emang, masakan di rumah gak ada yang pakai sambel bawang, mungkin dianggap tidak ramah anak oleh Mama.


"Lu udah bikin Po sedih, udah nganiaya dia, masih berani datang!! Hebat, muka tembok. Sini gue hajar!! Habis itu gue seret kemuka Papa. Haa berani kamu!!" Hector murka. Dia tau semua perbuatan Farel??? Haaa pasti Vano dalangnya. Hector sudah mau memukul Farel lagi. Aku dan Lola memeganginya. Untung ada Lola. Kalau aku sendiri gak akan kuat megangin Hactor.


Farel terima saja dipukul Hector.


"Aku datang mau minta maaf," katanya lirih.


"Gak!!! Mulai sekarang jangan datang kesini, atau kamu berhadapan sama aku. Mulai sekarang gak ada hubungan apapun kamu sama Lala!! Ingat itu!! Atau kamu mau semua orang tua kita tahu!!" kata Hactor tegas.


"Aku mau ngomong sama Lala, bukan kamu!!" jawab Farel.


"La, aku minta maaf. Ayo ngobrol sebentar," ajak Farel sambil lekat melihatku. Ini kesempatanku. Aku tahu aku sedang didukung penuh sama Hector. Kalau aku sendiri mungkin akan kalah lagi dan luluh lagi sama Farel. Aku menggeleng.


"Gak, kamu udah keterlaluan Rel, benar apa kata Hector. Kita putus!! Jangan datang lagi kesini," kataku tegas. Hector berkelit dari pegangan kami langsung menyeret Farel keluar gerbang.

__ADS_1


"Minggat lo!!! Berani kesini lagi aku gorok lehermu!!" kata Hector menyeramkan. Dia jadi mirip Papa. Usai mengusir Farel Hactor langsung buru buru kekamar mandi.


Aku masuk kamar. Menghidupkan tv dan kipas. Berusaha menenangkan diri.


"Kamu tahu semuanya?" tanyaku pada Hector saat dia kembali. Dia cuma mengangguk.


"Kamu tahu dari Vano?" tanyaku lagi.


"Kamu itu bodoh Po... masuk idi ot ternyata. Laki laki seperti itu masih kamu jadiin pacar? Udah diapain aja kamu sama dia sampai gak mau putus ha??!! Udah diperawanin??!!" Hector masih emosi.


"Mulutmu Tor, aku pacaran sehat yaa." kataku sambil nimpuk bantal ke Hector.


"Haaa sehat katamu....Ngomong ngomong apa sogokanku? Biar aku gak ngadu sama Papa?" tanya Hector. Mode adik morotin masih ada ternyata. Dia minta knalpot motornya aku ganti. Gak main main harganya sampai dua digit depan. Aku ngamuk ngamuk, tapi percuma. Dia pegang kartuku banyak. Tentang kelakuan Farel dan aku pindah kos tanpa ijin. Udah pasti bikin aku menghadapi masalah besar kalau sampai orang tuaku tahu.


"Ingat yaa yang racing. Aku pokoknya itu," kata Hector sebelum kekamar mandi lagi. Perutnya mules katanya.


Haa aku kesel bukan main. Kukirim pesan sama Vano kalau aku diporotin Hector gara gara dia ember. Iya semua ini gara gara Vano.


'Emang dia minta apa?' Pesan balasan dari Vano.


'Kenalpot racing, harganya bikin puyeng. Pokoknya semua salah kamu yaa.' Jawabku. Vano mengirimkan stiker ketawa yang kocak. Hpku berbunyi, telepon dari Vano.


"Mana Hector?" tanya Vano saat aku mengangkatnya.


"Di kamar mandi, mencret dia kebanyakan makan sambil," kataku. Vano tertawa keras.


"Pokoknya kamu harus ikut tanggung jawab yaa," kataku.


"Gak, aku maunya tanggung jawab sama hidupmu. Bodo amat sama Hector," kata Vano membuat aku merinding. Tanpa aku sadari senyum terbit dibibirku. Hei... kenapa? Hector datang mukanya pucet.


"Aku tutup dulu. Hector sekarat," kataku asal menutup sambungan telepon Vano.

__ADS_1


Aku membuatkan teh manis buat Hector. Lari kewarung samping buat beli obat diare. Hector meminumnya dan tidur tak lama kemudian. Aku juga ikut merebahkan diri..... hari yang melelahkan. Apa Farel baik baik saja?? Entahlah. Aku membuka galeri hpku. Membuka foto foto lamaku dengan Farel. Bahkan ada foto saat kami masih SD. Foto saat kami lulus bareng dari SMP. Foto farel saat dia menani aku menari dan.... masih banyak lagi. Air mata jatuh lagi. Aku merindukan Farel yang dulu. Farel yang lembut dan selalu membelaku. Aku terkadang masih melihat sisi Farel yang lembut. Meskipun makin lama makin memudar....


__ADS_2