
Waktu yang sebenarnya tidak dinantikan, akhirnya tiba juga untuk melakukan pertemuan dengan kedua belah pihak keluarga masing-masing.
Gea yang sudah berada di rumah, pun akhirnya mengatakannya dengan jujur kalau dirinya akan memperkenalkan pasangannya di depan kedua orang tuanya.
"Ma, malam ini pacar Gea mau mengajak pertemuan. Boleh kan, Ma, Pa?"
"Boleh, kenapa gak? yang penting baik, dan juga dari keluarga baik-baik." Jawab sang ayah sambil membaca koran.
"Mama juga sama, yang terpenting anaknya baik, dan juga dari keluarga yang baik-baik. Karena percuma juga memperkenalkan kamu dengan anaknya teman Papa, kamu tetap menolak perjodohan. Jadi, Mama dan Papa tidak melarang kamu untuk memilih laki-laki untuk dijadikan suamimu." Timpal ibunya ikut bicara.
"Makasih ya Ma, malam ini kita langsung berangkat ke Restoran. Soalnya kita janjinya emang seperti itu, tidak baik melakukan pertemuan di rumah, karena belum saling mengenal. Juga, rumah adalah privasi. Sebisa mungkin untuk tidak di rumah." Kata Gea dengan hati-hati ketika bicara di hadapan kedua orang tuanya.
"Benar katamu Nak, gak baik bertemu langsung di rumah. Ya udah, Mama sama Papa mau siap-siap dulu. Awas ya, kalau bikin Mama dan Papa kecewa." Jawab ibunya, dan mencubit gemas pada kedua pipinya Gea.
Lain lagi di rumah kediaman orang tuanya Raka, kakak beradik masih saja terus seperti tomy and jerry.
"Yena!" teriak Raka dengan geram.
__ADS_1
"Weeeek." Ledek adik perempuannya sambil menjulurkan lidahnya.
Saat itu juga, Raka langsung melempar boneka yang ada di sofa hingga mengenai punggungnya Yena, adik perempuannya.
"Ma! Kak Raka jahat nih." Teriak Yena sambil berlari, namun sebelumnya ia menoleh dan menjulurkan lidahnya kembali.
"Sudah sudah, kalian berdua ini ya, selalu aja berantem. Katanya tadi kamu mau ngomong sama Mama, ada apa?"
"Ya Raka, ada apa?" timpal ayahnya ikut nimbrung.
"Kamu ini, kenapa gak bilang dari tadi sore? kebiasaan kamu kalau ngomong selalu aja mendadak."
"Ya maaf sih Pa, namanya juga mendadak. Salah Papa sendiri, kenapa gak juga merestui hubungan ku dengan Lisa dari dulu. Jadi ya terpaksa mencari pacar dadakan." Kata Raka yang tanpa sadar menyeletuk.
"Apa katamu? kamu mencari pacar dadakan? awas saja kalau sampai ada sca_ndal dengan pacarmu yang baru ini, Papa tidak akan memberimu ampun."
"Eh enggak gitu juga konsepnya, Pa. Serius lah, kalau aku tidak melakukan scan_dal apapun dengan pacar baruku ini, serius lah."
__ADS_1
"Awas saja kalau kamu bohongi Papa, bisa-bisa kamu harus enyah dari rumah ini, paham."
Raka yang mendengarnya, pun susah payah untuk menelan ludahnya dengan kasar.
"Papa tenang aja, pilihan kali ini tidak lah salah. Juga, gak ada scan_dal apapun dengan pacar baruku." Jawab Raka meyakinkan ayahnya.
"Dengerin tuh kalau Papa ngomong, hati-hati kalau sampai kamu bohongi Papa." Ucap sang ibu mengingatkan anaknya.
"Papa akan lihat nanti, awas saja kamu kalau sampai melakukan kebohongan." Kata sang ayah dan langsung kembali ke kamarnya untuk melakukan pertemuan dengan kekasih barunya sang anak.
"Ya sih Pa, ya." Jawab Raka sedikit khawatir jika ketahuan jika dirinya memang ada sca_ndal dengan perempuan yang akan diperkenalkan pada kedua orang tuanya.
Raka menarik napasnya panjang, dan membuangnya dengan kasar. Berharap, sesuatu yang ditakutkan nya itu akan berkurang. Bahkan, sangat takut jika ketahuan atas kebohongannya.
Karena tidak mau waktunya terbuang sia-sia dan juga sudah tidak sabar untuk mempertemukan kedua orang tuanya dengan pihak perempuan, Raka segera bersiap-siap.
Berbeda lagi dengan Gea, dirinya kini sudah siap untuk berangkat, tinggal menunggu kedua orang tuanya yang tengah bersiap-siap.
__ADS_1