
Ketika sudah sampai di rumah singgah, Gea masih melamun dengan arah pandangannya yang lurus ke depan.
"Kamu kenapa, Gea? ada masalah?" tanya Raka sambil melepaskan sabuk pengaman.
Gea menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak kenapa-kenapa, sudah sampai ya?" jawab Gea dan balik bertanya.
Gea sama sekali tidak menoleh, dirinya sibuk melepaskan sabuk pengaman.
Saat itu juga, Raka langsung membantunya ketika melihat Gea yang tidak konsentrasi.
"Katakan padaku, kalau kamu masih suka lelaki yang tadi datang ke rumah mu. Jawab dengan jujur, sebelum kita melangkah jauh ke pernikahan." Ucap Raka yang akhirnya membuka obrolan sebelum turun dari mobil.
Gea langsung menatap Raka, dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Justru itu, aku sangat membencinya. Aku sudah tidak sudi untuk bertemu dengannya, aku sudah melupakannya. Minggir tanganmu, aku mau turun."
"Bohong, aku tidak percaya. Jika kamu membencinya, tidak sampai melamun sepanjang perjalanan sampai di rumah singgah. Kalau kamu benar-benar mencintai kekasih mu itu, aku akan menggagalkan pernikahan kita sebelum melangkah lebih jauh lagi. Aku tidak ingin kamu akan menyalahkan keadaan ketika hatimu tak bisa menerima pernikahan paksa kita ini." Ucap Raka yang langsung pada pokok intinya.
__ADS_1
Gea justru tersenyum menatap wajah calon suaminya.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya. Pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi, pikirkan perasaan kedua orang tua kita. Ayo kita turun, kasihan anak-anak sudah menunggu." Jawab Gea dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
Raka yang tidak mau membuat suasana menjadi tidak karuan, akhirnya menyetujui ajakan Gea.
Gea dan Raka segera masuk kedalam lokasi rumah singgah, dan di sambutnya dengan hangat oleh anak-anak.
"Bu, apa kabarnya?" sapa Gea dan langsung mencium punggung tangannya.
"Kabar Ibu sangat baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya? ayo kita ke sana kumpul bareng sama anak-anak. Kalian janjian? kok bisa bareng?"
"Jadi kalian berdua ini calon suami-istri? selamat ya buat kalian, semoga acaranya lancar, dan tidak ada suatu halangan apapun hingga acaranya selesai." Ucap Ibu pemilik rumah singgah.
"Terima kasih atas do'anya ya Bu. Semoga Ibu juga selalu diberi kesehatan." Timpal Raka ikut bicara.
"Sama-sama Nak Raka, ya udah yuk, kita ke sana dan kumpul bareng sama mereka." Ucapnya dan mengajak Raka dan Gea untuk kumpul bersama anak-anak singgah.
Gea yang masih kepikiran dengan hadirnya mantan kekasih, dirinya masih terus melamun. Bahkan, Raka sendiri dapat melihatnya dengan kedua matanya sangat jelas jika calon istrinya tidak sedang konsentrasi.
__ADS_1
Saat itu juga, Raka langsung bangkit dari posisinya dan meraih tangannya Gea untuk mengajaknya ke suatu tempat.
"Kamu kenapa? dari tadi aku perhatikan, kamu masih terus melamun. Kalau kamu sedang banyak pikiran, bagaimana kalau kita pulang?"
"Siapa yang banyak melamun? mungkin perasaan kamu saja. Sudahlah, jangan banyak prasangka padaku, yang ada nanti kamunya salah paham."
"Makanya sekarang lebih baik kita pulang saja. Kita masih banyak waktu untuk datang ke rumah singgah ini, Gea. Jadi, lebih kita pulang, daripada kamu banyak pikiran. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Ucap Raka.
Ibu yang menjadi pimpinan rumah singgah, pun mendapati Gea dan Raka tengah membicarakan sesuatu. Karena terlihat seperti perdebatan, langsung menghampiri mereka berdua.
"Kalian sedang apa?" tanya Ibu pemilik rumah singgah yang langsung menegurnya.
"Enggak ada apa-apa kok, Bu. Ini, tadi Raka lupa naroh kunci mobilnya. Jadi, kita nyari dan takutnya jatuh kemana gitu, Bu. Eee gak tahunya nyelip di saku celananya." Jawab Gea yang akhirnya beralasan.
"Oh, kirain. Ya udah, sekarang Raka bantuin pak Rio untuk memindahkan lemari yang ada di ruang belajar. Tidak apa-apa kan, Nak Raka? soalnya gak keburu kalau mau minta bantuan orang di luar."
"Iya Bu, gak apa-apa." Jawab Raka yang akhirnya nurut.
Karena gagal mengajak Gea pulang, mau tidak mau memenuhi perintah dari Ibu pemilik rumah singgah.
__ADS_1