
Hari yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya tibalah dihari pernikahan Gea dan Raka. Keduanya tengah disibukkan dengan penampilannya masing-masing dengan ruangan yang terpisah.
Tidak hanya sendirian atau ditemani anggota keluarga, rupanya Gea maupun Raka tengah ditemani teman-temannya masing-masing.
"Cie ... yang akhirnya datang penantian, yang bentar lagi mau menjadi nyonya." Ledek Raya saat tengah menemani calon mempelai pengantin wanita.
"Ternyata jodoh itu gak kemana ya? cie ..." ledek Veliana ikut juga meledek.
"Nyonya Raka, cie ..." sambung Landa juga ikutan meledek.
"Apa-apaan sih kalian ini, sudah sudah sana kalian duduk saja, dan jangan meledek ku terus dong." Jawab Gea yang tengah dirias wajahnya.
"Baik, Nyonya Raka." Jawab ketiganya dengan serempak.
Sedangkan di ruangan yang terpisah, Raka juga tengah mengenakan baju pengantin.
"Akhirnya kamu gak lagi jomblo, Bro." Ledek Ervin.
"Hem. Resek kamu, Vin. Diam lah kalian." Jawab Raka yang tengah mengenakan jasnya.
Sedangkan ketiga temannya hanya menahan tawa saat melihat ekspresi Raka yang tengah mendengus karena ledekan dari mereka.
Setelah tidak ada yang kurang, mempelai pengantin wanita dan laki-laki dipertemukan di dalam ruangan pengucapan kalimat sakral.
Keduanya pun telah dipertemukan dalam ikatan pernikahan. Raka yang melihat penampilan Gea yang begitu berbeda, pun membuatnya tidak menyangka jika calon istrinya begitu cantik dan terlihat anggun.
Karena tidak ingin mengulur waktu, acara pengucapan kalimat sakral pun akan segera dimulai. Kedua-duanya tak ada yang saling menoleh satu sama lain, melainkan memilih menatap lurus ke depan agar fokus dan tidak banyak pikiran.
Semua para tamu undangan sudah memenuhi isi gedung tersebut, juga dengan para saksinya serta teman-teman Gea maupun Raka yang lainnya dari kampus ikut menyaksikannya.
Sedangkan di sudut ruangan, ada lelaki yang sudah datang untuk menyaksikan orang yang dicintainya itu menikah dengan lelaki pilihannya.
'Gea akan menemui kebahagiaannya dengan lelaki yang sudah ia pilih, bukan aku yang sudah meninggalkannya. Andai saja ayahku tidak egois, mungkin hari ini adalah hari bahagiaku. Tapi, ternyata bukan. Semoga kamu bahagia dengan pilihan mu, Gea.' Batin Derson sambil memperhatikannya dari jarak jauh ketika Raka tengah mengucapkan kalimat sakralnya.
Kini, Raka dan Gea benar-benar sudah sah menjadi suami-istri. Tidak ada lagi kesempatan bagi Derson untuk bertemu, semua tinggallah kenangan.
Karena tidak ingin terlihat menjadi sosok laki-laki pecundang, Derson memberanikan diri untuk memberi ucapan selamat kepada Gea dan Raka.
Sambil menunggu antrian, Derson mencoba untuk terlihat tetap tenang, agar dirinya tidak disangka tengah bersedih.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua. Semoga bahagia selalu." Ucap Derson kepada Gea dan Raka.
"Terimakasih, semoga kamu segera menyusul." Jawab Raka lebih dulu.
"Terimakasih doanya, juga sudah datang di acara pernikahan kami. Aku do'akan, semoga kamu segera menyusul." Ucap Gea yang berusaha untuk tetap tenang juga ketika berhadapan dengan lelaki yang pernah ia cintai dan ditunggu kedatangannya.
Derson mencoba tersenyum.
"Semoga, terimakasih doanya. Aku pamit, sampai bertemu lagi dilain waktu." Ucap Derson yang langsung pamit pulang.
Kemudian giliran teman-teman kuliahnya yang sudah mengantri untuk memberi ucapan selamat kepada Raka maupun kepada Gea, dan dilanjut oleh para tamu undangan lainnya hingga acaranya pun selesai.
Sepi, suasana kembali sepi dan pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan Gea dan Raka pulang ke hotel untuk istirahat tanpa ada yang mengganggunya. Setelah itu, baru pulang ke rumah yang sudah disiapkan oleh keluarga.
__ADS_1
Gea yang baru masuk ke kamar hotel bersama suaminya, detak jantungnya mulai tidak beraturan. Gugup, takut, was-was, itu sudah pasti. Lebih lagi belum pernah menjalin hubungan asmara dengan suaminya sendiri, tentu saja membuatnya tidak karuan.
"Kala kamu mau mandi, mandi duluan saja. Tapi aku mau cuci muka dulu, setelah itu baru istirahat, soalnya badanku terasa capek." Ucap Raka sambil melepaskan jaketnya.
"I-i-iya, silakan." Jawab Gea yang tengah berdiri didepan cermin.
Raka mendekati setelah melepaskan jasnya.
"Kamu kenapa? gugup. Kita sekarang sudah menjadi suami istri, kamu tidak perlu gugup bersamaku." Ucap Raka dan meraih kedua lengan istrinya dan menghadapkannya pada dirinya.
Gea yang gugup, berusaha untuk terlihat tenang. Tetap saja usahanya gagal, Raka tetap mengetahui jika istrinya gugup.
Saat itu juga, Raka langsung memeluk istrinya.
"Kamu sudah menjadi bagian hidupku. Meski kita belum saling mencintai, aku tetap bertanggung jawab penuh tentangmu, kebahagiaan mu, juga memberi perhatian padamu. Kita jalani hubungan ini sebaik mungkin, perlahan kita akan temui perasaan kita yang sesungguhnya." Ucap Raka sambil memeluk istrinya.
Gea perlahan merenggangkan pelukan dari suaminya. Kemudian, keduanya saling menatap satu sama lain.
Raka tanpa malu, pun mencium kening istrinya dengan lembut.
"Ganti pakaian mu, dan bersihkan wajahmu, setelah itu kita istirahat. Tidak ada pembatasan atau jarak untuk istirahat, kita akan istirahat ditempat tidur yang sama. Aku tidak akan melakukan pemaksaan apapun padamu, jadi kamu tidak perlu takut." Ucapnya lagi.
Gea mengangguk dan melepaskan pelukan dari suaminya. Kemudian, Raka lebih dulu untuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya dan ritual lainnya didalam kamar mandi. Karena merasa gerah, akhirnya Raka membersihkan dirinya.
Setelah itu gantian dengan Gea yang ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena terasa lengket. Namun sebelum ke kamar mandi, Gea mengambil baju ganti dari koper. Naas, yang ia temukan justru tidak ada baju ganti sesuai yang sering dipakai, melainkan baju se_ksi.
Gea menelan ludahnya dengan kasar.
"Kamu kenapa, Gea?" tanya Raka saat mendapati istrinya tengah gelisah.
"Hanya apa?" tanya Raka sambil memperhatikan istrinya.
"Gak apa-apa, aku mandi." Jawab Gea yang langsung menyambar pakaian gantinya yang begitu tipis.
Naas, justru jatuh di dekat kopernya. Raka yang melihatnya, pun langsung turun dari tempat tidur untuk mengambilnya.
"Oh, ini yang membuatnya bingung untuk menjawab pertanyaan dariku. Pasti ini ulah mereka semua yang sengaja mengemasi barang bawaan ke hotel." Gumamnya sambil memegangi ling_erie milik istrinya.
Sedangkan yang berada di dalam kamar mandi yang tengah menikmati aroma sabun dan shampo, sampai lupa dengan baju gantinya. Selesai membersihkan diri, Gea menggunakan handuknya. Kemudian, tiba-tiba ia kebingungan mencari baju ganti yang entah dimana dirinya meletakkannya.
"Mampus Gue, gimana ini? perasaan sudah aku bawa ke kamar mandi, kok gak ada. Masa iya, aku keluar dari kamar mandi dengan penampilan ku yang kek gini sih. Mana bukan handuk kimono lagi, aih." Gerutu Gea saat tidak menemukan pakaian gantinya, yakni sebuah ling_erie.
Saat itu juga, pintu kamar mandi diketuk oleh Raka.
"Apakah kamu merasa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Raka sambil memegangi ling_erie milik istrinya.
"Ya," jawab Gea dengan ketus, sedangkan Raka justru tersenyum mendengar namanya.
"Buka pintunya, ini aku berikan padamu." Ucap Raka.
Gea yang merasa malu dan juga kesal, akhirnya langsung membuka pintunya dan menyambar untuk merebutnya. Setelah itu, Gea langsung menutup dan mengunci pintunya.
Tidak ada pilihan lainnya, mau tidak mau Gea mengenakan ling_erie meski dengan malu.
__ADS_1
"Benar-benar menjijikkan, pasti otaknya bakal berubah jadi me_sum. Kalau udah me_sum berarti, aaaaaaa!"
Akhirnya Gea pun berteriak saat membayangkan kalimat yang menurutnya kotor.
Raka yang mendengar teriakan dari istrinya, justru tertawa kecil sambil memainkan ponselnya.
"Ketawa segala, apanya yang lucu? hem."
Dengan reflek, Raka langsung menoleh. Tentu saja pandangannya tertuju pada penampilan istrinya yang terlihat begitu menggoda.
Siapa orangnya yang tidak tergoda, jika yang ada dihadapannya Raka sendiri tinggal menerkam.
"Aw!" pekik Raka saat handuk yang ada ditangan Gea terlempar dan mengenai dirinya karena terus menerus memperhatikan istrinya.
"Me_sum! minggir, aku mau tidur." Ucap Gea yang langsung naik ke atas tempat tidur.
Mendengar kata me_sum, otak Raka pun bekerja begitu cepat. Siapa orangnya yang tidak tergoda saat mendapati istrinya yang begitu menggoda.
Raka langsung melempar handuknya ke sembarang arah. Kemudian, ia langsung ikutan menggunakan selimut yang sama.
"Mes_um sama istrinya sendiri kan, tidak masalah. Kalau gak boleh juga gak apa-apa, aku bisa pesan dan pindah kamar." Jawab Raka sambil berbisik di dekat telinganya Gea.
Seketika, Gea langsung menoleh. Naas, justru bibir keduanya kembali saling bertemu sama lainnya.
Raka maupun Gea sama-sama bengong, justru detak jantung keduanya tidak dapat dikontrol dan sama-sama berdetak tidak karuan.
Entah arahan dari mana, justru Gea memejamkan kedua matanya dan membuat Raka mempunyai kesempatan untuk mencu_mbu istrinya.
Raka yang tengah menikmati sebuah ciu_man bersama istrinya, terhanyut begitu saja. Begitu juga dengan Gea, dirinya sendiri tidak dapat memungkiri dari setiap sentu_han dari suaminya telah membuat dirinya mabuk dalam cinta.
Raka yang seperti disuguhi kenikmatan yang tidak terbayangkan olennya, pun semakin dalam menikmatinya hingga lupa akan kesadaran yang ada. Keduanya sama-sama seperti dilumpuhkan tenaga dan pikirannya.
Bahkan, dengan terang-terangan kalau Raka menginginkan hal yang lebih pada istrinya. Gea yang teringat akan ucapan dari Raka yang akan memesan kamar hotel, pun seperti tak ingin membiarkan suaminya melakukan hal tersebut. Pada akhirnya, Gea menyerahkan segalanya pada Raka.
Tanpa harus berpikir panjang, Raka melakukannya bersama istrinya hingga merasakan pun_cak kenik_matannya sampai terkulai lemas.
Gea yang tersadar dengan apa yang sudah dilakukan oleh suaminya, pun langsung meringkuk. Raka langsung memeluknya dari belakang.
"Maaf, maafkan aku yang sudah,"
Gea langsung membalikkan badannya dan menatap wajah suaminya yang sama-sama berbalutkan selimut dengan kondisi tubu_hnya yang sama-sama pol_osnya.
"Sudah menjadi hak mu, tidak ada yang perlu meminta maaf." Jawab Gea yang langsung memeluk suaminya.
Raka tersenyum bahagia mendengarnya, dan juga memeluk istrinya.
"Aku janji, aku akan membahagiakan kamu, juga akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap dirimu." Ucap Raka dengan mata yang terpejam sambil memeluk istrinya.
Gea yang mendengarnya, pun merasa bahagia atas ucapan dari suaminya.
Penantian yang sekian lama ia tunggu, justru pemilik hati datang diwaktu yang tidak pernah ia menduga sebelumnya.
Gea yang sempat kebingungan untuk mencari suami bayaran, rupanya jodoh yang sebenarnya. Jodoh yang tidak pernah ia sangka, juga tidak pernah terbayang olehnya.
__ADS_1
TAMAT
HAPPY ENDING