
Waktu yang dilewati rupanya sudah mendekati hari pernikahan, tentu saja membuat Gea sulit untuk tidur dengan pulas.
Ketukan pintu tengah mengagetkan Gea yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Dengan malas, Gea memilih untuk menekan tombol agar pintu bisa terbuka dengan sendirinya.
"Masuk." Perintah Gea yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Permisi Nona, di luar ada tamu ingin bertemu dengan Nona Gea. Tuan Herman dan juga Nyonya sudah mengizinkan Nona untuk menemuinya." Ucap Bi Narsih.
Saat itu juga, Gea langsung bangkit dari posisinya.
"Ada tamu ingin bertemu denganku?" tanya Gea sambil menunjuk pada diri sendiri.
Bi Narsih mengangguk.
"Siapa, Bi?" tanya Gea penasaran.
"Kata Tuan, mantan kekasihnya Nona dulu." Jawab Bi Narsih yang akhirnya berkata jujur, sesuai yang diminta majikannya.
"Derson maksudnya Bibi?"
__ADS_1
"Ya, Non, benar." Jawab Bi Narsih dibarengi anggukan.
"Kok papa sama mama ngizinin, memangnya gak diusir gitu, Bi?"
"Namanya juga tamu, gak baik jika diusir, Nona. Lebih baik Nona temui saja, setidaknya Nona bisa memberi penjelasan pada Tuan Derson." Jawab Bi Narsih memberi saran.
Dengan malas, akhirnya Gea nurut dan segera turun untuk menemuinya.
"Aku harus bicara apa padanya? terus, aku harus menjawabnya apa?" gumamnya bertanya-tanya.
Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, akhirnya Gea pun segera menemuinya. Sambil menuruni anak tangga, Gea sambil memperhatikan yang ada dibawah.
"Mama, kok bukan Mama yang menemuinya?"
Gea melotot dengan sempurna.
"Enggak, enggak, Mama cuma bercanda. Raka gak datang, kan besok kamu akan menikah, tentu saja sudah tidak ada waktu untuk bertemu."
"Hem. Mama mah ketularan Raka, sukanya ngeledek." Ucap Gea dan segera menemui Derson, mantan kekasihnya dulu.
__ADS_1
Saat sudah berada di ruang tamu, Gea duduk dengan jarak yang lumayan jauh. antara ujung di hadapannya dengan ujung satunya.
"Maaf, ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Gea sambil menatap Derson, lelaki yang diharapkan kabar dan kehadirannya, kini hanya sebuah kenangan dimasa lalunya.
"Gea, kamu serius mau menikah? maaf, jika pertanyaan ku ini terlalu paksa."
"Tidak apa-apa, aku lebih suka ketika berbicara tidak berbelit, langsung pada pokok intinya. Benar, aku akan menikah dengan lelaki yang pernah bertemu denganmu waktu aku mau pergi. Besok adalah hari pernikahan ku. Maaf, aku tidak bisa setia tanpa kabar. Mungkin saja kita memang bukan jodoh, atau mungkin akan ada jodoh yang lebih baik dariku untuk mu. Aku doakan kamu, semoga kamu segera mendapatkan gantinya. Maaf, jika penantian kita tidak terbalaskan." Ucap Gea dengan napasnya yang sulit untuk di atur.
"Jadi benar yang dikatakan ibumu, kalau kamu akan menikah dihari besok. Aku kira hanya bercandaan, rupanya benar. Kalau memang sudah menjadi keputusan kamu, aku hanya bisa mendoakan mu, semoga kamu bahagia dengan pernikahan mu. Maafkan aku yang sudah mengganggu waktumu yang seharusnya untuk istirahat."
Derson yang menerima kenyataan pahit dari Gea, pun menyimpan rasa sakit dan juga kecewa. Pikirnya pulang untuk memberi kejutan, namun kenyataannya justru harus membuka tangannya dengan kosong.
"Sekali lagi aku meminta maaf, aku tidak bisa setia tanpa kabar. Maaf, aku meminta maaf. Semoga kamu temukan wanita yang jauh lebih baik dariku di luaran sana." Ucap Gea merasa tidak enak hati ketika harus mengatakan kebenarannya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, mungkin memang kita tidak berjodoh. Kalau begitu aku pamit untuk pulang, selamat sore."
Derson akhirnya berpamitan untuk pulang.
"Terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke rumah. Kalau kamu bersedia, kamu boleh datang ke acara pernikahan ku besok. Aku tidak memaksa mu." Ucap Gea.
__ADS_1
"Aku tidak bisa janji, tapi akan aku usahakan untuk datang. Aku pulang." Jawab Derson dan pamit pulang.
Sedangkan Gea yang tidak mengantarkan mantan kekasihnya sampai depan rumah, memilih untuk kembali ke kamar. Takut, rasa yang pernah hilang membuatnya dilema dan memilih untuk melupakan segalanya.