Lelaki Bayaran

Lelaki Bayaran
Mendapat paketan


__ADS_3

Raka yang takut konsentrasinya terganggu, dirinya memilih untuk menepikan mobilnya di pinggir taman.


"Kok berhenti?" tanya Gea saat mendapati Raka tengah menepikan mobilnya.


"Aku tidak ingin konsentrasi ku terganggu. Jawab dulu pertanyaan dariku, ok." Jawab Raka dan mematikan mesin mobilnya.


"Jawab pertanyaan yang mana?" tanya Gea.


"Kamu serius tidak mempunyai kekasih? gak mungkin kalau gak punya."


"Ada, dia ada di luar negri. Aku sudah menganggapnya putus, dan juga sudah tidak ada kabar. Lagian juga sudah lama banget, dan aku menganggapnya gak ada. Jadi, maunya kamu apa?"


"Enggak apa-apa, setidaknya aku jaga jarak denganmu. Ya siapa tahu aja tiba-tiba pacar kamu pulang dan langsung melamar mu."


"Pikiran kamu terlalu jauh, aku saja gak punya pikiran kek gitu. Sudahlah, ayo kita pulang. Aku gak ingin kedua orang tuaku khawatir. Soal uang, aku tidak menuntut untuk dikembalikan. Sudahlah gak perlu dibahas lagi soal masa laluku. Sudah cepetan jalankan mobilnya, atau aku yang menyetir mobilnya, sini aku aja."


"Gak perlu, biar aku yang nyetir." Ucap Raka dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di depan rumahnya Gea.


"Sudah sampai, silakan kalau mau turun. Enggak juga gak apa-apa, nanti aku pulang ke rumah kamunya." Ucap Raka tak lupa untuk meledek.


"Enak aja main bawa ke rumah, kita belum nikah." Jawab Gea sambil melepaskan sabuk pengaman.

__ADS_1


"Awas ya, nanti kalah sudah menjadi istriku, aku akan membawamu kabur. Liat aja nanti, sana turun." Ucap Raka.


"Hem. Wek ...!"


Gea pun membalasnya dengan cara menjulurkan lidahnya sedikit memberi ejekan kepada Raka.


Sambil menggelengkan kepalanya, Raka bergegas melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah kedua orang tuanya Gea.


Sedangkan Gea yang baru saja masuk rumah, rupanya masih sepi dan belum ada tanda-tanda kedua orang tuanya sudah pulang.


"Bi Narsih, rumah kok masih sepi. Mama sama Papa belum pulang?"


"Ya Non, Tuan dan Nyonya belum pulang. Oh ya, tadi ada paketan datang, maksudnya bingkisan untuk Nona, sebentar Bibi ambilkan dulu ya Non."


"Namanya susah Non, bentar Bibi ambilkan dulu." Jawab Bi Narsih yang hendak mengambilkan paketan yang datang untuk majikannya.


Gea yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga, sambil menonton TV sambil menunggu Bi Narsih mengambilkan paketan yang baru di terima.


"Ini Non, paketannya tadi datang saat Nona dan Tuan, juga Nyonya sudah pergi." Ucap Bi Narsih sambil menyodorkan paketannya.


Gea menerimanya dengan rasa penasaran, yakni siapa pengirimnya.


"Derson Albert." Ucapnya lirih saat menyebutkan namanya.

__ADS_1


"Bener kan Non, bacanya susah untuk diingat." Ucap Bi Narsih.


Gea masih terdiam, justru ia tengah melamun.


"Non, Nona, kok melamun?"


"Bibi, ngagetin aja. Ya udah ya Bi, aku mau masuk ke kamar dulu. Oh ya Bi, jangan bilang-bilang sama Mama ataupun Papa, ok Bi."


"Baik, Non. Bibi gak akan mengadu sama Tuan dan Nyonya." Jawab Bi Narsih, Gea pun segera masuk ke kamarnya.


Sampainya didalam kamar, Gea langsung menutup pintunya dan segera melihat isi dalam kiriman tersebut.


"Maksudnya apa muncul lagi disaat aku sudah melupakan dia. Apakah dia ini hanya ingin menambahkan luka untukku? atau ingin menghancurkan perasaanku." Ucapnya sambil membuka isi dalam paketan yang ia terima.


Gea yang merasa penasaran dan juga terasa dongkol ketika ingatannya harus kembali di masa lalunya, pun dengan kasar untuk membukanya.


Selembaran kertas di atas kotak istimewa, dan di dalamnya ada kejutan lainnya tengah membuat Gea semakin penasaran.


"Hai gadis kecilku yang paling aku sayang, aku Derson Albert. Apa kabarnya kamu, sayangku? sekarang aku kembali untukmu. Maafkan aku yang sudah sekian lama menghilang, dan kini aku kembali hanya untukmu. Aku akan datang besok melamar mu, siapkan dirimu dengan gaun serta perhiasan yang aku kirim olehku sendiri. Tertanda kasihmu yang dulu, Derson Albert." Ucap Gea sesuai isi dalam lembaran kertas.


Saat itu, Gea membuang napasnya dengan kasar.


"Bi! Bi Narsih!" teriak Gea di dekat tangga sambil memanggil asisten rumahnya.

__ADS_1


Bi Narsih yang merasa namanya dipanggil, pun langsung menuju sumber suara.


__ADS_2