
"I-i-iya Non, bentar."
Sahut Bi Narsih sambil berlari kecil untuk menapaki anak tangga.
"Ada apa ya, Non?" tanya Bi Narsih saat sudah berada di hadapan majikannya.
"Ini yang mengirim siapa Bi? kenapa tidak ada alamatnya?"
Gea akhirnya bertanya balik pada Bi Narsih.
"Maaf Non, tadi yang kirim tidak memperlihatkan wajahnya, orangnya memakai jaket warna abu-abu dan juga pakai masker. Kalau lihat postur tubuhnya sih, orangnya cakep Non." Jawab Bi Narsih memberi penjelasan.
"Oh, bukan kurir ya Bi?"
"Sepertinya bukan Non, maafkan Bibi Non. Bibi mengira itu suruhannya Tuan Raka, calon suaminya Nona." Jawab Bi Narsih merasa bersalah.
"Ya udah kalau gitu, Bibi boleh istirahat. Maafkan Gea udah ganggu Bibi." Ucap Gea.
"Baik, Non. Kalau begitu Bibi permisi, selamat istirahat Nona." Jawab Bi Narsih dan kembali ke kamarnya.
Gea yang sudah mengetahui jawabannya, pun langsung membuang napasnya dengan kasar.
"Berarti benar, Derson yang sudah mengirimnya sendiri. Apa maunya dia? pergi semaunya dan tak pernah memberiku kabar, dan sekarang hadir dengan cara tiba-tiba." Ucapnya lirih dan meremas lembaran kertas yang berisi tulisannya pengirim.
Gea yang terasa penat ketika ingatannya kembali di masa lalu, pun memilih untuk tidur. Berharap paginya akan disambut dengan sesuatu yang dapat menyegarkan pikirannya.
__ADS_1
Rasa kantuk yang sudah menguasainya, Gea tertidur lelap hingga pagi menyambutnya. Alarm yang sudah ia putar sebelum tidur, kini mengagetkan dirinya.
"Astaga! jam berapa ini? aih, aku ada janji lagi."
Dengan reflek, Gea langsung bangun dan bergegas untuk mandi. Setelah itu, ia segera bersiap-siap.
Baru saja selesai mengenakan baju, Gea dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamarnya.
"Iya sebentar, lagi nanggung." Sahut Gea sambil membenarkan pakaiannya.
Setelah itu, Gea segera membuka pintunya.
"Bibi, ngagetin aja. Ada apa, Bi?"
"Itu di ruang tamu sudah ada yang menunggu Nona." Jawab Bi Narsih.
"Siapa yang datang, Bi?" tanya Gea yang masih belum berkedip.
"Calon suami Nona, Tuan Raka." Jawab Bi Narsih dengan senyum yang sumringah.
Gea yang mendengar jawaban dari Bi Narsih, pun langsung menghela napasnya karena merasa lega.
"Syukur lah, kirain orang yang kirim paketan. Ya udah deh Bi, berikan minum. Bilang padanya, Gea lagi bersiap-siap gitu." Ucap Gea memberi perintah pada Bi Narsih.
"Baik, Nona. Bibi permisi." Jawab Bi Narsih dan segera turun.
__ADS_1
Gea yang merasa lega dan tidak terasa banyak beban dalam pikirannya, ia segera bersiap-siap untuk berangkat sesuai kesepakatan untuk pergi bersama Raka.
Setelah semua tidak ada lagi yang tertinggal, Gea langsung keluar dari kamarnya.
"Cie ... anak Mama udah cantik rupanya, mau kemana?" tanya ibunya sambil meledek.
"Mama ih, kek gak pernah muda aja. Gea mau ke rumah singgah bareng Raka, mau ada acara kecil-kecilan bareng anak-anak jalanan." Jawab Gea.
"Mama sudah tahu dari Raka barusan, ya udah hati-hati di perjalanan ya sayang. Jangan sampai larut malam pulangnya. Ingat, hari pernikahan kamu bentar lagi." Ucap ibunya mengingatkan.
"Ya, Ma. Gea mau langsung berangkat aja ya, Ma."
"Ya, hati-hati. Utamakan keselamatan." Ucap ibunya sambil berjalan menuju ruang tamu.
Sedangkan Raka yang melihat calon istrinya sudah siap untuk berangkat, Raka bangkit dari posisinya dan sekaligus berpamitan.
"Tante, Kami izin untuk berangkat." Ucap Raka berpamitan.
"Boleh, tapi pulangnya jangan larut malam ya. Juga, jangan ngebut mengendarai mobilnya." Jawab ibunya Gea.
"Baik, Tante."
Setelah berpamitan, Gea dan Raka segera berangkat ke tempat tujuan.
Baru saja keluar dari rumah, Gea dan Raka terpaksa turun dari mobil saat melihat kedua satpamnya tengah berbicara dengan seseorang.
__ADS_1
Karena penasaran, akhirnya Gea dan Raka turun dari mobil.