
Setelah berpamitan dan diizinkan untuk pulang lebih dulu, Raka dan Gea segera pulang bersama.
Dalam perjalanan, Gea memalingkan wajahnya untuk melihat jalanan. Sedangkan Raka sendiri tengah fokus dengan setir mobilnya.
"Kamu kan sudah punya pacar, kenapa juga gak nikah aja tuh sama pacarmu sendiri." Ucap Gea yang tiba-tiba membuka suara.
Raka yang tengah fokus dengan setirnya, sekilas menoleh pada Gea.
"Kalau sudah disetujui, gak ada yang namanya dijodohkan. Kamu juga, udah kek gak punya pacar aja, sampai-sampai membayar ku dengan uang sebanyak itu. Kalau keluarga mu tahu, apa jadinya kamu di hadapan keluarga kamu sendiri." Jawab Raka yang masih menatap lurus ke depan, menoleh pun jarang.
"Aku gak percaya sama yang namanya pengakuan dari laki-laki. Yang aku tahu, lelaki itu sama aja otaknya. Tidak ada yang setia dan juga serius, sama kek kamu." Ucap Gea dan membuat Raka mengerem mendadak.
"Aw! sakit, tau. Kalau mau mengerem itu pelan-pelan, gila aja kamu ini." Pekik Gea sambil mengusap keningnya yang terbentur.
"Makanya kalau ngomong juga perlu dijaga, jangan asal mangap aja tuh mulut mu." Ucap Raka dengan kesal, saat dirinya harus mendapat tuduhan dari Gea.
"Memang benar, nyatanya kamu menjalani hubungan dengan pacarmu, sedangkan kamu sendiri mau menikah. Apa itu namanya lelaki setia? yang ada tuh kamu egois. Punya istri, punya kekasih, cih."
Saat itu juga, Raka mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Gea. Hanya butuh beberapa inci saja, Raka dengan mudahnya untuk menc_ium bibirnya calon istrinya.
"Terus, aku harus bagaimana?" tanya Raka masih dengan jarak yang sangat dekat.
Gea yang dapat merasakan hembusan napas miliknya Raka, detak jantungnya seolah tidak bisa diajaknya kompromi.
__ADS_1
"Mana aku tahu. Kan, kamu yang mau menjalani hubungan bersama kekasihmu. Kenapa mesti tanya aku, dih aneh." Jawab Gea ada rasa takut jika Raka melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Kalau aku putusin pacarku, dan menjalani hubungan serius denganmu, bagaimana?"
"Kasihan sekali pacarmu, sudah kamu khianati." Jawab Gea yang bingung harus memberi pendapat apa kepada calon suaminya sendiri.
Satu sisi akan menjadi suaminya, juga calon suaminya yang sudah mempunyai kekasih.
"Terus, aku harus apa? aku tidak mendapatkan restu dari orang tuaku, dan aku harus bagaimana? kabur gitu?"
"Terserah kamu, aku tidak mau memberi saran apapun padamu. Lebih baik sekarang cepetan kamu jalankan mobilnya." Jawab Gea sambil menatap Raka dengan perasaan gugup.
Raka langsung kembali ke posisi semula, dan menyalakan mesin mobilnya. Kemudian, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Saat itu juga, tiba-tiba Raka seperti melihat seseorang yang baru saja keluar dari tempat diskotik dengan laki-laki.
Dengan spontan, Raka kembali mengerem mendadak. Untungnya tidak membuat Gea terbentur bagian keningnya seperti sebelumnya.
"Kamu kenapa lagi sih? ngerem aja harus mendadak."
"Tunggu disini, jangan ikutan keluar." Ucap Raka sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Gea yang merasa bingung dengan Raka, pun akhirnya ikutan keluar karena dirinya juga menyimpan rasa penasarannya.
__ADS_1
Raka yang sudah tidak sabar untuk melihatnya, pun ingin memastikan siapa perempuan itu yang bersama lelaki lain.
"Lisa, benarkah dia?" gumamnya saat melihat kekasihnya dengan tubuhnya yang sempoyongan bersama laki-laki lain, pun merasa penasaran dan akhirnya kembali ke mobil dan mengikutinya dari belakang.
"Kamu! ngapain keluar segala, cepetan masuk!" bentak Raka dengan geram.
Ditambah lagi saat dirinya mendapati kekasihnya bersama laki-laki lain, darahnya terasa mendidih. Bahkan, tidak peduli dengan jalanan yang penuh dengan kendaraan yang lalu lalang dengan arah yang berlawanan.
"Woi! cari mati Lu." Teriak Gea yang ketakutan saat calon suaminya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tentu saja, Gea dibuatnya sport jantung.
Raka yang kesal harus mendapat bentakan dari Gea, pun langsung menoleh.
Sedangkan Gea sendiri pun menoleh pada calon suaminya yang tiba-tiba emosinya meluap.
"Diam! jangan berkomentar apapun terhadapku, paham." Bentak Raka sambil melotot pada Gea.
Gea yang ketakutan saat mendapat bentakan dari calon suaminya, pun memilih untuk diam daripada harus menerima amarah darinya.
Raka yang sudah di ambang rasa sakit hati ketika teringat alasan dari Lisa yang gagal untuk melakukan pertemuan dengan alasan ada acara dengan keluarga, rupanya dirinya telah dibohongi oleh kekasihnya sendiri.
"Aw! sakit, tau." Pekik Gea saat harus menerima benturan pada keningnya yang kedua kalinya, rasanya begitu geram dengan calon suaminya sendiri.
__ADS_1
Gea kembali mengusap keningnya, juga memasang muka cemberut.