
Saat turun dari mobil, Gea dikejutkan dengan sosok yang sangat dikenalinya meski sudah lama tidak pernah bertemu dan juga sudah banyak perubahan pada lelaki yang kini di hadapannya. Bahkan, ketampanannya di atas Raka, namun tidak membuat Gea merasa senang atas kehadirannya.
Kekecewaan yang diberikannya sangatlah menyakitkan ketika diabaikan beberapa tahun lamanya, tentu saja rasa itu semakin pudar.
Meski kalah tampannya, Raka tidak kalah mempesonanya dengan Derson. Hanya saja pada postur tubuh Derson yang lebih tinggi dan besar darinya.
"Sayang, aku kembali, aku pulang untukmu. Aku datang mau melamar mu." Ucapnya sambil memegangi kedua lengannya Gea dengan mengguncangkan tubuhnya.
Raka yang ada di sebelahnya, pun memilih masuk ke dalam mobil.
Dengan sigap, Gea langsung menyambar tangannya. Sedangkan tangan yang satunya mencoba untuk melepaskan tangan lelaki yang tengah memegangi kedua lengannya.
"Lepaskan tanganmu, aku sudah mempunyai calon suami, dan sebentar lagi kita akan segera menikah. Maaf, aku sudah tidak mengharapkan kamu kembali." Jawab Gea yang akhirnya mengatakannya langsung pada lelaki yang pernah menjalin hubungan asmara dengannya.
"Apa! kamu sudah mempunyai calon suami, apakah dia ini orangnya?"
Dengan terkejut, Derson langsung menunjuk pada Raka.
__ADS_1
"Iya, dia Raka, calon suamiku. Sebentar lagi kira berdua akan menikah, mungkin satu minggu lagi. Maaf, ruang hatiku tidak ada lagi namamu." Jawab Gea dengan suara yang begitu berat, lantaran harus teringat rasa sakitnya ketika hilang kontak bersama orang yang terkasih.
"Bohong, aku tidak percaya. Kamu pernah berjanji padaku kalau kamu akan terus mencintaiku, dan kamu pasti membohongiku." Ucapnya yang tidak percaya.
Gea masih diam sambil menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya itu. Sedangkan Raka terpaksa melepaskan tangan Gea dan memilih masuk ke mobil dari pada harus menjadi pendengar setia namun menyakitkan untuk didengar.
"Bicarakan baik-baik dulu dengannya, aku tunggu di dalam mobil." Ucap Raka pada Gea.
"Tapi,"
"Katakan padaku, kalau yang kamu ucapkan tadi itu hanyalah kebohongan mu saja. Aku sudah tahu semuanya, jika kamu terpaksa menikah, dan kamu juga telah membayarnya satu miliar, ya 'kan? jawab saja dengan jujur."
Gea justru tertawa kecil ketika mendengarnya.
"Ya, aku membayarnya seharga satu miliar, kenapa? lagi pula aku dan dia ternyata memang dijodohkan oleh orang tua kami masing-masing, apa ada yang salah? gak kan? sedangkan kamu selama ini kemana? atau jangan-jangan kamu di campakan oleh wanita lain dan akhirnya mencariku karena aku ini perempuan bodoh begitu kah?"
"Hentikan tuduhan mu itu, aku bukan seperti yang kamu pikirkan atau yang tuduhkan padaku. Selama aku menghilang dari mu, aku mempunyai tanggung jawab besar pada keluargaku. Bahkan, aku tidak mempunyai waktu sedikitpun untuk melirik wanita. Aku pikir kamu setia, tetapi ternyata, ah sudahlah. Jika memang lelaki itu menjadi pilihan mu, menikah lah dengannya. Selamat untukmu." Ucap Derson dan bergegas pergi dari hadapan Gea.
__ADS_1
Gea yang mendengarnya, pun tubuhnya seolah sempoyongan.
"Benarkah apa yang diucapkannya tadi? tidak, dia pasti sedang bermain dramanya. Lelaki seperti Derson tidak mungkin bertahan dalam kesendiriannya, aku yakin itu." Ucapnya lirih sambil mencoba untuk menerka apa yang sudah diucapkan oleh Derson, lelaki yang pernah dicintainya itu.
Meski sudah berusaha untuk melupakannya, tapi bayangan itu hadir dengan nyata. Tentu saja membuat Gea menjadi lebih dilema.
"Aw!" pekik Gea saat punggungnya ditepuk oleh Raka.
Gea langsung menoleh.
"Jadi berangkat atau enggak?" tanya Raka yang tidak ingin membahas sosok laki-laki yang bernama Derson.
"Iya berangkat, maaf aku sudah membuatmu tidak nyaman." Jawab Gea merasa bersalah.
"Enggak masalah, lupakan saja. Sekarang pikirkan tujuan kita untuk menghibur anak-anak jalanan, jadi kita harus fokus di rumah singgah, ok. Sudahlah, ayo kita berangkat. Lihat nih dah jam berapa, kasihan mereka yang udah pada menunggu." Ucap Raka dan langsung menarik tangan Gea untuk masuk dalam mobil, Gea sendiri hanya bisa nurut dan tidak ingin menambah masalah jika dirinya harus mengulur waktu, pikirnya.
Selama perjalan, keduanya tak ada yang membuka suara. Bahkan, Gea sendiri memilih untuk bersandar di jendela kaca mobil.
__ADS_1