
Karena tidak ada pilihan lainnya, mau tidak mau Raka akhirnya ke rumah Gea.
"Selamat pagi Tante, Tuan." Sapa Raka saat bertemu dengan kedua orang tuanya Gea yang terlihat hendak pergi kerja.
"Pagi juga Nak Raka. Oh ya, saya dan ibunya Gea mau berangkat bekerja. Jadi, saya minta tolong sama kamu untuk temani Gea pergi ke tukang urut, soalnya kakinya belum sembuh kata Gea. Juga, kamu bilang kalau belum ada perubahan, kamu akan antar Gea ke tukang urut, benar kan?"
"I-i-iya Tuan, semalam saya memang bilang seperti itu." Jawab Raka sedikit terbata-bata.
"Ya udah kalau gitu, kamu masuk aja ke dalam. Gea ada di ruang tengah, temui aja dia. Lagi pula kamu dan Gea akan segera menikah, saya percayakan putri saya sama kamu." Ucap Tuan Herman, Raka mengangguk dan tersenyum.
"Baik, Tuan." Jawab Raka dengan senyuman yang ramah.
Setelah itu, Tuan Herman ditemani istrinya pergi ke kantor.
Gea yang tengah menahan rasa sakit pada bagian kakinya, benar-benar sangat sakit untuk dirasakannya.
"Gimana dengan kondisinya kaki kamu, apakah masih sakit? tidak bengkak, 'kan?"
__ADS_1
"Gak bengkak sih, cuma masih sakit aja." Jawab Gea menahan sakit.
"Pembantu rumah kamu mana? coba panggilkan, aku mau minta minyak urutnya. Kalau tidak ada, bisa diganti dengan lotion body."
"Bentar ya, aku panggilkan Bi Narsih dulu." Jawab Gea, Raka mengangguk tanda mengiyakan.
"Bi Narsih! Bi!" teriak Gea memanggil asisten rumahnya yang paling dipercaya.
Bi Narsih yang mendengar jika majikannya memanggil namanya, cepat-cepat untuk datang untuk menghadap pada majikan.
"Ya Nona, ada apa?"
"Oh, baik Tuan." Jawab Bi Narsih dan segera bergegas untuk mengambil sesuatu yang diminta oleh Raka.
Saat Bi Narsih pergi mengambilkan minyak urut dan body lotion, Raka sudah duduk didekat Gea di sofa.
Kemudian, Raka meraih kaki kanan miliknya Gea dan memeganginya untuk melihat kondisinya.
__ADS_1
"Mana yang sakit?" tanya Raka sambil memegangi pada bagian pergelangan kakinya.
"Itu, pas pergelangan kaki rasanya masih sakit." Jawab Gea sambil menunjuk pada bagian kakinya.
"Aw!" pekik Gea dengan sangat kencang.
"Maaf, sepertinya cukup lumayan sakitnya. Aku akan mencoba menurutnya lagi, tunggu pembantu kamu datang." Ucap Raka, sekilas Gea memperhatikan sosok Raka.
'Aku seperti dipertemukan lagi dengannya, lelaki ceroboh, galak, tapi dia bertanggung jawab meski usianya masih kecil.' Batin Gea yang justru dihanyutkan oleh lamunannya, hingga tanpa sadar kalau Raka akan memulai memijat kakinya Gea.
"Hei, jangan melamun, nanti ototmu menjadi lebih tegang. Mau di urut gak? kamu itu harus konsentrasi, jangan sampai melamun lagi." Ucap Raka membuyarkan lamunannya.
"Eh maaf, aku tadi lagi mikirin tugas kuliah, jadi rada oleng." Jawab Gea dengan berbagai alasan.
"Oh, kirain mikirin apa. Soal tugas kuliah tidak perlu kamu pikirkan terlalu dalem, aku usahain kita masih bisa untuk berangkat kuliah. Sudahlah, aku mau mengurut kaki kamu dulu. Jadi, diamlah dan jangan hanya komentar." Ucap Raka yang malas berdebat.
Gea yang tidak mau terus menerus menahan rasa sakit pada bagian pergelangan kakinya, hanya bisa nurut.
__ADS_1
Pelan-pelan Raka mengurut kaki Gea dengan penuh hati-hati, juga berharap dapat menahan rasa sakitnya.