Lelaki Bayaran

Lelaki Bayaran
Tidak ada pilihan lain


__ADS_3

Gea kembali meringis kesakitan saat kakinya terasa sakit akibat terkilir.


"Aw!" pekik Gea kembali menahan rasa sakit.


"Makanya kalau jalan itu hati-hati, punya mata untuk dilihat." Ucap Raka yang juga sambil menahan rasa sakit pada bagian sikunya yang berusaha untuk menahan tubuh Gea yang ada di atasnya.


Begitu juga dengan Gea yang sama halnya merasa sakit, hanya saja dirinya tidak terluka, melain terkilir bagian betisnya.


Raka yang kebetulan hanya mengenakan kaos oblong saja, tentunya sikunya terluka. Berkali-kali Raka mengusapnya karena ada goresan. Sedangkan Gea sendiri terus meringis kesakitan, dan terus memekik.


Berbeda dengan Raka, meski terasa cukup sakit, dirinya berusaha untuk mengabaikan lukanya meski goresannya itu mengeluarkan darah.


"Mana yang sakit?" tanya Raka sambil memegangi kakinya Gea.


Saat itu juga, Gea langsung menepis tangan Raka yang hendak memegangi kakinya di bagian betisnya.


"Jangan sentuh kakiku, kamu hanya pembawa sial untukku." Ucap Gea menolak.


"Jangan bandel, lebih baik kamu nurut saja denganku." Jawab Raga dan berusaha untuk jongkok dan langsung menggendong Gea ke tempat duduknya.

__ADS_1


"Lepaskan! hei! lepaskan aku, kupret."


Lagi-lagi Gea terus memberontak agar segera diturunkan. Saat itu juga si Raka menurunkan Gea di atas tempat dan meluruskan kakinya bertumpu di kursi yang satunya.


"Diam lah, kalau kamu tidak ingin menjadi pusat perhatian orang banyak." Ucap Raka yang langsung mengurut kaki Gea tanpa bantuan minyak khusus untuk mengurut.


Dengan pelan dan dengan caranya sendiri, Raka mengurut kakinya Gea walau sedikit susah. Namun, mau bagaimana lagi, tidak mungkin harus di pulang, pikirnya.


Gea yang berkali-kali memekik kesakitan, susah payah untuk mengontrol suaranya agar tidak kemana-mana terdengar.


"Aw! sakit, sakit tau, aw! pelan-pelan dong, sakit ini, aw! wei! sakit tau." Pekik Gea sambil menahan rasa sakit yang luar biasa karena terkilir.


Gea yang sudah seperti sport jantung dan juga napasnya yang tidak beraturan, membuatnya benar-benar merasa kesakitan yang begitu hebat.


"Coba kamu gerakin kakinya, putar pelan-pelan. Kalau masih ada rasa sakit, bilang aja." Perintah Raka sambil memperhatikan Gea yang benar-benar menahan rasa sakit.


Dengan nurut sambil memasang muka cemberut, Gea mencoba melakukannya sesuai perintah dari Raka.


Pelan-pelan Gea memutar kakinya dengan sangat hati-hati, sedikit-sedikit ia kembali putar untuk mencobanya, apakah masih ada rasa sakit atau enggaknya.

__ADS_1


Gea langsung tersenyum mengembang saat kakinya tidak begitu terasa sakit setelah di pijat ataupun diurut oleh calon suaminya.


"Gimana rasanya? apakah masih sakit?" tanya Raka sambil memperhatikan Gea.


Gea justru tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"I-i-iya, udah gak sakit lagi. Makasih ya, ternyata kamu jago mengurut, juga mijit."


"Hem. Sekarang baru memuji, dari tadi kemana aja itu pikiranmu yang selalu mengatai diriku pembawa sial." Ucap Raka sambil menatap Gea.


"Ya maaf, aku kan tadi reflek aja. Salah kamu, ngapain pakai lihat-lihat danau segala. Jadinya aku jatuh, 'kan? termasuk kamu."


"Kan kan kan, masih saja nyalahin aku. Sudahlah, ayo kita ikut duduk bareng di sana, jugaan ini sudah malam dan waktunya untuk pulang."


"Tapi,"


"Kenapa? masih sakit?"


"Sedikit, eh banyak. Maksudnya aku takut nanti sakit lagi, gimana dong? cariin tongkat apa apa sih, aku kan butuh alat penyangga." Jawab Gea sambil memegangi kakinya yang masih sedikit terasa sakit.

__ADS_1


Tidak punya cara lain selain menggendongnya, Raka kembali menggendong Gea sampai ke tempat duduk dimana kedua orang tuanya tengah menikmati obrolan.


__ADS_2