
Saat sudah berada di mana kedua orang tuanya mengobrol, Raka menurunkan Gea duduk di kursi.
"Gea, kamu kenapa Nak?" tanya ibunya saat melihat putrinya yang digendong Raka.
"Ada apa dengan pacarmu, Raka?" tanya ibunya Raka saat putranya menggendong calon menantunya.
"Ini Ma, Tante, em ... tadi kita berdua jatuh, tapi gak kenapa kenapa kok, serius. Cuma tergores aja, kalau untuk Gea tadi sudah aku urut." Jawab Raka sedikitpun tidak ada yang ditutupinya.
"Oh, lain kali hati-hati. Syukur lah kalau tidak kenapa kenapa. Untuk Gea, kalau masih sakit bilang aja, nanti sama Raka biar diantar ke tukang urut." Ucap ibunya Raka.
"Tidak apa-apa kok Tante, ini sudah mendingan. Nanti kalau memang masih sakit, Gea akan pergi ke tukang urut, Tante." Jawab Gea.
"Karena sudah malam, dan juga sudah dil dengan hari dan tanggal pernikahan, bagaimana kalau kita langsung pulang saja." Ucap Tuan Handika mengajaknya untuk pulang.
Raka maupun Gea sama-sama menoleh dan menatap satu sama lain.
"Menikah?" tanya keduanya dengan kompak.
"Ya, bukankah kalian berdua sudah siap untuk menikah?"
__ADS_1
Saat itu juga, keduanya baru menyadarinya. Lagi-lagi jalan keluarnya hanya nyengir kuda.
"Lupa, Ma, Pa." Jawab Raka dan Gea bersamaan.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita pulang." Ajak Tuan Herman.
Karena sudah tidak ada yang harus diobrolin lagi, mereka semua bergegas pulang ke rumahnya masing-masing.
Gea maupun Raka yang serasa makan buah simalakama, benar-benar diluar pikirannya. Pernikahan yang ia anggap hanyalah sebuah perjanjian, tapi kenyataannya justru akan sulit berpisah.
Lebih lagi dengan Gea yang sudah membayar mahal kepada Raka, pastinya menyesal yang penuh sia-sia.
"Bi Narsih."
"Ya Non, ada apa?"
"Bibi bisa pijitin kaki yang terkilir enggak? soalnya kaki aku masih sedikit sakit Bi. Ya gak begitu sakit banget sih, cuma masih ada rada rada sakit sedikit."
"Bisa Non, tapi tidak begitu mahir. Kalau Nona Gea tidak keberatan, Bibi akan mengurut kakinya Nona." Jawab Bi Narsih.
__ADS_1
"Boleh deh Bi, tapi bener ya Bi, harus bisa sembuh. Soalnya kalau masih sakit, besok kuliahnya gimana? mana ada tugas yang belum aku kerjakan lagi, ih! sial banget sih ini malam. Mana udah kehilangan uang satu miliar, mana ujungnya sama lelaki yang memang mau dijodohkan denganku, apes banget kan akunya." Pinta Gea yang tidak sadar jika dirinya terus menggerutu tanpa ia saring dulu ucapannya.
"Uang satu miliar kamu bilang?" tanya sang ibu yang gak tahunya sudah berada dikamar putrinya.
Seketika, Gea langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian ia segera menoleh ketika mengetahui ibunya tengah berjalan mendekati.
"Eh Mama, baru masuk ya?"
"Jawab pertanyaan dari Mama, apa maksudnya uang satu miliar, Gea?"
Gea nyengir kuda.
"Em ... itu Ma, tadi lagi baca novel yang dijodohkan. Ya ya ya, perempuan itu akhirnya menerima uang satu miliar untuk dijadikan kompensasi." Jawab Gea yang akhirnya beralasan, meski sebenarnya memang dia sendiri yang menjadi pelakunya.
"Kamu gak bohong, 'kan?" tanya ibunya yang kedengaran seperti orang yang tengah menginterogasi.
"Serius lah Ma. Soalnya aku bacanya terlalu menghayati, jadi sampai terngiang-ngiang Ma." Jawab Gea yang berusaha untuk beralasan.
"Ya udah, sekarang kamu segera istirahat. Ingat ya, satu minggu lagi kamu sama Raka akan segera menikah." Ucap ibunya mengingatkan.
__ADS_1
Gea menganggukkan kepalanya, yakni untuk meyakinkan ibunya.