Lelaki Bayaran

Lelaki Bayaran
Berusaha memberi alasan


__ADS_3

"Aw! sakit tau, pelan pelan dikit kenapa." Pekik Gea sambil meringis sambil menahan rasa sakit pada bagian kaki kanannya.


"Makanya kalau jalan itu hati-hati, ini nih jadinya." Ucap Raka sambil mengurut kaki Gea.


Sedangkan Gea sendiri masih terus menahan rasa sakit, juga susah payah agar tidak memekikkan suaranya.


"Aw! sia_lan, kenapa malah pukul aku? aih."


"Maaf, habisnya kamu terlalu kuat mijitnya, kan sakit." Ucap Gea dengan memasang muka yang cemberut.


"Hem, makanya ditahan sakitnya. Kamunya aja yang pecicilan, gak bisa hati-hati."


"Dih! malah nyalahin, ini semua juga gara-gara kamu. Tau gini kalau kamu yang dijodohkan, ogah aku bayar kamu. Pokoknya aku gak mau tau ya, balikin uang satu miliar milikku, titik."


Raka justru menjulurkan lidahnya dengan sengaja meledek Gea.


"Siapa juga yang bayar, kan kamu sendiri yang minta aku untuk menjadi suami bayaran mu, itu sudah resiko mu."


Gea yang semakin geram mendengarnya, pun langsung mencubit lengan miliknya Raka. Seketika, Raka terperanjat karena kesakitan.


"Kamu itu cewek apa harimau lah, sadis banget jarimu itu. Gak bisa aku bayangin menikah denganmu, remuk sudah badanku semuanya dah." Ucap Raka yang bergidik ngeri ketika menikah dengan Gea, pikirnya.


"Itu sudah menjadi resiko mu, mau balikin uangku atau enggaknya, wek ...." Jawab Gea dan tidak kalahnya yang juga ikutan menjulurkan lidahnya.


Saat itu juga, rupanya Bi Narsih membawakan air minum untuk Raka dan juga untuk Gea.


"Silakan diminum, Tuan." Ucap Bi Narsih saat menyodorkan air minum untuk Raka.


"Ya Bi, makasih." Jawab Raka dibarengi anggukan.


Setelah merasa cukup memberi pijatan kepada kakinya Gea, Raka menghentikan pijatannya.


"Coba kamu putar putar sebentar bagian pergelangan kakimu, masih ada rasa sakit atau enggaknya. Jangan membohongi aku, nanti yang ada kakimu tidak sembuh sembuh." Ucap Raka memberi perintah kepada Gea.


Dengan penuh hati-hati, Gea menggerakkan pergelangan kakinya, juga memutarnya dengan pelan.

__ADS_1


"Gimana rasanya? masih sakit atau gak? kalau masih sakit bilang aja, jangan ditutup tutupi. Hari ini juga aku akan mengantarkan kamu ke tukang urut."


"Udah mendingan, makasih ya. Maaf, tadi udah bikin kesal kamu. Soal uang satu miliar, buat kamu aja, aku gak butuh, tapi tetap perjanjian akan menjadi perjanjian." Ucap Gea yang kini nada suaranya terdengar serius.


Raka yang mendengarnya, pun tersenyum.


"Aku akan mengembalikannya sama kamu kalau aku sudah menyerah menjalani pernikahan denganmu, atau sebaliknya. Jika kamu menyerah dengan hubungan pernikahan kita nanti, aku tidak akan mengembalikan uangmu. Aku akan memberikannya pada orang lain yang membutuhkannya." Jawab Raka yang berubah dengan obrolan yang serius.


"Terus,"


"Apanya yang terus?"


Gea tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Kalau kita bahagia dengan pernikahan kita, aku akan tetap mengembalikannya padamu." Ucap Raka yang kini tanpa menatap Gea, justru menatap ke sembarang arah.


"Eh maaf," kata Gea saat air minumnya kesenggol oleh sikunya Raka sendiri, dan akhirnya membasahi bajunya.


Raka langsung menyibakkan baju yang basah karena air minum. Cepat cepat Gea mengusap baju kemejanya dengan tissue.


"Tidak apa-apa, nanti juga kering sendiri." Jawab Raka yang tidak sengaja memegang tangan Gea.


Saat itu juga, Gea menatap wajah Raka dengan intens.


"Maaf, sepertinya aku harus kembali ke kampus. Kalau kaki kamu masih sakit, mendingan kamu di rumah saja, dan tidak usah memaksakan diri untuk berangkat kuliah." Ucap Raka yang tidak ingin terbawa suasana.


"Aku ikut, pelan-pelan juga bisa kok. Soalnya hari ini aku harus berangkat, tugasku banyak dan harus selesai hari ini juga." Jawab Gea yang tetap bersikukuh untuk berangkat kuliah.


"Serius? nanti sakit lagi buat jalan, biar aku aja yang akan izinkan kamu absen." Ucap Raka yang merasa tidak tega ketika melihat Gea yang menahan rasa sakit pada kakinya.


"Aku serius, aku tidak apa-apa. Jugaan tidak begitu serius kok sakitnya, aku gak bohong." Jawab Gea yang tetap bersikukuh untuk tetap berangkat kuliah.


"Ya udah kalau kamu masih tetap memaksa, ayo kita berangkat. Kalau masih sakit bilang aja, nanti aku gendong." Ucap Raka menawarkan diri untuk siap menggendong calon istrinya lewat perjodohan.


"Gak perlu, aku bisa jalan kok, serius." Jawab Gea yang tidak ingin merepotkan.

__ADS_1


Sampainya didepan rumah, Raka membantu Gea membukakan pintu mobil. Dengan hati-hati, Gea masuk ke dalam.


Selama perjalanan menuju kampus, Gea menatap lurus ke depan. Sedangkan Raka sendiri fokus dengan setirnya, lantaran dirinya memilih untuk tidak menggunakan jasa supir, dan memilih supirnya untuk pulang ke rumah.


Gea yang was-was, sadari tadi tidak ada henti-hentinya mengecek ponselnya karena kehabisan waktu.


"Tenang saja, masih banyak waktu." Ucap Raka sambil menyetir, dan tak lupa menoleh walau hanya selintas saja.


"Ya, semoga saja aku tidak terlambat." Jawab Gea penuh khawatir.


Tidak lama kemudian, akhirnya sampai juga di halaman kampus. Gea yang masih melihat banyak mahasiswa maupun mahasiswinya masih berlalu lalang didalam lingkungan kampus, pun merasa lega.


Tapi siapa sangka jika di dekat pintu mobil kemudi sudah ada sosok perempuan yang tengah berdiri, dan terlihat siap menyambut seorang Raka.


"Aku duluan ya, sepertinya itu pacarmu. Maaf, jika aku sudah mengganggu waktumu." Ucap Gea sebelum turun dari mobil.


"Tunggu, Gea."


"Sudah ya, aku duluan. Nanti kamu tidak perlu mengantarkan aku pulang, biar aku pulang bareng Raya dan kedua temanku saja, ok."


"Gea!"


Saat itu juga, Gea langsung menutup kembali pintu mobilnya dan bergegas pergi. Kini tinggallah Raka sandirian, dan terpaksa turun.


"Sayang, aku kangen berat sama kamu, tau." Sebut Lisa langsung memeluk Raka dengan erat, juga yang memaksakan diri untuk mendatangi kampus yang dimana Raka tengah menimba ilmunya.


"Lisa, lepaskan pelukanmu, aku malu. Ingat, ini kampus, bukan tempat untuk berkencan." Ucap Raka yang berusaha untuk melepaskan pelukan dari Lisa, yakni kekasihnya.


"Kamu ini gimana sih? kan bentar lagi kita akan menikah, kenapa mesti malu juga?"


"Jangan ngomongin pernikahan di kampus ini, mendingan kamu pulang dulu. Janji, nanti setelah pulang kuliah, aku bakal melakukan pertemuan denganmu."


"Oooh, jangan-jangan perempuan tadi yang bersama kamu itu pacar barumu? ngaku aja kamunya sayang."


"Aku lagi banyak tugas, ngobrolnya nanti lagi. Kamu tenang saja, aku bakal main ke rumah mu setelah pulang nanti, ok." Jawab Raka berusaha untuk beralasan, karena tidak mungkin juga jika dirinya harus berkata jujur.

__ADS_1


Lisa yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau, akhirnya menurutinya.


__ADS_2