
Gea yang merasa seperti orang yang bodoh, baru menyadari jika apa yang dilakukannya itu sangatlah salah. Lebih lagi dirinya mau membayar laki-laki dengan harga yang begitu tinggi, tentunya jumlah nominal yang cukup besar.
Lebih memilih untuk mencari ketenangan dari pada menemui teman-temannya, Gea berdiri di sudut kampus yang biasa digunakan untuk bersantai.
"Aaaaaaa!" teriak Gea sekencang mungkin, agar rasa penat yang tengah dirasakan segera pergi jauh, pikirnya.
PLAK!
"Aw!" biasa aja itu mulut, gak perlu teriak-teriak gitu juga kali."
Gea langsung menoleh dan melihat siapa yang sudah mengganggunya itu.
"Kamu! aih, ngapain ngikuti aku."
"Mana aku tahu kalau kamu ada disini, jangan kepedean kamunya. Teriak teriak gitu, kamu nyesel? maksud aku bayar satu miliar sama aku. Kalau sampai kamu menggagalkan bayaran itu, maka aku akan menyebar berita tentang kamu. Karena apa? karena aku mempunyai rekaman tersembunyi yang gak bisa ketahui." Ucap Raka dengan sengaja menakuti Gea, tentunya agar menggagalkan rencananya itu.
Gea menoleh dan menatapnya tajam.
"Enggak! aku gak nyesel sama sekali, yang penting itu kamu mau nerima syarat dariku."
"Syarat macam apa? itu ya, si apa itu, oh yang anu itu ya."
Gea langsung melotot tanpa berkedip, tentu saja membuat Raka tertawa kecil melihat ekspresi Gea yang menurutnya sangat lucu, justru sama sekali tidak menakutkan.
__ADS_1
"Mendingan kamu itu pergi aja deh, eneg aku lihat kamu. Udah mulut gak bisa di rem, bikin jengkel mah ya."
"Ok ok, aku akan pergi dari sini. Ingat ya, janji untuk mempertemukan kedua orang tua kita. Satu lagi, jangan lupa untuk mentransfer jumlah nominalnya, ok. Aku pamit, silakan hubungi Ervin lewat teman kamu itu, aku tunggu sampai nanti malam, ok."
Gea mengangguk sambil menatapnya dengan perasaan dongkol, juga ingin rasanya memaki Raka dengan penuh kekesalannya.
Kemudian, Gea membuang napasnya dengan kasar.
"Si_al! ngapain juga mesti dipertemukan dengan itu anak. Kalau sampai aku menggagalkan, pasti dia akan menyebarkan berita yang tidak tidak tentangku yang mencari laki-laki untuk dibayar senilai satu miliar. Aaaaa!"
Gea pun berteriak kembali pada kalimat terakhirnya, benar-benar menyesali dengan ide dari temannya itu.
Di lain sisi, Raka yang berhasil memberi ancaman kepada Gea, seolah mendapatkan durian runtuh.
"Lisa," gumamnya saat melihat nama kontak nomor lewat akun medianya.
"Ya sayang, kenapa?" tanya Raka dengan malas. Namun, pendengarannya tetap fokus.
"Apa! kamu sudah pulang? serius?"
Alangkah terkejutnya saat mendengar jawaban dari pacarnya yang bernama Lisa.
"Ok ok, besok malam aku ke rumah, untuk malam ini aku ada acara bersama keluargaku. Aku janji, besok malam aku pasti datang, ok." Ucap Raka yang berusaha untuk meyakinkan kekasihnya itu agar tidak menaruh curiga.
__ADS_1
Lisa yang ada di sebrang telpon, pun mempercayainya. Raka yang merasa lega, akhirnya tidak dihantui dengan perasaan kepanikan.
"Gila gila, udah kek mau punya istri dua aja. Memang berat rupanya punya istri dua itu, bisa mati mendadak kalau gini. Pantes saja Mama sangat galak, rupanya agar Papa tidak terpincut wanita lain." Gumamnya setelah memutus sambungan telponnya.
"Duar!"
"Apa lagi?"
"Kek orang panik, ada apa Bro?" tanya Edar yang juga teman gengnya Raka.
"Ini gue lagi males aja mau masuk jam pelajaran, apalagi dosennya udah tuwir, bikin gak semangat aja."
"Kamu ini, makanya pacar mu itu suruh balik, agar kamu gak kek cacingan gini. Uring-uringan kan Lu."
"Si_alan Lu, punya istri dua enak gak ya Bro."
"Enak kalau gak ketahuan, gak enaknya Lu bakal kelabakan. Yang duh sangat berbeda jauh dunia nyata sama dunia sinetron."
"Maksudnya Lu?"
"Dunia nyata itu, istri pertama lebih galakan dari pada istri kedua." Jawab Erda sambil tertawa kecil.
"Ah, sia_lan kamu. Bukannya kasih jawaban yang bener, eee bikin perutku mules." Kata Raka.
__ADS_1
Erda hanya tertawa kecil saat melihat Raka yang terlihat gelisah.