
Raka yang mendengar penolakan dari Gea, pun mengetuk meja dengan jari-jarinya secara bergantian dan berpikir.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, aku akan mengatakannya langsung kepada kedua orang tua kita. Tentu saja untuk mengatakan kalau kamu sudah membayar ku dengan uang satu miliar, bagaimana menurut mu?"
Saat itu juga, rupanya keduanya langsung sama-sama menoleh satu sama lain hingga pandangan mereka berdua saling menatap.
"Sialan kamu ini, sudah berani-beraninya memberi ancaman padaku. Kalau saja aku belum memberimu uang satu miliar, tentu saja aku tidak sudi menikah denganmu." Ucap Gea dengan sungut, juga dengan perasaan dongkol.
Tidak harus menunggu lama, dua orang pelayan tengah membawakan pesanannya.
Dengan sangat hati-hati, kedua pelayan tersebut secara bergantian meletakkannya di atas meja. Kemudian mempersilakannya untuk menikmati makanan tersebut.
Gea yang menahan kesal kepada Raka, sama sekali tidak menatapnya. Seolah olah dirinya acuh tak acuh.
Sambil menikmati makan malam yang terasa hambar, Gea terus mengunyah sambil memperhatikan Raka yang juga tengah menikmati makan malamnya yang sama hambarnya.
__ADS_1
"Gak usah memperhatikan ku seperti itu, nanti kamu benar-benar jatuh cinta padaku kan aku yang repot. Eh! ngga juga, justru aku akan senang, karena aku tidak repot-repot mengembalikan uang satu miliar kepadamu." Ucap Raka dengan sengaja memancing emosi Gea, tentunya untuk mengerjainya.
"Dih! kepedean, siapa juga yang mau jatuh cinta sama laki-laki macam kamu." Jawab Gea yang tidak mau kalah dari Raka.
"Siapa tau aja, secara aku ini laki-laki tampan dan bisa dikatakan sempurna." Ucap Raka sambil memuji dirinya sendiri.
Saat itu juga, Gea mendadak batuk dibuatnya. Dengan sigap, Raka langsung menyodorkan minuman satu gelas air putih kepada Gea.
"Nih diminum. Makanya kalau aku sedang bicara itu didengarkan, gak percayaan sih kamunya. Jelas-jelas aku ini tampan, cewek cewek aja banyak ngantri." Ucap Raka sambil meledek Gea.
Raka yang malas menjawabnya, langsung mencari suasana lain, yakni untuk pindah tempat duduknya.
"Setelah ini aku mau ke sebelah situ, mau lihat danau kecil itu. Katanya sih sangat sejuk dan udara yang dingin, tapi gak tahu untuk pengolahannya." Ucap Raka sambil menunjuk ke arah danau kecil.
Gea masih mengunyah makanannya, juga dirinya sambil memperhatikan jari telunjuk Raka yang mengarah pada danau yang dimaksudkan.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Raka bergegas meninggalkan Gea yang juga baru selesai makan.
"Das_ar lelaki angkuh, keras kepala." Gerutunya dan segera menyusul Raka yang tidak lain calon suaminya.
Belum juga sampai di tempat dimana Raka menikmati keindahan malam hari ditepian danau kecil, rupanya Gea sedikit kesulitan untuk melangkahkan kakinya karena jalanan yang cukup banyak bebatuan yang sengaja dibuatnya sedikit kasar.
Raka yang melihat Gea sulit menjaga keseimbangan tubuhnya, seoalah tengah memberi kode padanya.
"Awaaaas ...!" Teriak Raka yang langsung menangkap tubuh Gea yang rupanya jatuh bersamaan.
"Aw...!" pekik keduanya yang sama-sama terjatuh dengan posisi Gea yang berada di dekatnya.
Raka maupun Gea sama-sama menahan rasa sakit serta malu.
"Ini semua tuh gara-gara kamu yang mengajakku ke danau. Si_al, benar-benar si_al nasibku ini." Ucap Gea penuh dengan kesal.
__ADS_1