
Raka yang merasa lega karena tidak harus berdebat dengan Lisa, pun segera masuk ke dalam.
"Kamu kenapa Bro? kek dikejar jin aja kamu ini."
"Lisa tadi Lisa, kenapa kamu gak bilang kalau Lisa ada di kampus ini? hih! pingin jitak pala mu itu."
"Ya Mana aku tahu, Bro. Dia bilang tadi itu katanya ada janjian sama kamu, ya udah aku percaya aja sama Lisa lah. Bukannya kamu senang kalau Lisa udah pulang? oh jangan-jangan kamu mulai tertarik nih ya, sama si Gea itu, yang berani membelimu seharga satu miliar."
"Ngaco! kamu itu, dah lah ayo kita masuk. Jangan tambah kepala aku jadi pening, ayo." Dengan paksa, Raka menarik lengan baju miliknya Ervin.
Sedangkan Gea yang baru saja masuk ruangan, mencoba untuk mengatur napasnya karena harus berlari dengan kakinya yang masih terasa sakit demi tidak terlambat, tentunya terengah-engah napasnya.
"Kamu ini dari mana sih, Gea? sampai gitu napas mu itu. Nih, minum dulu biar agak redaan itu napas mu." Ucap Raya sambil menyodorkan satu botol air mineral.
"Ya nih, kamu kenapa Gea?" tanya Raya ikut menimpali.
"Kaki aku tuh semalam sakit banget, aku jatuh Ray." Jawab Gea sambil menunjukkan kakinya yang terkilir.
"Jatuh? jatuh dimana?" tanya Landa yang penasaran.
"Semalam tuh aku entah sial atau apalah, gak tahunya si Raka itu lelaki yang mau dijodohkan sama kedua orang tuaku."
"Apa!" ketiga temannya pun mendadak terkejut.
__ADS_1
"Iya, si Raka yang ternyata mau dijodohkan sama aku. Makanya nih, hari pernikahan aku mau dipercepat. Gimana dong? mana itu cowok nyebelin banget. Aku jatuh juga karenanya, sial banget dah."
"Terus, kamu udah pijat?" tanya Veliana.
Gea mengangguk pelan.
"Sudah, Raka yang mengurut kakiku. Ya lumayan sih, udah agak mendingan."
"Nah itu si Raka tanggung jawab, kenapa bisa nyebelin? oh inikah awalnya jatuh cinta."
Seketika, Raya meledek Gea dengan ekspresinya. Sedangkan Landa dan Veliana pun tertawa kecil melihat ekspresi dari Raya.
"Ih! Raya, apa-apaan sih kamu ini, jangan membuatku malu kenapa."
"Ya ya, benar juga yang kamu katakan Ray." Jawab Veliana.
"Hem. Puji terus tuh si Raka, sampai yang punya nama kepedean." Ucap Gea dengan ekspresi yang terlihat ketus.
Sedang ketiga temannya justru tertawa renyah.
"Eh diam diam diam, tuh si dosen killer udah masuk. Ngobrolnya nanti lagi di kantin, ok." Ucap Raya yang buru-buru membenarkan posisi duduknya.
Lain lagi dengan Raka, sama halnya tengah mendengarkan dosen yang sedang memberi materi, meski pikirannya entah kemana.
__ADS_1
Benar saja, rupanya Raka tengah melamun dan sampai-sampai tidak sadar jika pak Dosen sudah duduk didekatnya.
"Raka, Raka, Raka!"
"I-iya Pak, ya Pak."
"Huuuuuu ...!" sorak sorai tengah bersuara oleh seisi ruangan.
Malu, itu sudah pasti.
BRAK!
Sambil menggebrak, Raka bangkit dari posisi duduknya.
"Sudah, kembali duduk." Perintah Pak Dosen yang memilih melerai dari pada harus menambah keribu.
Raka yang terpancing emosinya, ingin rasanya menyumpal mulutnya satu persatu.
"Diam! semuanya. Sekarang kita lanjutkan lagi materinya."
Pak Dosen dengan suara yang keras agar tidak ada kericuhan didalam ruangan.
"Sudah lah Bro, gak perlu kamu tanggapi mereka. Kamu ini sebentar lagi mau menikah, masa iya mau terus terusan menjadi jagoan." Bisik Ervin mengingatkan, tentunya untuk menenangkan pikirannya Raka.
__ADS_1
Dengan terpaksa harus menuruti perkataannya Ervin, akhirnya Raka mencoba untuk tidak membalas teman satu ruangan yang sudah menyoraki dirinya.