
Tidak ada paksaan apapun terhadap kekasihnya, Raka memilih untuk tidak sibuk untuk mendesak atau pun yang lainnya.
Saat mengenakan pakaiannya, Raka kembali teringat jika dirinya ada ajakan dari teman-temannya untuk berkumpul di sebuah Cafe.
"Ah ya, Ferdi tadi kan mengajakku untuk kumpul bareng di Cafe. Boleh juga keknya daripada jenuh di dalam rumah nganggur gini, kepalan juga jadi penat terus terusan berada di kamar." Ucapnya saat hendak mau menyisir rambutnya.
Tidak mau menyia-nyiakan waktunya, Raka bergegas keluar untuk makan malam bersama anggota keluarganya.
Lain lagi dengan Gea, dirinya tengah sibuk dengan layar laptopnya. Keseharian Gea ikut dalam binaan bersama rekan rekannya dalam membentuk komunitas untuk menampung beberapa anak anak jalanan yang tidak lagi mempunyai keluarganya.
Bahkan, kedua orang tuanya sendiri tidak mengetahuinya jika putrinya mempunyai komunitas sendiri bersama teman-temannya.
"Yes! besok kan hari minggu, aku akan pergi ke rumah singgah. Semoga saja aku tidak dipertemukan lagi dengan laki-laki songong itu. Bisa-bisa berantem terus dan berantem, mana itu anak keras kepala, lagi." Gumam Gea sambil mengirimkan sebuah pesan kepada rekannya.
"Siapa yang keras kepala? hem."
__ADS_1
Gea langsung menoleh dan mendongak, lantaran dirinya dengan posisi duduk.
"Papa, ngagetin Gea aja ih."
"Memangnya kamu lagi ngapain? kelihatannya sibuk gitu. "
"Ini Pa, Gea lagi chatting sama teman-teman Gea. Kalau Papa tidak keberatan, nanti malam Gea mau kumpul bareng teman-teman, gimana Pa? boleh gak?"
"Malam ini di rumah kakek ada acara, jadi Papa tidak mengizinkan kamu untuk pergi bareng teman-teman kamu."
"Bukan, ini acara bersama rekan rekannya Kakek juga, bukan soal keluarga saja yang kumpul. Sudahlah, lebih baik kamu segera siap-siap dan dandan yang cantik. Ini sudah hampir jam tujuh, tuh lihat."
"Ya deh ya, males sebenarnya sih Pa. Enakan juga kumpul bareng yang sama satu frekuensi daripada harus kumpul bersama orang-orang yang gak nyambung, model udah ibu-ibu sama bapak-bapak."
"Gak boleh bicara seperti itu, Gea. Acara ini kan di rumahnya kakek, masa' iya gak datang. Nanti gimana pandangan mereka, bagian keluarga kok gak kelihatan." Kata ibunya ikut menimpali.
__ADS_1
"Hem, ya deh ya. Tapi jangan malam malam banget ya Ma, Pa, males tau kalau harus bertemu dengan Vanes, mulut yang sombong itu." Ucap Gea dengan muka cemberut, lantaran paling malas ketika harus bertemu dengan sepupunya sendiri.
"Kamu ini, sama saudara sendiri gak mau akur."
"Habisnya itu Vanes bener-bener nyebelin, sombongnya selangit. Mentang-mentang pacarnya orang tajir, tapi gak begitu juga dong."
"Hem, jangan marah-marah gitu dong. Nanti kalau cantiknya hilang, gimana? mendingan kamu buruan siap-siap, nanti akan Mama ajak ke rumah kakek. Oh ya, bajunya udah di taruh di kamar sama Bi Narsih. Nanti kamu juga bakal dijemput sama Raka, calon suami kamu."
Gea langsung melotot ketika mendengar ibunya menyebut nama Raka, tentunya tidak asing dengan nama itu.
"Raka, Mama bilang? yang benar aja. Kan, bilangnya acara keluarga, kok ada Raka sih Ma." Protes Gea.
"Agar kamu gak kesepian, soalnya calon suaminya Vanes juga datang. Jadi, siapkan dirimu dengan secantik mungkin. Kamu penasaran kan, siapa calonnya Vanes? makanya ikut acara di rumah kakek."
Gea hanya menelan ludahnya dengan kasar.
__ADS_1