
Tidak lama kemudian, kedua orang tuanya keluar dari kamar dengan penampilannya yang terlihat elegan. Sedangkan Gea juga mengenakan pakaiannya yang cukup anggun untuk dikenakan.
Dengan polesan wajah yang tidak begitu tebal dan mencolok, juga pakaian yang tidak begitu glamor, Gea terlihat cantik.
"Sudah siap?" tanya ibunya.
"Sudah Ma," jawab Gea dengan anggukan.
"Kamu sangat cantik, tapi sayangnya Mama belum mengetahui lelaki yang akan menjadi pilihan kamu. Mama dan Papa hanya bisa berharap, semoga lelaki pilihan kamu memang pantas untuk menjadi pasanganmu." Ucap ibunya seperti ada rasa tidak rela ketika putrinya memutuskan untuk memilih calon suami tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya dulu.
Gea yang tidak ingin datang terlambat, dirinya segera berangkat bersama kedua orang tuanya. Sama halnya dengan Raka, juga tengah dalam perjalanan menuju restoran yang sudah dijanjikan.
Cukup lama dalam perjalanan, rupanya antara Gea dan Raka akhirnya sampai juga di waktu bersamaan.
Gea yang gugup karena takut ketahuan karena sudah berbohong, akhirnya pun panas dingin yang tengah dirasakannya.
Begitu juga dengan Raka, dirinya yang sama halnya seperti Gea, juga ikutan pamit ke kamar mandi. Sedangkan kedua orang tua Masing-masing memilih keluar dari mobil sambil menunggu anaknya masing-masing.
__ADS_1
"Loh, Tuan Herman."
"Loh! Tuan Handika. Kok ada disini?"
"Ya, mau makan malam aja bareng anak. Tuan sendiri ada pertemuan dengan siapa di sini?" jawab Tuan Handika dan balik bertanya.
Mereka berdua sama-sama kaget saat bertemu. Karena tidak mungkin berkata jujur dan takut menyinggung perasaan, akhirnya sama-sama mencari alasan.
"Ini, saya lagi ada pertemuan dengan saudara jauh. Jadi, saya mengajaknya untuk bertemu di restoran ini." Kata Tuan Herman beralasan.
"I-i-iya, Tuan. Kalau gitu saya duluan yang masuk, mari." Jawab Tuan Herman.
Sedangkan kedua orang tuanya Raka langsung mengusap dadanya karena merasa lega, yakni tidak jadi ketahuan saat hendak melakukan pertemuan dengan keluarga calon istri anaknya.
Tuan Handika langsung membuang napasnya dengan kasar, benar-benar sangat lega, pikirnya.
Sedangkan Gea dan Raka tengah melakukan strategi baru untuk kong kali kong.
__ADS_1
"Ingat ya, kamu duluan yang masuk ke dalam ruangan. Nanti aku dan kedua orang tuaku akan menyusul." Ucap Raka memberi saran kepada Gea.
"Yakin jika kita tidak akan ketahuan? aku takutnya kita akan ketahuan bohongnya." Jawab Gea sedikit ada rasa takut ketika kebohongannya akan terbongkar oleh kedua orang tua masing-masing.
Raka yang tidak ingin berlama-lama berdiskusi, langsung mendorong tubuh Gea agar segera masuk ke dalam restoran.
Setelah itu, Raka bergegas menemui kedua orang tuanya.
"Kamu ini, lama banget sih. Hampir saja ketahuan sama teman baik Papa, ayo kita cari tempat yang lebih sepi."
"Memangnya kenapa, Pa?"
"Tanya kenapa, teman baiknya Papa yang sudah berencana untuk menjodohkan kamu dengan putrinya ada di restoran ini juga. Kalau sampai ketahuan, mau ditaruh dimana muka Papa ini, Raka."
"Ya deh ya, maaf. Nanti aku akan carikan tempat yang lebih sepi, aku mau hubungi pacar aku dulu." Kata Raka yang akhirnya segera menghubungi Gea.
Begitu juga dengan Tuan Herman, sama halnya tengah berhati-hati.
__ADS_1