
Tidak terasa juga, waktu pun telah lewat. Juga, sudah waktunya kembali ke ruangan untuk mengikuti materi selanjutnya dari dosen.
Begitu juga dengan Gea, dirinya pun sama tengah masuk kedalam ruangan untuk mengikuti materi yang akan disampaikan oleh Dosen.
"Gea, nanti malam bisa gak nih, biasalah malam minggu."
"Aku gak tahu Ray, sepertinya aku mau di rumah aja deh. Jugaan nih kaki belum juga masih ada rasa nyeri nyerinya dikit. Kalian kalau mau janjian juga gak apa-apa, tapi kalau aku keknya gak bisa." Jawab Gea menolak, lantaran kondisi kakinya yang masih terasa sakit.
"Yah, payah kamunya Gea. Malam minggu nih, ikutan kenapa lah, ayo dong ikutan." Rayu Landa ikut menimpali.
"Gimana ya, lihat aja nanti malam deh. Kalau dapat izin dan kondisi kakiku agak mendingan, aku akan ikut. Tapi, tapi nih ya, kalau aku gak bisa, jangan marah ya." Jawab Gea mencoba untuk meyakinkan ketiga temannya.
"Nah gitu dong, aku berharapnya sih kamu akan datang."
"Hem. Itukan maunya kalian, kalau aku gak dapat izin bagaimana?"
"Nah, kan ada Raka calon suami kamu. Ngapain juga gak minta bantuan si Raka untuk jemput kamu, ayolah rayu dia. Lagian juga nih, kamu udah bayar mahal sama itu cowok. Kenapa kamu gak manfaatin aja coba." Kata Landa ikut memberi saran.
"Sudah sudah sudah, dosen killer-nya udah datang tuh." Ucap Gea sambil menunjuk pada Dosen yang baru saja masuk ke ruangan.
Ketiga temannya Gea langsung tertuju ke depan dan yang dilihatnya memang lah benar jika Pak Dosen sudah masuk dan siap untuk memberi materi.
Cukup lama mengikuti jam belajar, tidak terasa sudah waktunya pulang. Sorak sorai dalam satu ruangan tengah menghebohkan isi dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Begitu juga dengan Raka, pun sama sudah waktunya untuk pulang. Saat itu juga, dirinya teringat jika pulangnya harus mengantar calon istrinya.
"Bro, aku ikutan nebeng ya." Ucap Ferdi sehabis menepuk punggungnya Raka.
"Gak bisa keknya, aku harus mengantarkan pulang seseorang. Jadi, kamu nebeng saja sama Doni." Jawab Raka menolak.
"Nganter seseorang, siapa Bro?" tanya Ferdi penasaran.
"Anak kampus disini aja, anaknya teman akrabnya ayahku. Jadi, sorry aku gak bisa." Jawab Raka dengan santai.
"Cewek apa cowok?"
"Cewek lah, kalau cowok sudah jelas aku tidak menolak dirimu."
"Sia_lan, kamu. Bukan suhu akunya, tapi kamu suhunya dalam memacari dua, tiga, empat wanita."
"Aih, kamu mah sok tahu. Ya udah kalau gitu, aku gak jadi nebeng kamu. Aku pulang duluan, dan ingat nanti malam kita kumpul di cafe." Ucap Ferdi.
Raka mengangguk.
"Ya, aku akan usahakan datang. Tapi aku gak janji, tetap akan aku usahakan." Jawab Raka.
Setelah itu, Raka bergegas keluar.
__ADS_1
Gea yang juga baru saja keluar, pun mencari keberadaan Raka.
"Aku pulangnya naik taksi aja apa ya, malu juga kalau nebeng itu cowok. Dikira nanti aku yang ingin dekat-dekat dia, aku pun harus jual mahal di hadapannya. Dih! benar-benar menyebalkan. Tau gini tadi telpon supir di rumah, jadi gak kek orang hilang gini."
"Hei, mau pulang? calon suami kamu mana? maksudnya aku si Raka. Kamu gak pulang bareng dia?"
Gea yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan dari seseorang yang ada disampingnya, pun langsung menoleh dan mendongak.
Gea pun terkejut melihatnya.
"Kamu, kok masih ada di kampus ini? kamu dosen kah?" tanya Gea penasaran dan menyimpan rasa ingin tahu.
"Ya, aku kan dah bilang kalau aku ada urusan penting di kampus ini. Tentunya kerja sama dalam kampus ini."
"Oh, penanam saham? wih, keren ya. Masih muda tapi udah sukses." Puji Gea.
"Bukan, tapi pemetik hasilnya." Jawabnya sambil tertawa kecil.
"Salut deh sama kamu, udah sukses rupanya."
"Enggak juga, yang punya saham kan, orang tuaku. Sedangkan aku sendiri hanya mewakilkan saja." Jawabnya sambil berjalan.
"Ekhem! serius sekali kalian ngobrolnya, asik juga rupanya."
__ADS_1
Saat itu juga, Raka tengah memergokinya. Gea maupun Randy langsung berhenti langkah kakinya dan memutarbalikkan badannya kebelakang.