Lelaki Bayaran

Lelaki Bayaran
Merasa risih


__ADS_3

Gea yang sudah siap untuk berangkat ke acara di rumah kakeknya, terasa malas karena harus bertemu dengan saudara sepupunya.


"Aku kabur aja apa ya, sama si Raka. Males banget ketemu mulut ember kek Vanes itu, entar juga ujungnya ngejekin aku." Gumamnya.


Ibunya yang melihat putrinya tengah melamun, langsung menepuk punggungnya.


"Mama, ngagetin aja deh."


"Makanya jangan banyak melamun, ayo kita berangkat."


"Katanya Gea mau dijemput Raka, memang sudah datang ya Ma?"


"Raka tidak jadi jemput, kata Tuan Handika nanti akan nyusul. Soalnya di rumahnya lagi ada tamu, jadi datangnya gak bisa bareng kita. Ya udah yuk, kita berangkat. Kasihan kakek kamu kalau menunggu lama." Jawab ibunya sambil menenteng tas kecilnya.


"Ma, Gea di rumah saja sih kenapa? males ah ikutan acara gitu. Gea udah ngantuk nih, mana besok Gea ada acara lagi." Ucap Gea dibuat tidak bersemangat, juga dibuat lesu.


Tidak peduli mau dengan ekspresi yang bagaimana pun, ibunya tidak peduli dengan alasan putrinya. Mau tidak mau si Gea tetap dipaksa untuk ikut hadir dalam acara di keluarganya.


Dalam menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, akhirnya si Gea bersama kedua orang tuanya telah sampai di halaman kediaman keluarga Praja.


Kakek Praja yang mempunyai tiga anak yang dua laki-laki dan satu perempuan, tengah membuat dilema keluarganya. Entah hal konyol apa yang dibuat sayembara oleh kakek Praja sendiri yang menginginkan cucu laki-laki.


Dengan terpaksa sang kakek harus melakukan sayembara kepada kedua putranya yang sama sekali tidak ada yang mempunyai anak laki-laki, oleh karena itu Tuan Herman dan Tuan Wiguna cepat-cepat menikahkan putrinya demi mendapat penerus keluarga Praja. Siapa yang bisa memberi cucu laki-laki pertama, maka akan mempunyai titik kuasanya.


Gea yang terasa malas untuk turun dari mobil, berat rasanya untuk masuk kedalam rumah kakeknya.

__ADS_1


"Gea, ayo kita turun." Ajak ibunya sambil melepaskan sabuk pengaman.


Gea hanya mengerucutkan bibirnya, malas sekali baginya harus mengikuti acara di rumah kakeknya.


"Gea, ayo cepetan kita turun." Timpal ayahnya ikut mengajak putrinya segera turun dari mobil.


Dengan malas dan berat hati, Gea terpaksa turun dari mobil.


Saat turun dari mobil, Gea di kejutkan dengan laki-laki yang tidak asing baginya. Badan tinggi dan mempunyai wajah yang tampannya tidak kalah dengan calon suaminya, meski masih lebih tampan contoh suaminya sendiri. Tapi, keduanya tetap mempunyai perbedaan dan kekurangan masing-masing maupun lebihnya.


Saat itu juga, lelaki itu menoleh pada Gea, dan keduanya sama-sama saling mengarahkan pandangannya yang sama.


Lelaki itu menghampiri Gea dengan santainya.


"Iya, kebetulan keluargaku mendapat undangan untuk menghadiri acara dari Tuan Praja. Kamu sendiri dapat undangan juga? atau, kamu bagian keluarga Praja?"


"I-i-iya, aku cucu perempuannya kakek Praja."


"Oh, ya ya ya, aku tahu sekarang."


"Oh ya, aku masuk duluan ya, takutnya ibuku mencari ku." Ucap Gea berpamitan.


"Ya silakan, masuk aja duluan, nanti aku menyusul." Jawabnya sambil memperhatikan Gea sampai masuk kedalam rumah.


"Dih, senyum senyum gak jelas Kak Randy mah. Cie ... suka ya sama itu cewek?" ledek sang adik kepada kakaknya.

__ADS_1


Saat itu juga, Randy langsung mendorong tubuh adiknya.


"Resek kamu Red, sudah sana kamu masuk dan temui calon istrimu itu di dalam."


"Ya ya, ya, makanya buruan menikah. Gini nih jadinya kalau galau akut, jomblo bertahan."


Lagi-lagi adiknya meledek.


Randy langsung melototi adiknya, dan hendak melepaskan sepatunya untuk melempar ke arah adiknya.


"Si_alan kami Redar, awas saja. Andai saja si perempuan tadi bukan calonnya Raka, gak pakai lama aku dapatin." Gumamnya sambil berjalan hendak masuk untuk mengikuti acara pertemuan dalam kekerabatan maupun persahabatan.


Gea yang sudah ada didalam, pun celingukan mencari ibunya.


"Aw!" pekik Gea dan melihat siapa yang sudah mengagetkannya.


"Duh, sendirian aja nih." Ledek saudara sepupunya.


"Memangnya kenapa kalau aku sendirian, ha? masalah buatmu." Jawab Gea dengan ekspresi tidak suka ketika harus bertemu saudara sepupu.


"Gak ada masalah sih buatku, justru masalah besar buatmu kalau sampai kamu tidak kunjung menikah. Tau gak, entar kalau aku punya anak laki-laki, kamu dan kedua orang tuamu akan tunduk pada kami."


"Cih! kepedean, sok tahu kamunya. Memangnya kamu sudah yakin, sudah menikah anakmu laki-laki? siapa tahu aja, anakmu nanti perempuan." Jawab Gea dan menjulurkan lidahnya.


Saat itu juga, Vanes yang melihat calon suaminya kebetulan lewat, langsung menyambar tangannya dan menariknya.

__ADS_1


__ADS_2