
Selesai menghabiskan porsinya masing-masing, Gea maupun Raka dilanjut minum air kelapa ditemani angin sepoi-sepoi dipinggiran danau.
"Sekarang masih jam sepuluh, kita mau langsung pulang atau kemana?" tanya Raka.
"Pulang aja keknya, badanku capek. Juga, aku ingin istirahat, soalnya besok aku ada acara di rumah singgah."
"Oh, di rumah singgah? kok aku gak ada kabar kalau mau ada acara, tidak ada undangan kah?"
"Enggak ada, soalnya aku yang membuat rencana itu. Lagi pula hanya acara kecil-kecilan saja. Biasalah, biar anak-anak ada hiburannya, dan gak membuat mereka jenuh. Kalau kamu gak ada kegiatan atau nganggur, boleh kok kalau mau ikutan datang." Jawab Gea dengan santai.
"Oh gitu, aku usahakan untuk datang. Kalau boleh diizinkan, besok aku akan menjemput kamu, bagaimana?"
"Gimana ya, ya udah deh gak apa-apa." Jawab Gea sedikit malu.
"Udah malam, ayo kita pulang. Makasih ya, udah mau nemenin aku makan malam dipinggir danau. Lain waktu aku akan mengajakmu kepantai, itupun kalau kamu tidak menolak. Kalaupun kamu gak mau juga gak apa-apa."
"Ya deh, aku akan terima ajakan dari kamu. Ya udah kalau kita mau pulang, sudah malam juga kok." Jawabnya dan bangkit dari posisinya.
Raka tengah berjalan beriringan dengan Gea, tanpa canggung dan malu, langsung meraih tangan Gea dan menggandengnya.
__ADS_1
Tentu saja membuat Gea sangat terkejut ketika Raka tiba-tiba Raka menggandeng tangannya.
"Gak usah kaget, udah malam juga, anginnya dingin. Lihat tuh, semua menggandeng tangan milik pasangannya masing-masing, masa kita enggak. Setidaknya kita tidak dianggap sedang marahan, bukankah begitu?"
Gea yang mendengar alasan dari Raka, pun hanya mengernyit.
"Gak gitu juga lah ekspresi mu, sekali-kali membuatku senang dikit kenapa. Ya setidaknya buat bahan belajar ketika kita sudah menikah nanti. Jadi, kita gak canggung lagi untuk menunjukkan kemesraan kita di depan kedua orang tua kita nantinya. Kalau kamu gak mau ya udah aku lepasin." Ucap Raka dan langsung melepaskan tangannya.
'Ya iya lah di lepasin, orang mau masuk ke mobil. Ni orang kadang-kadang emang kadang.' Batin Gea saat hendak masuk kedalam mobil.
"Silakan masuk." Ucap Raka saat membukakan pintu mobil bagian depan.
Selama perjalanan keduanya sama-sama hening dan tidak ada yang bersuara. Raka yang tengah fokus dengan setir mobilnya, sedangkan Gea fokus menatap lurus ke depan.
"Kamu sudah tahu belum?"
Gea langsung menoleh saat mendapat pertanyaan dari Raka.
"Tahu tentang apa? aku gak ngerti."
__ADS_1
"Satu minggu lagi kita akan menikah, juga semua sudah disiapkan dari rumah dan lainnya."
"Oh, terus apa?"
"Kamu gak keberatan kan, menikah denganku?"
Gea bukannya menjawab, eee justru tersenyum saat menatap wajah calon suaminya.
"Kok malah senyum, kenapa?"
"Ya gak apa-apa, cuma senyum doang. Kalau kamu gak keberatan, aku sendiri juga gak."
"Terus, kalau aku keberatan, kamu juga keberatan?"
"Ya bukan begitu. Ah sudahlah, gak perlu dibahas lagi. Biarkan saja jika memang akan menikah juga bakal menikah, kita gak perlu memusingkannya."
"Aku hanya takut saja, takutnya kamu ada cowok yang kamu sukai dan tidak berani mengatakannya pada kedua orang tua kamu. Sebelum semuanya terjadi, lebih baik kamu katakan saja sekarang." Ucap Raka yang tidak ingin menikahi perempuan yang hatinya untuk laki-laki lain.
Meski hanya lewat perjodohan, setidaknya tidak ada hati tersakiti, pikir Raka.
__ADS_1