Lelaki Bayaran

Lelaki Bayaran
Seperti memakan buah simalakama


__ADS_3

Saat itu juga, ayah Gea maupun ayahnya Raka tertawa saat melihat kenyataan yang ada. Lebih lagi yang mau dijodohkan justru mereka berdua.


"Ternyata kita gak perlu memaksa mereka berdua ya, Tuan Herman. Kalau tahu mereka pacaran, kenapa gak dari dulu saja kita menikahkan mereka kalau ujungnya mereka sama-sama cocok." Ucap Tuan Handika dibarengi dengan tawa yang renyah.


"Iya ya, buang buang waktu saja ini. Baiklah, bagaimana kalau pernikahan mereka berdua dipercepat saja. Bukankah lebih cepat itu akan menjadi lebih baik. Saya selaku ayah dari Gea sudah tidak sabar menerima cucu pertama." Sahut Tuan Herman yang juga dibarengi dengan tawanya yang renyah.


Selain itu juga, ibunya Gea maupun ibunya Raka sama-sama tidak menyangka akan terjadi hal diluar bayangannya.


Namun berbeda lagi dengan Raka dan Gea, justru seperti minum pil pahit tanpa air minum. Benar-benar seperti tercekik dan sulit untuk menelan pil pahit.


"Kamu ini ya, kenapa gak bilang dari kemarin kalau kamu itu lelaki yang mau dijodohkan dengan ku, kupret." Bisik Gea dengan geram, tepat di dekat daun telinga Raka.


"Enak aja main ngatain kupret, mana aku tahu jika yang mau dijodohkan denganku itu adalah kamu." Jawab Raka berbisik yang juga dengan geram.


"Sudah sudah sudah, mendingan kita duduk dulu dan mengobrol untuk membicarakan hari pernikahan mereka berdua sebelum makan malam." Ucap Tuan Handika memilih untuk mengajak calon besannya mengobrol.


"Benar juga katamu, Tuan Handika. Lebih baik kita runding pernikahan anak-anak kita, biar bisa dipercepat pernikahan mereka berdua." Kata Tuan Herman yang sudah tidak sabar.

__ADS_1


Dengan lesu dan tidak bersemangat, akhirnya Raka dan Gea hanya bisa nurut.


"Kalian berdua mendingan cari tempat lain saja, ini urusan para orang tua. Juga, kalian gak akan pernah nyambung dengan obrolan para orang tua. Jadi, mendingan kalian cari tempat lain aja. Tapi ingat, pulangnya jangan pulang duluan." Ucap Tuan Handika kepada anak dan calon menantunya.


"Ya, Pa."


Jawab Raka dan langsung menarik tangan Gea dengan kuat untuk mencari tempat yang agak jauh jaraknya dari orang tuanya, juga di tempat yang sedikit sepi.


"Lepaskan tanganmu, aih! sakit tau."


"Bodoh amat, bukan urusanku. Lagian kamu aneh, masa mau dijodohin gak tanya nama, alamat, anaknya seperti apa, minta fotonya kek, atau apa kek, bodoh banget sih kamunya."


Dengan kesal, Gea tidak mau kalah dari Raka, lelaki yang akan menjadi suaminya.


"Hem. Mana sempat akunya, lagi pula gak penting ngurusin perjodohan."


"Nah! bisa-bisanya bilang begitu, tapi nyalahin orang lain juga akhirnya, da_sar. Pokoknya uang satu miliar harus kamu balikin, titik."

__ADS_1


"Enak aja harus balikin, namanya udah perjanjian, ya tetap aja perjanjian." Kata Raka yang tetap bersikukuh untuk tidak mengembalikan uang satu miliar dari Gea.


"Bah! macam mana pula kamu ini, tidak mau balikin uangku." Ucap Gea dengan kesal.


"Aku akan balikin uangnya sama kamu kalau mau menerima syarat dariku, mau? kalau gak mau ya udah." Kata Raka sambil memberi penawaran.


Gea yang mendengarnya, pun geram dibuatnya.


"Sia_lan kamu, jelas jelas itu uangku, kenapa kamu yang sok ngatur." Jawab Gea dengan sungut, juga penuh kekesalan terhadap Raka.


"Mau gak syaratnya? gampang mah kalau untuk syarat." Lagi-lagi Raka memberi tawaran kepada Gea.


"Memangnya apa syaratnya?" tanya Gea sambil menatap kesal pada Raka.


Raka yang ingin berbisik didekat telinganya Gea, sedikit menggeser tempat duduknya.


"Mempunyai anak dua, gimana? anak pertama untukmu, dan anak kedua untukku, bagaimana menurutmu?" bisik Raka sambil memberi tawaran yang benar-benar jauh dari prasangka.

__ADS_1


Gea mendadak melotot saat mendengar syarat dari Raka. Menuruti kemauan orang tuanya saja sudah bergidik ngeri, ini justru calon suaminya sendiri yang menawarkan syarat kepada dirinya.


"Kamu pikir aku ini mesin cetak anak? jangan gila kamu. Aku gak setuju, titik. Gak bisa aku bayangkan tidur denganmu, apalagi harus mencetak gol. Dikira lapangan sepak bola, main tinggal main." Jawab Gea dengan kesal, lantaran harus memakan buah simalakama.


__ADS_2