
Gea yang merasa lega karena tidak ketahuan bohongnya, pun membuang napasnya dengan kasar.
'Untung aja, Mama mau percaya. Kalau terus mendesak ku, bisa-bisa berabe.' Batin Gea penuh khawatir.
"Bi, tolong diurut lagi ya kakinya." Pinta Gea pada Bi Narsih.
"Baik, Nona." Jawabnya dan kembali melanjutkan untuk mengurut kaki miliknya Gea.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman Tuan Handika ada Raka yang tengah mengobrol lewat sambungan teleponnya bersama kekasihnya.
"Ok ok ok, besok kita akan ketemuan. Tapi, tidak di kampus. Kita ketemuannya ditempat biasa, ok." Ucap Raka pada kekasihnya yang bernama Lisa.
Setelah sambungan telepon terputus, Raka langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Raka langsung membuang napasnya dengan kasar sambil menatap langit-langit kamarnya hingga tidak sadarkan diri sampai tertidur dengan lelapnya, juga sampai pagi menyambutnya.
"Raka ...!" teriak Ibunya saat belum juga mendapati putranya bangun dari tidurnya.
"Astaga Raka ...! kamu ini ya, selalu aja bangun kesiangan. Sudah jam berapa ini? lihat tuh sudah jam tujuh lebih, kamu mau sukses apa enggak? bisa-bisa Papamu jantungan kalau kamunya masih saja pemalas, kamu ini penerus Papa kamu, gimana sih. Sudah buruan bangun, terus mandi, sarapan pagi, dan berangkat kuliah." Teriak ibunya dan mengomel panjang lebar saat mendapati putranya yang masih meringkuk didalam selimut.
Tidak peduli jika harus menarik selimutnya, setidaknya si Raka segera bangun dan bergegas bersiap-siap untuk keluar dari kamar.
"Mama kenapa sih, kerjaannya tuh ngomel ngomel terus. Aku tuh capek tau Ma, capek. Hari ini eh! hari ini, jam berapa tadi Ma, aih! terlambat." Sahut Raka yang akhirnya tersadar akan janjinya.
Saat itu juga, Raka segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ritual lainnya.
Ibunya yang sudah dibuatnya geram, pun hanya bisa menggelengkan kepalanya karena putranya yang tidak pernah berubah.
"Mama kenapa sih, kelihatannya lagi kesel gitu."
"Itu anak kita si Raka, mau sampai kapan coba akan berubah. Bangun aja selalu siang, main aja kerjaannya. Gimana dia mau sukses, Pa? kalau Raka aja gak mau merubah sikapnya."
"Mau gimana lagi, makanya Papa akan segera menikahkan dia dengan anaknya Tuan Herman, biar dia ngerasain bagaimana rasanya bertangungjawab kepada anaknya orang lain." Jawab Tuan Handika yang sebenarnya juga merasa geram dengan putranya sendiri.
"Kalau bisa dipercepat saja, Pa. Jugaan untuk apa menunggu lama-lama, lebih cepat itu lebih baik." Kata ibunya Raka.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu, ayo kita sarapan pagi. Kamu gak perlu menunggu Raka, biar nanti dia sarapan sendiri. Biarkan dia merubah kebiasaannya sendiri, terlalu manja jika kita selalu menurutinya." Ucap Tuan Handika yang kini mulai tegas kepada putranya.
Raka yang sudah siap untuk berangkat kuliah, cepat-cepat untuk keluar dari kamar.
"Selamat pagi Pa, Ma." Sapa Raka sambil menarik kursinya. Kemudian, ia duduk di hadapan ibunya.
"Pagi juga, ayo kita sarapan. Sudah siang, nanti kita terlambat." Jawab Tuan Handika sambil mengunyah makanan.
Raka yang tengah menikmati sarapan paginya, sedikitpun tidak ada kecurigaan apapun pada orang tuanya hingga selesai sarapan.
"Hari ini mobil kamu disita, dan kamu akan diantar sama Papa. Jadi, fokus ke belajarmu mulai hari ini. Ingat, sekarang ini adalah semester terakhir mu. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin. Setelah lulus kuliah, kamu akan ditugaskan untuk menggantikan Papa."
Seketika, Raka langsung membulatkan kedua bola matanya ketika mendengar keputusan dari ayahnya.
"Juga, pernikahan kamu akan dipercepat. Jadi, siapkan mental kamu untuk menjalani hubungan pernikahanmu dengan putrinya Tuan Herman." Sambung ayahnya kembali.
Raka yang mendengarnya, pun hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.
"Apa Papa tidak salah memberi keputusan?" tanya Raka.
"Tidak, keputusan Papa ini sudah benar. Jadi kamu tidak perlu bertanya lagi, dan kamu cukup menjawabnya saja." Jawab sang ayah tetap bersikukuh atas keputusannya.
"Baiklah, Raka akan turuti permintaan Papa. Tapi ada syaratnya, aku maunya tinggal berdua dengan istriku, dan tidak untuk tinggal di rumah ini." Ucap Raka sambil memberi permintaan kepada ayahnya.
"Boleh saja, Papa tidak akan melarang kamu. Tapi ada syaratnya, gimana?"
"Syarat?"
"Ya, ada syaratnya. Kalau kamu ketahuan membohongi Papa dengan hubungan kamu alias hubungan pernikahan kamu, tentu saja akan ada akibatnya." Jawab sang ayah yang tidak lupa memberi ancaman, tentunya demi kebaikan hubungan rumah tangga putranya agar tidak ada yang ikut mengusik hubungan rumah tangga anaknya.
Raka yang mulai mengerti atas ancaman dari ayahnya, memilih untuk mengiyakan dan tentunya agar tidak ketahuan jika dirinya mempunyai perjanjian dengan perempuan yang akan dijodohkan dengannya.
"Sudah siap untuk berangkat, 'kan? kalau gitu ayo kita berangkat, takutnya kita telat."
"Sudah Pa," jawab Raka dan meraih tasnya dan bergegas bangkit dari posisi duduknya dan berangkat bareng ayahnya.
__ADS_1
"Pamitan dulu sama Mama kamu, tidak pergi begitu saja." Ucap sang ayah mengingatkan, lantaran putranya sering pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Iya, Pa." Jawab Raka dan mendekati ibunya untuk berpamitan.
"Ma, Raka pamit." Ucap Raka berpamitan.
"Ya, jangan kamu ulangi sifat pemalas mu itu. Ingat, siapa lagi yang akan meneruskan Papamu kalau bukan anaknya sendiri. Jadi, rubah lah sikap mu dengan baik. Jangan sampai ada orang yang meremehkan kamu karena kamu sendiri yang pemalas. Ingat, kesempatan itu hanya sekali. Kalau kamu hanya memikirkan kesenangan, justru kesenangan kamu itu akan cepat sirna. Persiapkan mental mu dari sekarang." Jawab ibunya yang tidak lupa untuk memberi nasehat kecil kepada putra semata wayangnya.
Raka yang mendapat teguran dari ibunya, pun ada rasa bersalahnya karena sudah mengabaikan waktunya hanya untuk bersenang-senang tanpa memikirkan masa depannya.
"Ya, Ma. Raka janji akan merubahnya, dan juga akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Kalau begitu Raka berangkat kuliah, makasih sudah mengingatkan Raka." Ucap Raka mencoba untuk meyakinkan ibunya.
"Semangat untuk kuliahnya, semoga berakhir dengan hasil yang baik lagi."
"Ya Ma, Raka pamit." Jawab Raka dan segera menyusul ayahnya yang sudah keluar dari rumah.
Dalam perjalanan, lagi-lagi ponselnya berdering dan mengagetkan Raka maupun ayahnya. Karena penasaran, Raka merogoh ponselnya dalam tasnya.
"Matikan ponselmu sekarang juga, jangan terlalu fokus dengan ponsel." Ucap sang ayah yang tiba-tiba langsung melarang keras pada putranya.
"Ini Gea, Pa. Boleh nerima telpon darinya, kan?"
Sang ayah pun mengangguk tanda mengiyakan.
Raka yang mendapat izin dari ayahnya pun, langsung menerima panggilan masuk.
"Apa! antar ke tukang pijat? tapi Gea, aku udah dalam perjalanan ke kampus. Jugaan aku berangkatnya satu mobil bareng ayah, mana bisa aku antar kamu." Jawab Raka sedikit melirik ke arah ayahnya.
Saat itu juga, Tuan Handika langsung meraih ponsel yang ada pada putranya.
"Nanti Raka yang akan menjemputmu, tunggu saja di rumah. Ya udah, Paman matikan panggilan telponnya. Soalnya Paman akan menghubungi supir di rumah untuk menjemput Raka dan mengantarkannya ke rumah mu." Ucap Tuan Handika.
Setelah disetujui oleh Gea, panggilan telponnya pun terputus. Kemudian, Tuan Handika segera menghubungi supir yang ada di rumah untuk menjemput dan mengantarkan putranya ke rumah Gea.
"Ini, nanti kamu akan dijemput oleh supir di rumah."
__ADS_1
Raka yang seolah mendapatkan perintah dari ayahnya, terpaksa harus izin untuk tidak mengikuti materi di kampus.
'Benar benar sial ini pagi. Mana gak bisa bertemu dengan Lisa, eee gak bisa ke kampus juga.' Batin Raka dengan kesal, lantaran harus menerima kesialan yang seolah sudah direncanakan oleh orang tuanya sendiri.