Lelaki Bayaran

Lelaki Bayaran
Merasa sia-sia


__ADS_3

Gea yang sudah mencari tempat yang sepi sesuai yang diminta Raka, rasanya begitu lega. Begitu juga dengan kedua orang tuanya yang seolah terselamatkan oleh putrinya, pun mengusap dadanya dan membuang napasnya dengan kasar.


"Papa sama Mama kenapa lah, perasaan diperhatikan kek mau dikejar-kejar maling deh. Kalian sedang tidak menjadi incaran para polisi, 'kan?"


"Kamu ini kalau ngomong, ngarang aja. Mana ada Papa berurusan dengan polisi, ada-ada saja kamu ini Nak. Sudah, mana laki-laki yang mau kamu kenalkan sama Mama dan Papa? jangan lama-lama di restoran ini, karena Papa masih ada tugas berat di kantor, jadi harus selesai besok. Makanya kamu kuliahnya yang benar, biar bisa meneruskan Papa mu ini." Jawab sang ayah panjang kali lebar.


"Hem. Ya deh Pa, ya sih, Pa. Eh! itu orangnya Pa." Ucap Gea yang langsung menunjuk ke arah Raka yang kebetulan jalannya tidak beriringan, melainkan depan belakang.


Saat itu juga, kedua orang tuanya ikut mengekori telunjuk jari miliknya Gea yang mengarah ke arah Raka. Namun naas, rupanya yang ia tunjuk kebetulan orang lain yang baru saja lewat didepan Raka.


Sedangkan Raka yang tengah berjalan menuju tempat yang dimana Gea tengah duduk bersama kedua orang tuanya, yakni yang tanpa diperhatikan dengan jelas oleh kedua orang tuanya sendiri bahwa yang tengah menuju tempat duduknya adalah temannya sendiri.


Tuan Herman yang melihat Tuan Handika bersama istrinya berjalan mendekatinya, seolah seperti mau menginterogasi.


Saat itu juga, kedus orang tuanya masing-masing sama bingungnya ketika berhadapan langsung. Entah pertanyaan apa yang pantas untuk ditanyakan.

__ADS_1


Dengan reflek, Tuan Herman dan istrinya langsung bangkit dari posisi duduknya.


"Tuan Herman,"


"Tuan Handika."


kedua orang tua masing-masing saling tunjuk satu sama lainnya, sungguh bagai tertangkap basah.


Raka maupun Gea sama-sama bingung dibuatnya, pasalnya sama-sama saling mengenal satu sama lainnya. Keduanya tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan memperhatikannya, dan susah payah untuk menelan ludahnya dengan kasar.


Saat itu juga, Tuan Handika maupun Tuan Herman berpikir sejenak atas tujuan anaknya yang meminta untuk melakukan pertemuan.


Seketika, Tuan Herman menoleh pada putrinya, dan dilanjut menoleh ke Raka. Juga, Tuan Handika sama halnya seperti Tuan Herman yang seolah seperti hendak menyelidiki.


"Oooooh, jadi kalian berdua ini pacaran?"

__ADS_1


Tuan Handika akhirnya membuka suara dengan sebuah pertanyaan kepada Raka maupun Gea.


"I-i-iya, benar." Jawab keduanya yang sama halnya terbata-bata saat menjawab pertanyaan dari Tuan Handika.


Raka menggaruk tengkuk lehernya, juga Gea sama seperti Raka yang masih bingung untuk mencernanya.


"Astaga ...!" tepuk jidat akhirnya kedua orang tua masing-masing.


Begitu juga dengan ibunya Raka maupun ibunya Gea yang ikutan menepuk jidatnya.


Raka dan Gea yang baru ngeh dan mengerti, juga ikutan menepuk jidatnya karena merasa sial ketika susah payah menghindar dari perjodohan, rupanya memaksa diri untuk menikah.


"Kalian itu ya, diberi kemudahan kenapa mencari kesulitan?" tanya Tuan Handika mewakili orang tuanya Gea.


Gea maupun Raka sama-sama menoleh satu sama lain, juga merasa kesal sendiri. Lebih lagi dengan Gea yang sudah terlanjur mengirimkan jumlah transferan yang nominalnya tidak nanggung nanggung, tentunya seolah memakan buah simalakama.

__ADS_1


__ADS_2