Lelaki Bayaran

Lelaki Bayaran
Menjaga gengsi


__ADS_3

Gea yang merasa risih saat bibirnya menyentuh bibir miliknya Raka, pun bergidik ngeri ketika mengingatnya kembali.


Raka yang masa bodoh dengan apa yang barusan terjadi antara dirinya dengan Gea, pun langsung menenggak air mineral dalam botol minuman.


"Nih minum, biar bersih bibirmu." Ucap Raka menyodorkan botol minuman yang ada ditangannya tanpa menoleh.


Gea yang saat itu tengah menoleh, pun langsung menyambar botol minuman.


"Makanya jangan jahil, begini kan jadinya." Ucap Gea dan menunjukkan muka cemberutnya.


Raka yang mendengarnya, pun langsung menoleh pada calon istrinya.


"Dih, kamunya aja yang sibuk mainan HP." Jawab Raka dengan santai.


"Enak aja nyalahin aku. Memang kamu ngira


itu aku sedang ngapain, ha?"


"Lihatin cowok kamu, ngaku aja."


Gea langsung mengernyit saat mendapat tudingan yang aneh dari Raka.

__ADS_1


"Cowoknya aku, kamu bilang? cowok dari mana, dari bukit batu? tadi tuh aku lagi lihat model yang berseliweran di beranda media sosial. Kamu ini rabun apa gimana sih, ha? makanya lihat dulu dengan jelas."


Dengan cepat kilat, Raka langsung menyambar ponsel di atas meja kecil yang ada di depannya.


Begitu fokus dan seksama ketika melihat foto tersebut, Raka membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Benar saja yang dikatakan Gea, rupanya hanya foto model yang lagi viral.


Raka lagi-lagi menoleh pada Gea, dan langsung menyerahkan ponselnya.


"Nih, aku sudah gak butuh." Ucap Raka sambil menyodorkan ponsel miliknya Gea.


"Hem. Mana makanannya, kamu bilang tadi pesan makanan." Jawab Gea, dan mengalihkan pembicaraannya pada makanan.


"Tunggu saja, nanti juga datang pesanannya." Ucap Raka.


"Permisi Nona, Tuan, silakan menikmati makanan dari Danau semi." Ucapnya dan segera meletakkan nampan berisi dua porsi ayam bakar dan minuman teh hangat yang tawar tanpa pemanis.


"Terima kasih." Jawab keduanya dengan serempak.


Kemudian, Raka maupun Gea mencuci tangannya dan siap untuk menikmati ayam bakar di tepi danau.


"Makan yang banyak. Jadi, kalau kamu marah, kamu sudah punya energi." Ucap Raka sambil mencuci tangannya.

__ADS_1


"Ya sih, tenang aja. Nanti kalau mau nambah, tinggal pesan." Jawab Gea sambil mencuci tangannya juga.


Setelah itu, keduanya sama-sama menikmati makan ayam bakar di tepi danau hingga tidak terasa tinggal beberapa suapan saja.


"Kamu serius mau menikah denganku?" tanya Raka sambil mengunyah makanannya.


"Enggak, aku gak serius, soalnya aku udah bayar kamu. Jadi, pernikahan kita ini hanya bayaran, tidak lebih." Jawab Gea dengan jutek.


Tentu saja, dirinya perlu jual mahal untuk mengakui jika pernikahannya itu ya memang murni pernikahan. Tapi, mau bagaimana lagi, dirinya seorang perempuan yang sudah membayar mahal pada Raka, tentu saja tidak ingin jika dirinya dikatakan perempuan yang tidak benar, pikirnya. Meski jalan yang ia ambil memang salah, tapi nasi telah menjadi bubur.


Raka sendiri hanya tersenyum tipis ketika mendengar jawaban dari Gea.


"Oh,"


"Kenapa Oh?"


"Ya berarti aku bebas dong, jika aku deketin cewek lain. Secara aku kan lelaki bayaran, ya kan."


"Hem. Habiskan dulu makanan mu, setelah itu antar aku pulang sampai rumah, ok."


Raka hanya menganggukkan kepalanya sambil mengunyah di suapan yang terakhir.

__ADS_1


Gea yang malas untuk diajak mengobrol, lebih memilih untuk diam sambil menikmati ayam bakarnya yang tinggal beberapa suapan saja.


__ADS_2