
*
*
Leo menurunkan Megan di ranjang kig size yang ada di salah satu kamar mewah di Mansion itu.
Megan menatap kesekeliling kamar itu dengan tatapan aneh.
" Tuan. Kenapa anda membawa saya ke sini?" Tanya Megan yang mengira jika Leo membawa dirinya masuk kedalam kamar yang salah.
" Kau tidak boleh beraktivitas sementara waktu aku juga sudah menyuruh seseorang untuk menghubungi manager LV bahwa kau mengambil cuti sakit." Kata Leo.
" Maksut saya, apa anda tidak salah kamar,? Kamar ini terlalu mewah untuk kamar seorang pelayan." Ucap Megan.
" Kau bukan pelayan, kau asisten pribadi ku jadi tentu saja kamar mu berbeda dengan kamar pelayan lain." Sahut Leo tak suka saat Megan menyebut dirinya sendiri seorang pelayan.
" Itu sama saja hanya beda cara pengucapannya." Sahut Megan.
" Kalau aku bilang beda ya beda! Jangan banyak membantah Arsen pun juga mendapatkan kamar sepertimu karena dia juga asistenku." Ucap Leo membawa nama Arsen untuk di jadikan alasan.
" Oh jadi semua ada tingkatannya.
" Ya terserah lah kau mau berfikir apa. Bibi Mariam akan merawat mu selama kau dalam keadaan sakit jadi panggil dia ketika kau membutuhkan sesuatu." Ucap Leo dan Megan menganguk patuh.
__ADS_1
" Istirahatlah aku harus pergi keruang kerja ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Kata Leo mengusap kepala Megan.
" Terimakasih." Lirih Megan yang sedikit terkejut dengan tindakan Leo yang mengusap kepalanya.
Leo Keluar dari kamar Megan dan menemui Mariam terlebih dahulu.
" Bi. Satu jam lagi bawakan makan siang untuk Megan dan jangan lupa untuk meminum obatnya." Kata Leo pada Mariam yang sedang memasak untuk makan siang.
" Baik, Tuan Muda." Jawa Mariam.
Leo pun kemudian masuk keruang kerjanya untuk membaca Email dari Fernandez tentang kerja sama perusahaan yang harus dirinya pilah terlebih dahulu. Leo menghabiskan waktunya berjam-jam di ruangan itu di temani beberapa berkas yang sudah di print nya. Baru menjelang waktu makan malam pria itu menutup laptop dan merenggangkan ototnya kemudian keluar dari ruangan kerja itu.
Dilihatnya jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Leo mengingat waktunya untuk mengganti perban Megan. Pria itu memasuki kamar Megan dan melihat wanita itu sedang bersender di sandaran ranjang dengan bosan.
Megan menggeleng.
" Aku akan mengganti perban mu terlebih dahulu lalu kita turun untuk makan malam." Kata Leo yang sudah membawa kotak medis ditangannya.
" Biarkan bibi Mariam yang membantu saya ,Tuan. Saya tidak mungkin membiarkan Anda untuk melakukan hal seperti ini." Tolak Megan.
" Aku yang ingin melakukannya jadi kau tidak perlu merasa tidak enak akan hal ini. Aku hanya ingin kau cepat sembuh dan mulai melayani ku." Kata Leo yang sudah mulai membuka perban lama di kaki Megan.
" Itu sangat mengerikan. Anda akan merasa jijik." Ucap Megan menahan tangan Leo.
__ADS_1
" Tidak akan. Karena aku sudah pernah melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan di bandingkan luka mu ini." Sahut Leo yang melanjutkan gerakannya.
Megan mengamati Leo yang dengan telaten dan tanpa rasa jijik membersihkan luka itu dengan cairan Hidrogen Peroksida sebelum kembali di perban.
" Apa aku terlalu kasar?" Tanya Leo melihat kearah Megan.
" Tidak." Sahu Megan.
" Jika Seperti ini saya merasa bahwa sayalah boss nya." Celetuk Megan.
" Jadi maksutmu aku adalah pelayan mu?
" Maaf. Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya merasa aneh ada pekerjaan sebagai pelayan pribadi yang sangat enak seperti ini. Anda memberikan saya sebuah kamar bak kamar presidential suite dan anda juga memperlakukan saya dengan baik. Saya takut akan besar kepala nantinya." Ucap Megan Terkekeh pelan.
" Maka jadilah besar kepala." Sahut Leo.
" Sudah selesai. Ayo turun untuk makan malam." Ucap Leo cepat sebelum bibir mungil itu kembali berbicara yang tidak-tidak.
" Anda akan menggendong saya lagi?" Tanya Megan saat Leo menarik lengan kemejanya.
" Hmm Sudah kubilang aku tidak suka sesuatu yang ribet." Leo mengangkat tubuh Megan dan turun kebawah menuju ke meja makan.
...*****...
__ADS_1