
*
*
*
Didalam ruang rawat, dokter dan satu perawat itu sedikit kualahan membujuk Roy yang tak berhenti menagis dan memberontak. Anak laki-laki itu benar-benar takut berada dirumah sakit.
" Tuan. Jika seperti ini sebaiknya kami akan menyuntik obat penenang agar putra anda cepat bisa di tangani. luka di kaki putra anda sangat parah dan akan berakibat fatal jika terlambat mendapatkan tindakan." Kata Dokter yang masih muda itu setelah gagal dengan bujukan yang diberikannya pada ank kecil yang menjadi pasiennya itu.
" Jangan memberikan obat penenang padanya!" Bentak Leon pada dokter itu. Roy masih terlalu kecil jika masih bisa ditangani tanpa menggunakan obat penenang kenapa harus Memberikannya pada balita itu. Pikir Leon.
" Roy, look at me!" Ucap Leon dengan suara tegas tak selembut tadi.
Mendengar suara tegas dari Pria yang mendekapnya membuat Roy menghentikan tangisannya walaupun masih sesegukan akibat terlalu lama menangis. Roy menatap Leon dengan mata basahnya.
__ADS_1
" Biarkan dokter menyembuhkan luka Roy jika Roy terlalu takut lihat saja wajah daddy." Kata Leon yang kembali membujuk Roy dengan suara lembutnya.
Roy mengaguk patuh dan menatap pada wajah tampan pria yang menyebut sebagai Daddy-nya itu.
Dirasa Roy tenang. Leon mengode dokter untuk segera bertindak dan tak membuang waktu lagi perawat dan dokter itu segera membersihkan luka di kaki Roy dan memberinya obat. Sementara Leon mengalihkan perhatian Roy dan bercanda dengan bocah kecil itu. Sesekali Leon akan berpura-pura mengigit pipi gembul Roy dan Roy terkekeh dengan perlakuan Leon. Hingga tak terasa Dokter sudah selesai merawat semua luka di kaki dan lengan bocah itu.
" Sudah selesai. Roy pintar sekali pasti daddy bangga dengan Roy." Ucap dokter itu seraya melepaskan sarung tangan medisnya.
Roy terseyum memperlihatkan giginya melihat kearah dokter kemudian kembali melihat kearah Leon.
" Sama-sama." Ucap dokter itu yang merasa gemas dengan bocah imut itu.
" Tuan saya tinggal ke meja saya dulu untuk menuliskan resep untuk putra anda." Ucap dokter itu dengan sopan.
Leon hanya mengangguk sebagai jawaban dan dokter itu menuju meja kerjanya yang ada disebelah ruangan itu yang hanya dibatasi tembok pembatas saja dan perawat tadi juga izin keluar dari ruangan itu karena tugasnya sudah selesai.
__ADS_1
" Daddy?" Guman Roy Setelah ada dirinya dan Leon diruangan itu. Roy meraba wajah Leon dengan gerakan pelan.
" Jadi Kau adalah Daddy Roy?" Tanya Roy memiringkan kepalanya.
Leon yang awalnya menyebutkan dirinya sebagai daddy hanya untuk menenangkan bocah itupun sedikit mengeryitkan dahinya mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir bocah itu. Tentu saja Leon mengerti garis besar dari pertanyaan itu yang artinya mungkin anak kecil ini tidak tahu siapa Daddy-nya atau mungkin Daddy-nya sudah tiada sejak bocah itu masih bayi.
" Apa Mommy mu tak pernah bercerita tentang daddy mu?" Entah setan apa yang merasuki Leon hinga melontarkan pertanyaan seperti itu pada bocah kecil yang belum mengerti apa apa ini.
Roy berkedip lucu dan menggeleng pelan. " Roy belum pernah melihat daddy sama sekali dan mommy bilang Roy anak spesial jadi tidak punya daddy." Jawabnya Sembari meremas tangan mungilnya.
Leon semakin bingung dengan perkataan Roy. Ibu macam apa yang berkata seperti itu pada putranya. Adakah didunia ini seorang anak tidak memiliki ayah lalu benih dari mana yang bisa menghasilkan bocah imut ini. Pikir Leon yang hilang akal dengan ibu bocah itu.
" Roy semua anak itu memiliki daddy tidak ada seorang pun yang tidak memiliki daddy di dunia ini termasuk Roy." Ucap Leon mengelus pipi tembem Roy.
" Ya dan Kau adalah daddy Roy, Right?" Ucap Roy dengan senyum merekahnya seperti sedang tidak terluka sama sekali.
__ADS_1
" Tuan ini resep untuk putra anda dan sebaiknya Roy kembali kerumah sakit dua hari lagi untuk memeriksa luka dan mengganti perban." Ucap dokter itu yang tiba-tiba kembali saat Leon akan meluruskan kesalahpahaman antara Roy dan dirinya.