Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
Kemarahan Sigma.


__ADS_3

["Tidak, kau masih belum boleh—"]


"Diam"


Ilya tidak mendengar perkataan Noe yang melarangnya untuk menggunakan kekuatan. Lune belum menyadari kesalahannya, mulutnya terus berucap hal-hal buruk tentang Gauri di depan Ilya.


"Selain ******, adikmu juga seorang pecundang—"


Brugh!


Lune terpental jauh ke belakang menabrak pohon besar di sana hingga membuat retakan di pohon tersebut. Ilya menatapnya dingin, tangannya mengepal kuat setelah dia memukul Lune tepat di perutnya.


Ilya sudah terbebas dari sihir pembekuan, membuat Rina dan Mano terkejut dibuatnya.


"Ku bilang diam, apa kau tuli ha?"


"Lune!!"


Rina berteriak histeris. Dia berlari ke arah Lune, tujuannya adalah memberikan dia pengobatan karena saat ini Lune memiliki luka di perutnya, kalau bukan karena armor yang dia pakai mungkin saat ini perut Lune sudah berlubang—serangan Ilya sangat kuat meskipun mereka yakin dia hanya rank F.


"Berani-beraninya rank F ini berulah! Kau sama saja dengan adikmu yang ****** itu!"


Mano segera menyiapkan serangannya. Dia mendatangkan petir ke arah Ilya, mulutnya membentuk senyuman puas karena berpikir Ilya sudah kalah dengan serangannya tersebut.


"Ah~ makasih lho ya, aku tadi emang pegal-pegal karena sihir pembeku milikmu itu, sekarang jadi enakan sedikit"


Mano menatap tak percaya. Ilya masih hidup bahkan baik-baik saja setelah terkena serangan petir besar seperti tadi, Mano menghabiskan banyak kekuatannya pada serangan tersebut tapi itu tidak berpengaruh apapun pada Ilya.


"Mustahil! Bagaimana bisa kau masih bertahan!?"


Ilya mendengus singkat. Tangannya bersedikap dada, sambil menampilkan wajah bosan. Serangan Mano tadi tidak terasa sedikitpun bagi Ilya, itu hanya seperti digigit nyamuk saja.


"Serangan kamu lemah banget tuh"


Ucapnya mencemooh, membuat Mano menjadi kesal karenanya.


Tatapan Ilya beralih pada Lune yang saat ini sudah berdiri lagi. Rupanya Rina berhasil menyembuhkan Lune dari serangan Ilya tadi, Ilya terkagum dengan kemampuan penyembuhan milik Rina.


Jika dibiarkan mungkin Rina akan menjadi penyembuh yang hebat di masa depan.


"Kau kuat juga ya, dan kemampuan si penyembuh itu pun hebat."


Ilya memujinya jujur, namun kejujuran dan kata pujian itu tidak berarti bagi mereka karena saat ini Lune, Rina dan Mano sudah menetapkan Ilya sebagai musuh yang harus mereka bereskan saat itu juga.


"Kita tidak bisa membawanya hidup-hidup, bunuh saja dia di sini dan bawa mayatnya pada 'nya' "


Lune memberikan perintah pada dua rekannya yang dijawab dengan anggukan dari mereka. Ilya mengernyitkan alis, jadi selama ini mereka memang mengincar dirinya.


Tapi, memang mereka bisa apa di depan Ilya yang sudah mencapai level maximal? Ilya tersenyum menyeringai, mencemooh mereka yang mencoba untuk membunuhnya.


"Seharusnya kalian tahu saat melihat kekuatanku tadi. Kalian itu enggak level sama aku,"


Ucapannya terdengar sombong dan angkuh. Lune mengeratkan genggaman pada pedang panjang milik sendiri, kekuatan yang meluap-luap mulai terlihat dari pedangnya, bersiap untuk menyerang Ilya yang masih diam tak bergeming.


Padahal seharusnya Ilya merasakan aura kekuatan kuat dari dia, tapi reaksi Ilya terlalu santai untuk seorang rank F di hadapan kekuatan rank A.


'Tidak apa-apa. Aku pasti menang!'


Dengan keyakinan kuat pada kemampuan dan orang yang dia percayai, Lune menyerang Ilya menggunakan pedangnya.

__ADS_1


"Aku akan membantumu!"


Mano berseru sambil kembali melayangkan tongkatnya di udara, menciptakan badai maha dahsyat yang bisa membuat pohon-pohon di sana tumbang terbawa anginnya.


Rina ikut andil dalam pertarungan itu. Dia menciptakan pelindung bundar yang menyelimuti kedua rekannya tersebut, mencegah mereka terkena serangan sendiri dan membiarkan hanya Ilya saja yang akan hancur ditelan kekuatan mereka.


Sangat berlebihan menggunakan kekuatan sebanyak ini untuk seorang rank F, tapi mereka harus segera menyelesaikan urusannya di sana dan segera membawa Ilya pergi.


Karena memang itu tujuan mereka.


Pedang beradu dengan tangan kosong milik Ilya. Tangannya sedikit berdarah karena serangan itu, namun Ilya tampak tak masalah dengan efek serangan Lune yang diarahkan padanya.


"Lemah banget sih."


Krak!


Lune menatap tak percaya saat pedang yang sudah dia perkuat dengan kekuatan dan item terbelah menjadi dua oleh Ilya yang hanya menggunakan tangan kosong, itu semestinya mustahil bahkan jika Ilya memakai item di tangannya.


Melompat ke belakang, kali ini giliran Mano yang beraksi. Badai tadi memuntahkan petir yang kerusakannya berkali-kali lipat dari serangan awal, petir tersebut menghantam tubuh Ilya bersamaan dengan itu angin pun ikut bergemuruh membentuk sebuah badai sebagai bentuk usaha untuk mengalahkan Ilya seorang diri.


"Dia tidak mungkin bisa lolos dari serangan itu!"


Rina yang berdiri di belakang Mano mengangguk setuju dengan ucapannya, sedangkan Lune menetralkan nafasnya sambil menatap puluhan petir yang kini menyambar Ilya, sebenarnya dia tidak sependapat dengan Mano.


'Jika dia bisa menghancurkan pedang milikku, maka serangan sihir seperti ini tidak akan mempan padanya—'


Tiba-tiba saja badai yang diciptakan oleh Mano menghilang, membuat ketiga orang di sana terkejut semi panik—apalagi sosok Ilya tidak terlihat di manapun, seolah-olah ia hilang bersamaan dengan badai itu.


"Ke mana dia!?—"


Ucapan Lune tersengal ketika dia mendengar suara erangan dari belakang. Dia cepat berbalik, mendapati sosok Mano yang kini sedang tercekik oleh Ilya yang entah sejak kapan sudah ada di belakangnya.


Ilya dengan santai berbicara sedangkan Mano kini sedang berjuang mempertahankan hidupnya yang berada di ujung tanduk. Dia mencekik Mano dengan sangat kuat, sebentar lagi mungkin perempuan itu harus berpisah dengan kehidupan dunianya.


Melihat Mano yang sekarat membuat Rina kalang kabut. Dia yang sejatinya bukan seorang penyerang nekat menyerang Ilya dengan panah beruntun, tapi panah itu langsung ditepis oleh sang lelaki dengan mudah.


Tidak menyerah begitu saja, Rina kembali melancarkan serangannya. Dia melakukan semua serangan yang dia bisa untuk membuat Ilya melepaskan Mano dari cekikikan nya, supaya temannya itu memiliki harapan untuk hidup—setidaknya dia bisa menyembuhkan Mano jika sang rekan tidak berada di tangan Ilya.


Tapi semua serangan itu bagai angin lalu, tak ada satupun dari serangannya yang mampu menggores tubuh Ilya barang sedikitpun.


"Mustahil, dia masih berdiri?"


Lune berucap singkat. Terkejut karena Ilya masih berdiri dengan tangan yang belum melepaskan leher Mano.


"Kalau tidak tahu jangan bersikap sok tahu."


Krak!


"Argh!!"


Mano berteriak kesakitan. Tulang lehernya patah ketika Ilya menggunakan kekuatan lebih pada cengkeramannya, kini perempuan itu benar-benar berpisah dengan dunia—pergi ke alam baka di tangan musuh yang dia remehkan.


"MANO!!"


Berteriak histeris Rina berlari ke arah Ilya. Tangannya menggenggam kuat pedang yang dia miliki, entah dari mana asalnya tapi saat ini yang dia inginkan hanyalah membunuh Ilya.


"Rina!! Berhenti!"


Lune tahu Rina tak akan bisa mengalahkan Ilya. Dia tidak mau kehilangan rekannya lagi, karena itulah dia pun melesat untuk melindungi Rina dari serangan yang Ilya arahkan padanya.

__ADS_1


"Ugh!"


Bagai menjadi perisai hidup. Lune menderita luka di perutnya yang kini menganga, sementara Rina terpental jauh karena serangan dari Ilya rupanya mampu menghempaskan mereka ke belakang.


Padahal sudah dihalangi oleh Lune, tapi Rina masih terkena imbas serangan dari Ilya.


Uhuk!


Lune terbatuk. Mengeluarkan sepotong darah segar dari mulutnya, dia tidak sanggup lagi—Ilya begitu kuat bak tembok tebal dan kokoh, dia bukan rank F lemah seperti yang mereka tahu.


Ilya yang di depannya kuat, sangat kuat. Dia adalah monster.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa kalah di sini!"


Pada akhirnya dia harus menggunakan itu. Tangannya merogoh tas sub-ruang yang dia miliki, mengambil ramuan dalam botol kecil seukuran jari telunjuk anak remaja kemudian menegak habis cairan dalam benda tersebut.


Ilya menatapnya heran. Dia tidak tahu apa yang Lune minum barusan, tapi yang pasti saat ini kekuatan Lune tiba-tiba saja naik secara signifikan dalam waktu kurang dari dua menit, lalu luka di perutnya pun hilang dengan sempurna.


Penampilan fisik Lune ikut berubah. Seperti ulat yang telah selesai melewati proses metamorfosis, Lune berdiri dengan gagah dan tatapan arogan bersama penampilan barunya yang lebih mirip seperti Iblis.


"Hahaha! Benar! Kekuatan seperti ini yang layak aku gunakan untuk membunuhmu!"


Lune dengan penampilan barunya berteriak. Harus Ilya akui, perubahannya itu mengejutkan. Ilya tidak tahu ada obat yang bisa membuat seseorang kuat secara instan, tapi Ilya yakin kekuatan yang diraih secara instan tidak akan bertahan lama.


'Kekuatan yang di raih secara instan pasti memiliki resiko tinggi, aku hanya perlu menghabisinya saja seperti tadi'


Dia melesat dengan cepat ke arah Lune. Menyerangnya menggunakan tinju, Lune terpental—tidak terlalu jauh seperti awal namun tetap saja dia memiliki luka di tangannya.


Tangan kanannya putus, serangan Ilya sangat fatal dan kuat. Dia berdecih, rupanya meskipun dia sudah meminum ramuan tersebut ia belum bisa menahan serangan dari Ilya.


Bukannya takut dia malah tertawa. Ilya memandangnya aneh, kenapa peran jahat selalu tertawa saat mereka dalam situasi bahaya? Ilya tak paham tapi dia tidak bisa membiarkan Lune begitu saja.


Dia harus menyelesaikan pertarungan mereka sekarang juga, selain itu dia pun harus mencari tahu tentang ramuan yang Lune minum tadi.


["Tidak boleh. Kau tidak boleh menggunakan kekuatan mu sekarang!"]


Noe yang sejak tadi diam kembali berbicara. Biasanya Ilya akan menurut jika dia berbicara begitu, tapi kali ini Ilya tidak mau melakukannya.


"Aku tidak mau. Orang-orang yang sudah menghina adikku harus menerima ganjarannya, mereka tidak boleh hidup tenang setelah mengatakan hal-hal buruk tentang Ari."


Ilya mungkin akan diam saja jika dia yang di hina. Toh dia tidak peduli dengan hinaan itu. Baginya, mereka yang mengatakan hal tak mendasar tentang orang lain bukanlah manusia melainkan burung-burung idiot yang hanya bisa berkicau tentang hal-hal tidak penting.


Ilya benar-benar akan diam jika dia yang di hina. Tapi, dia tidak akan pernah bisa diam saat Gauri yang menjadi target mereka. Hinaan dan kata-kata jelek yang diperuntukkan untuk adik kesayangannya, kesabarannya berubah menjadi setipis tisu yang dibagi menjadi dua ketika dia mendengar Gauri dihina.


Noe tidak bisa membiarkannya. Keseimbangan bumi berbeda dengan Dungeon tempat Ilya terjebak dulu, jika Ilya menggunakan seluruh kekuatannya maka sudah di pastikan Dungeon rank D yang mereka masuki ini akan mengalami masalah.


'Aku harus melakukannya!'


Noe mengambil alih tubuh Ilya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mencegah lelaki bermata hazel tersebut menggunakan kekuatannya, tapi ada yang salah.


'Aku tidak bisa mengendalikan dia!?'


Noe berkali-kali terpental saat dia berusaha meringkuh 'jiwa' milik Ilya dalam alam bawah sadarnya, biasanya dia bisa melakukan itu karena dia adalah sistem yang juga tinggal dalam tubuh Ilya.


Namun kali ini dia tidak bisa melakukannya. Seolah-olah Ilya membangun tembok besar sebagai penghalang sehingga dia tidak bisa masuk ke dalam 'jiwa' nya, Noe terkejut, Ilya berkembang ke arah yang tidak bisa dia jangkau.


"Jangan sekarang, Noe."


Ilya menatap tajam Lune yang mulai beregenerasi. Dia mengeluarkan pedang miliknya, kembali melesat untuk menyerang Ilya dengan membabi-buta.

__ADS_1


"Aku harus merobek setiap mulut yang berbicara sembarangan tentang Ari"


__ADS_2