Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
Teman mengobrol.


__ADS_3

.


“Kapan kita bertarung?”


“Kakak!”


Gauri membentak ketika dia mendengar Ilya hendak menerima tantangan lelaki berbadan besar itu, dia pikir Ilya akan menolaknya tapi ternyata kakaknya itu malah setuju.


Lelaki itu menyeringai. Dia berdiri tegak, lalu tertawa senang karena Ilya rupanya tidak terlalu membosankan sejak pertemuan pertama. Biasanya orang-orang akan menolak permintaan bertarung darinya karena menganggap itu merepotkan, dan Ilya adalah orang kedua yang langsung menerimanya.


“Kapan pun kau luang, aku bisa menyesuaikannya dengan jadwal ku!”


“Kalau begitu dua hari lagi”


“kak Ilya!”


Gauri kembali membentak. Dengan kemampuan Ilya yang begitu, dia tahu kakaknya pasti mudah menang. Namun, bukan itu yang dia khawatirkan.


‘Aku tidak mau kak Ilya bergaul dengan gulid master Nex dan menjadi rivalnya!’


Gauri paling tidak menyukai seseorang yang berisik dan guild master Nex adalah salah satu orang paling berisik yang dia kenal, karena itu sudut pandangnya tentang lelaki tersebut tidak terlalu baik.


Apalagi guild master Nex sangat menyukai tantangan dan bertarung.


Seolah tidak mempedulikan dirinya yang menentang. Guild master Nex tersenyum menyeringai, dia berjalan ke luar kemudian menatap Ilya sebelum pergi dari sana.


"Oke, aku akan menunggumu nanti!"


Pintu tertutup begitu saja. Meninggalkan dua saudara itu yang kini terdiam.


"Aku tidak setuju, kakak."


Gauri berucap tegas dengan menatap Ilya sambil melipatkan kedua tangannya di dada.


"Ini hal bagus Ari."


"Apapun itu aku tidak setuju."


"Ini bisa memperjelas tentang kekuatanku yang diketahui oleh orang-orang, pertarungan kami nanti bisa menjadi bukti"


Video Ilya yang mengalahkan monster itu sudah terlanjur terunggah dan tersebar ke seluruh negri. Banyak orang yang ingin memastikan kebenarannya, dan Ilya berpikir tantangan dari gulid master Nex ini bisa menjadi jawaban dari masalah itu.


"Tapi, apa kakak tidak masalah? Diketahui sebagai orang yang kuat akan mendatangkan musuh baru, mungkin kehidupan damai yang aku berikan pada kak Ilya tidak akan sama lagi."


"Itu resiko yang harus aku tanggung."


Mendengar jawaban itu rupanya Ilya tidak mau mendengarkan Gauri. Tadinya jika Ilya ingin, dia akan membuat klarifikasi palsu yang mengatakan kalau orang di video itu bukan Ilya tapi seseorang yang agak mirip dengannya—mungkin itu agak dipaksakan, selain itu dia pun akan memberikan sejumlah uang pada para saksi yang ada di dungeon waktu itu untuk tidak mengatakan hal sebenarnya dan ikut rencananya saja.


Namun rupanya Ilya keras kepala. Jika sudah seperti ini dia tidak bisa memaksa kakaknya untuk ikut dengan drama yang akan dia lakukan.


"Jangan sampai terluka! Meskipun terlihat bodoh tapi aku pernah hampir kalah saat dia menantang ku dua tahun lalu. Kak Ilya harus menang, pokoknya harus!"


Dari menentang jadi mendukung. Ilya terkekeh kecil melihat perubahan adiknya yang terlihat jelas. Kalau Gauri sudah memesan seperti itu berarti Ilya harus serius saat bertarung dengan master guild Nex nanti, supaya dia tidak menerima luka sedikitpun.


"Sesuai yang kamu inginkan, Ari."


Akhir kata Ilya menangkup kedua tangannya di pipi Gauri. Kegiatan harmonis, meskipun adiknya sudah berusia dua puluh tahun tapi di matanya dia masih anak-anak.


"Aku akan membalas gulid master Nex kalau sampai kak Ilya terluka"

__ADS_1


"Iya"


"Aku akan menempatkan lebih banyak Hunter untuk menjagamu kalau kak Ilya seri"


"I—iya"


"Kalau kalah, aku akan melarang kak Ilya masuk ke dungeon dan melawan monster, juga membelikan rumah terpencil di pulau supaya kak Ilya tidak bisa pergi jauh—"


"Oke. Itu seram dan berlebihan, kau tidak boleh melakukan yang terakhir. Paham?"


Gauri mengangguk pasrah. Merasa sayang karena dia tidak bisa melakukan itu.


"Pokoknya, kak Ilya harus menang"


Dia kembali menegaskan ucapannya.


"Aku akan melakukannya"


Ilya menjawab yakin.


'Lagipula, aku pasti menang. Tenang saja.'


...*******...


"Saya pikir karena rahasia anda sudah terbongkar jadi pertemuan akhir pekan ini tidak usah dilakukan"


Remy berucap singkat saat Ilya membukakan pintu untuknya. Hari ini Minggu, dan Ilya mengajak Remy ke apartemennya sementara Gauri masih pergi bekerja.


Master guild itu sangat sibuk bahkan di hari Minggu.


"Aku hanya butuh teman untuk mengobrol saja. Jangan sungkan, di sini hanya ada kita berdua jadi kamu boleh bicara santai saja, lagipula ini di luar jam kerja kan?"


Ilya menyajikan minuman dingin di depan meja. Jam dua belas siang memang cocok minum yang segar begini, Ilya duduk di kursi lainnya, menatap Remy dengan senyuman formalitas.


"Kamu bisa minum itu dulu."


"Terima kasih"


Remy meraih minuman di gelas tersebut, meminumnya hingga setengah tandas kemudian meletakan kembali gelas itu di meja.


["Efek potion itu akan terlihat sebentar lagi,"]


'Aku tahu'


Alasan Ilya masih mengundang Remy untuk bicara diakhir pekan ini untuk mencari informasi. Sebelumnya dia sudah memasukkan potion 'mabuk' di minuman yang dia berikan pada lelaki itu—supaya Remy bisa berbicara dengan jujur padanya.


Orang bilang saat seseorang mabuk dia akan mengatakan semuanya kan? Karena itulah Ilya meminta pada Noe untuk membuatnya tadi malam, selain menyebabkan efek mabuk potion hasil karya Noe juga menjamin Remy akan berbicara jujur dan bukan sekedar ngawur.


Wajah Remy menunduk. Seperti seseorang yang mengantuk berat, tapi Ilya tahu itu adalah tanda efek potion yang Noe buat mulai bekerja.


Dia duduk tegap. Matanya menatap Remy lurus kemudian melontarkan pertanyaan pada lelaki itu.


"Apa akhir-akhir ini kamu merasa tidak bisa mengendalikan kekuatan mu sendiri? Misalnya selalu ingin menggunakannya secara berlebihan?"


Remy tidak langsung menjawab pertanyaan Ilya. Dia mendongak, menatap wajah Ilya intens kemudian menjawabnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Iya—aku pikir begitu"


Dia menjawab singkat.

__ADS_1


'Saat mabuk gini juga ngomongnya irit banget'


["Kau harus fokus. Efek potion yang aku buat tidak bertahan lama, cepatlah"]


Ilya kembali melempar pertanyaan para Remy atas desakan dari Noe. Dasar tidak sabaran.


"Siapa perempuan yang kamu temui di supermarket?"


"Adik ku"


'Hah? Jadi dia seorang kakak juga?'


Batinnya. Merasa terkejut dengan fakta itu. Habisnya Remy lebih terlihat seperti anak tunggal yang hidup di keluarga keras, dia sangat tertutup dan tegas—jadi Ilya pikir lelaki yang seusia dengan adiknya itu tidak memiliki saudara.


"Kami berpisah di panti asuhan. Dia diadopsi oleh keluarga kaya, sedangkan aku diadopsi oleh orang lain. Meskipun kami sudah diadopsi oleh orang tua yang berbeda tapi kami sering bertukar surat untuk saling mengabari, lalu waktu berjalan begitu saja sampai terjadilah retakan pertama" Remy menjeda ucapannya sejenak. Tatapannya beralih menatap jendela di ruang tengah, seolah-olah dia menatap jauh ke depan sana.


"Orang tua angkat ku meninggal dunia karena monster, lalu aku terbangun menjadi seorang yang berkemampuan dan saat itu juga aku berlari menuju rumah adikku. Di sana aku melihat dia terbaring dengan kepala berdarah, terkena reruntuhan bangunan dan ketika dia bangun hal yang dia ucapkan padaku adalah "Kakak ini siapa?" Dia melupakanku karena terluka di kepala"


Ilya diam. Lagi-lagi dia terkejut dengan kisah hidup Remy. Rupanya dia sudah mengalami hal buruk sejak lama, dipisahkan dengan saudara kandungnya seperti itu pasti merupakan hal yang sulit baginya.


"Aku tidak mengaku kalau aku ini kakak kandungnya. Selama ini aku hanya sering mengamatinya, berbicara seolah-olah kami orang asing dan tidak mengatakan hal yang sebenarnya"


"Seharusnya kamu bicara saja dengannya sekarang. Meskipun mungkin dia tidak akan percaya tapi setidaknya kamu sudah mengatakan yang sejujurnya kan?"


Ujar Ilya. Dia berusaha memberikan saran padanya. Remy menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu bahunya terlihat bergetar.


"Aku takut dia menjauh dariku. Hanya dia keluarga yang aku miliki,"


Air matanya mengalir saat dia menjawab pertanyaan Ilya. Kini Remy terisak sendiri, seperti menceritakan hal paling sedih yang dia miliki.


Melihat sisinya yang seperti ini sungguh kejutan. Ilya tidak yakin dia akan melihat pemandangan seperti ini jika bukan karena pengaruh potion.


'Dia kalau mabuk beda banget kan!?'


["Kau benar.]


'Sesuatu pasti terjadi pada adik Remy. Kalau dia dalam bahaya, kekuatannya pasti meledak saat itu juga'


Waktunya sebentar lagi. Sebelum kekuatan Remy meledak, Ilya harus bisa mencegahnya.


"Terima kasih karena sudah mengatakannya, sekarang kamu tidur saja di sini"


Ilya berjalan ke arah Remy. Dia menidurkan lelaki itu dengan agak terpaksa di sofa, tanpa bantal ataupun selimut.


Remy hanya menuruti Ilya. Dia terbaring miring di sofa, membelakangi Ilya sambil terus bergumam tidak jelas.


Efek potion itu akan hilang setelah Remy tidur, jadi Ilya memaksanya untuk menutup mata.


"Calista, adikku, maafkan aku yang bodoh ini. Ukh, aku tidak akan membiarkan mu menderita. Calista, Calista, Calista—"


Dia terus bergumam sebelum akhirnya tidur lelap. Terdengar dengkuran halus, menandakan lelaki itu sudah pergi ke alam mimpi.


"Haa—akhirnya dia tidur juga"


Ilya hanya harus mencari alasan saat Remy bangun nanti. Sekarang dia sudah tahu masalahnya, dalam waktu dekat ini adik Remy akan terkena masalah yang membuat kakaknya marah lalu saat itu Ilya harus ada diantara mereka untuk meminumkan potion dari penjaga dimensi pada Remy.


"Semoga aku sempat melakukannya"


Ilya tidak bisa membayangkan jika satu kota habis terbakar api biru milik Remy karena kekuatannya meledak, pokoknya dia harus membuat itu tidak terjadi.

__ADS_1


__ADS_2