Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
Diam atau mati.


__ADS_3

Calista menatap Ilya dengan tatapan tak percaya. Aksinya yang mengalahkan lima Hunter sekaligus membuatnya kagum dan takut secara bersamaan, beruntungnya orang seperti Ilya berada di pihak dia—kalau mereka bermusuhan sudah pasti Calista akan mati sejak tadi.


'Totalnya ada enam Hunter yang dia kalahkan. Semuanya terlihat kuat, tapi dia bisa melewatinya dengan sangat mudah'


Dia masih menggenggam tangan Ilya. Sambil berjalan dan bersembunyi, mereka mencari tempat Lukas dikurung karena sejak tadi yang mereka temukan hanyalah ruangan kosong.


"Kau takut?"


Ilya berbisik singkat. Calista menatapnya sekilas, lalu mengangguk kecil agak ragu dan malu.


"Sedikit. Melihat darah dan orang-orang mati membuatku tak nyaman"


Dia berucap jujur. Banyak hal yang Calista takuti. Setelah orang tua angkatnya meninggal dunia, dia dipastikan lupa ingatan—hingga sekarang ingatannya itu hanya  kembali sedikit, tapi yang dia ingat hanyalah hal-hal buruk dan membuatnya trauma.


["Kenapa kau tidak tinggalkan saja dia di luar? Anak itu seperti merasa tidak nyaman berada di sini"]


Aroma darah tercium olehnya. Calista ingin muntah saja saat itu, namun dia berusaha menahannya karena tak ingin menjadi beban untuk Ilya saat ini.


"Mau kembali? Aku bisa mengantarkan mu ke luar dan membereskan ini sendirian"


Calista menggeleng kuat. Dia tidak mau kembali dan diam saja sementara Ilya di sini bertarung mati-matian.


"Tidak, aku akan ikut. Lagipula aku ingin melihat keadaan Lukas saat ini."


Ilya mengangguk singkat. Tadinya dia mau memaksa Calista saja karena dia tampak tak nyaman, tapi kalau begini dia tidak akan memaksanya.


Ilya masuk ke ruangan berikutnya. Tak ada siapapun di sana, hanya ruangan kosong dan gelap—tidak pernah dibersihkan, membuat siapapun ingin segera pergi dari sana.


Bangunan itu terdiri dari tiga lantai. Ilya tidak tahu manusia mana yang mau tinggal di hutan begini, tapi yang pasti seleranya aneh dan menakutkan.


"Ngomong-ngomong, siapa anak bernama Lukas itu? Dia anak mu?"


Ilya mendapatkan cubitan keras di lengan kanannya dari Calista karena bertanya hal itu.


"Dia bukan anakku! Aku bahkan belum menikah"


Dia meringis, merasa perih karena cubitannya.


"Lantas dia siapa? Gak mungkin kan kamu menolong anak yang baru ketemu tadi siang di jalanan?"


"Iya, dia anak baru yang mengobrol denganku tadi pagi"


Ilya terdiam mendengar jawaban itu. Dia membuka pintu ruangan selanjutnya lalu mendapati seorang Hunter yang berjaga. Dengan cepat dia berlari lalu menendang tubuh lelaki itu hingga dia terpelanting jauh ke tembok.


"Hah!? Kirain dia punya hubungan darah denganmu"


Dia mendekati lelaki itu, memastikan bahwa Hunter tersebut sudah meninggal dunia. Sementara Calista membuka matanya yang tadi tertutup, setelah melepaskan tangannya dari Ilya dia langsung menutup matanya karena tidak tahan melihat pertarungan itu.

__ADS_1


Kejadian yang terus terulang sejak tadi. Menutup matanya ketika Ilya bertarung, membuka matanya kembali, menggenggam tangan Ilya erat dan mengikutinya seperti anak ayam.


"Ya, apa salahnya menolong seseorang yang bukan keluarga? Kasihan dia kan?"


Ilya menghela nafas panjang mendengar jawaban naif dari Calista.


"Tidak seharusnya kamu menolong seseorang sampai membawamu ke dalam masalah begini. Kau juga harus memikirkan tentang dirimu"


Calista mendekat ke arah Ilya. Dia menggenggam tangan Ilya lagi begitu lelaki bermata hazel tersebut mengulurkannya.


Yang Ilya gunakan untuk bertarung tadi adalah kaki, jadi tangannya bersih dari darah ataupun debu.


"Aku hanya ingin meniru seseorang yang sudah menyelamatkan ku dulu"


Ia berucap pelan sambil menundukkan wajahnya.


'Remy kah?'


Batinnya singkat. Dari cerita Remy dia sudah menyelamatkan Calista waktu dungeon pertama kali muncul, sudah pasti Calista akan mengagumi Remy karena dia menyelamatkan hidupnya.


Tapi sayang Calista tidak tahu kalau yang menyelamatkannya waktu itu adalah kakaknya sendiri.


"Tapi keselamatan mu lebih penting. Gimana kalau kamu enggak ketemu aku tadi? Apa kamu akan tetap mengikuti mobil itu?"


Calista tersentak. Dia tidak memikirkan itu, misalnya Ilya tidak bertemu dengan dia tadi apakah Calista akan tetap mengejar mobilnya dan menolong Lukas?


"Aku gak tau" Ujarnya ragu. Dia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Ilya saat ini.


"Jangan memaksakan diri"


Tangan Ilya mengacak-acak rambutnya pelan. Semburat merah muda muncul di pipi Calista, tidak biasanya dia menerima perlakuan seperti ini—apalagi yang melakukannya adalah laki-laki seperti Ilya.


Di matanya sekarang Ilya terlihat keren.


"Anu—tuan"


Praktis Ilya langsung menutup mulut Calista dengan tangannya. Mata Ilya menatap sekitar, lalu dia pun mendekatkan Calista dengannya untuk bersembunyi di balik kotak-kotak usang yang ada di sana.


"Stttthh. Ada seseorang yang datang ke sini"


Ucapan Ilya membuat Calista panik. Tapi dia segera diam tak bergeming saat Ilya memeluknya dari belakang.


Ilya menatap ke depan, bersamaan dengan itu suara beberapa langkah kaki terdengar mendekati mereka.


'Noe, berapa orang?'


Ilya langsung bertanya pada Noe dalam hatinya.

__ADS_1


["Lima orang, salah satunya adalah anak kecil"]


'Dia pasti si Lukas itu'


Pelukan Ilya ke Calista melonggar. Dia meminta pada Calista untuk bersembunyi di belakangnya, sementara dirinya bersiap untuk menyerang jika persembunyian mereka ketahuan oleh musuh.


Namun bersamaan dengan itu Ilya merasa kehadiran seseorang di belakangnya. Saat dia berbalik seorang lelaki jangkung dengan wajah memakai topeng muncul, menyerang Calista secara tiba-tiba.


"Calista! Awas!"


Brugh!!


"Tuan!? Tanganmu!"


Segera Calista menatap tangan Ilya yang terluka dengan khawatir. Meskipun begitu dia berhasil membunuh si lelaki tadi, tapi tangannya tergores senjata musuh jadi sekarang Ilya memiliki luka di sana.


"Aku tidak apa-apa."


Ucapannya begitu tenang. Ilya memang memiliki kekuatan penyembuhan untuk dirinya sendiri, tapi rasa sakit itu tetap saja dia rasakan.


["Kecepatan yang luar biasa, dia sama seperti perempuan yang di dungeon waktu itu"]


Noe memberi laporan singkat atas analisisnya. Ilya mengangguk secara internal, dia pun merasa sepemikiran dengan Noe.


Suara langkah kaki semakin dekat, dari balik bayangan yang gelap muncul seorang lelaki tua—wajahnya keriput, mencerminkan usianya, dia memiliki luka di area matanya yang menambah kesan mengintimidasi.


"Lihat, siapa di sini? Seorang selebriti yang sedang naik daun"


Dia berucap demikian sambil menatap Ilya yang sedang menyembuhkan tangannya. Calista didorong lembut oleh Ilya untuk mundur, dia merasakan kekuatan yang berbeda dari lelaki itu—bahkan dirinya tahu kalau saat ini si lelaki tua sedang menggunakan artefak untuk menyembunyikan rupa aslinya.


"Aku penasaran dengan mu, tak ku sangka kau datang sendiri ke sini"


Di belakangnya seorang anak lelaki berdiri. Dia adalah Lukas, anak yang Calista cari hingga dia datang ke tempat berbahaya ini.


"Lukas!"


Calista berteriak, memanggil nama anak tersebut berharap anak itu menoleh padanya—namun Lukas hanya diam tak bergeming, matanya kosong seperti dikendalikan sesuatu.


"Dia tidak mendengarnya"


Suara Calista lirih. Matanya menatap khawatir pada anak itu, bahkan sekarang dia sedikit menangis saat menatapnya.


"Kau datang untuk Lukas kan? Aku akan memberikannya, asal kamu menjauh dari dia"


Calista tersentak. Ia dengan cepat menatap Ilya yang kini sudah sembuh sepenuhnya, luka di tangannya tadi hilang entah kemana—sekarang dia bisa bertarung dengan baik.


"Tetap di dekatku. Itu jebakan"

__ADS_1


Ilya tahu lelaki tua itu tidak akan dengan mudah memberikan Lukas pada mereka. Itu hanya sebuah trik supaya dia memiliki sandra jadi Ilya tidak akan macam-macam. Jika Calista berada di sana maka Ilya tidak akan bisa menyerang secara sembarangan.


Calista terjebak dalam dua pilihan. Dia tidak bisa membiarkan Lukas begitu saja, tapi dia pun tidak mau datang secara suka rela ke lelaki tua yang mencurigakan itu—apalagi Ilya mengatakan bahwa ini hanya jebakan. Dia lebih percaya dengan Ilya daripada si lelaki tua.


__ADS_2