Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
Labirin panjang.


__ADS_3

Rekaman berakhir begitu saja. Ilya langsung mengepalkan tangannya erat, menghancurkan item tadi—membuat Daniel agak terkejut saat melihatnya.


Dia sudah memutuskan. Sekarang Ilya harus pergi ke dungeon itu tanpa membuang banyak waktu, ia tak boleh berlama-lama di sini.


["Ada kemungkinan, calon bencana ini akan mengamuk di dungeon. Jika dia dibiarkan, dungeon rank SS itu bisa saja hancur dari dalam"]


Noe menjelaskan singkat tentang kemungkinan yang dia pikirkan. Ilya paham itu, karenanya dia berpikir untuk langsung pergi ke sana sekarang juga.


"Aku ikut"


Gauri menatap serius kakaknya.


"Tidak. Ini urusan ku dengannya"


Ilya berucap tegas. Dia tidak berniat untuk membawa serta sang adik ke dalam masalah yang dia miliki, lagipula Ilya tidak membutuhkan bantuan orang lain saat ini.


Namun, bukan Gauri namanya kalau dia langsung menurut. Saat ini sifat keras kepalanya sudah muncul ke permukaan, sambil menatap sang kakak dia berbicara.


"Kakak. Dia itu sama seperti Remy kan? Hunter yang akan mengamuk, lalu kak Ilya akan menjinakkannya. Ini misi yang waktu itu kakak katakan padaku" Ujarnya. Menjelaskan apa yang dia tahu. Dia ingat, bukan kebetulan waktu itu Ilya bisa membuat Remy tenang—itu memang tugasnya sebagai seseorang yang diberikan misi.


"Itu betul. Jadi aku harap kamu tidak ikut."


"Aku gak mau. Justru karena itulah aku harus ikut juga."


"Ini berbahaya"


"Aku tidak mau kakak dalam bahaya"


"AKU JUGA BEGITU! Aku tidak mau kau dalam bahaya Ari!" Ilya berteriak marah. Uratnya terlihat di leher, sebab kesal dengan sikap sang adik yang keras kepala.


Gauri tidak mau mundur. Dia terus berbicara pada Ilya yang jelas-jelas sedang dibakar amarah.


"Terima kasih, kakak. Tapi, saat ini aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku kuat, jadi tolong izinkan aku ikut denganmu juga."


Ilya tidak bisa berkata-kata lagi. Dia kalah keras kepala dari adiknya, apalagi melihat tatapan penuh keyakinan itu membuat Ilya tak bisa terus menolaknya.


Lagipula—Dari sifat Gauri, dia akan nekat masuk dungeon itu meskipun Ilya melarangnya. Justru kalau dia masuk ke dungeon tanpa diawasi oleh dia itu lebih bahaya kan? Hal-hal buruk bisa terjadi tanpa sepengetahuannya nanti.


"Saat Hyun menyerang ku nanti, kamu jangan ikut campur. Paham?"


Ini adalah keputusan akhir yang Ilya ambil, entah dia akan menyesalinya atau tidak. Gauri mengangguk, tampak jelas di wajahnya bahwa dia senang sebab bisa membantu kakaknya yang jarang meminta bantuan itu.


"Baik!"


"Aku juga ikut"


Daniel berucap. Ingat tentang prinsip barunya yang ingin mengikuti Ilya? Sekarang dia pikir inilah waktu yang tepat untuk ikut serta dalam pertarungan dengan seseorang yang tidak dia tahu.


"Tidak. Guild master Nex harus berjaga dari luar,"


"Konyol sekali. Untuk masuk ke dungeon rank SS secara legal kau perlu minimal tiga Hunter rank S, atau, apakah kau mau masuk dengan cara Ilegal?"


Ada peraturan yang berlaku di negaranya, dan itu sudah disebutkan oleh Daniel tadi.


"Ugh—baik, tapi kau jangan ganggu aku nanti."


Daniel tersenyum lima jari, menampilkan deretan giginya yang rapi lalu merangkul Ilya akrab, membuat lelaki yang lebih muda darinya itu merasa tidak nyaman.


"Aku suka orang kuat yang taat aturan, kau tidak semena-mena dan masih mematuhi aturan negara, kawan."

__ADS_1


Ilya mendecih. Mau gimana lagi, sudah sifatnya yang enggan melanggar meskipun bisa saja dia memberontak.


"Aku sudah mengirim pesan pada guild master Orion, kita bisa berangkat sekarang."


Izin dari Alex diperlukan untuk bisa masuk ke dungeon baru, sebab dia memiliki tugas untuk mengawasi dungeon oleh pemerintah.


"Ayo pergi"


Daniel sudah bersemangat pergi ke dungeon. Ilya mengangguk paham, kemudian mereka pun pergi dari sana.


Sesampainya di depan gate, orang-orang berkumpul heboh melihat gate besar yang memiliki gerbang berwarna merah kehitaman. Mereka menatapnya ngeri, namun penasaran secara bersamaan.


"Bagaimana ini? Apa kita perlu memanggil Hunter terkuat di dunia?"


Kekhawatiran mereka terlihat jelas, apalagi gate sebesar itu baru pertama kali ada di sana.


"Lihat! Ada Wyvern!!"


Salah satu warga menunjuk ke arah langit. Seekor Wyvern, monster yang harusnya ada di dungeon muncul membuat suasana di sana semakin ricuh. Hunter yang bertugas berusaha untuk menenangkan mereka, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja sebab mereka akan mengurus Wyvern itu.


"Tunggu dulu! Itu monster milik Hunter Ilya Sigma!"


Mendengar nama Ilya disebutkan membuat orang-orang berhenti berlari, mereka menatap Wyvern yang perlahan turun ke bawah kemudian sosok Ilya pun terlihat.


"Hunter Ilya Sigma! Dia datang!"


"Ada Hunter Gauri juga!"


"Tunggu dulu! Itu adalah guild master Nex!"


Orang-orang mulai heboh kembali, hanya saja kali ini mereka dikejutkan dengan kedatangan tiga orang kuat di sana.


Ilya berucap singkat, dengan kesal pada Daniel yang menyarankan kedatangannya menggunakan Wyvern alih-alih tanpa sepengetahuan siapapun.


"Kau kekurangan sensasi kawan. Seharusnya dari dulu kau lakukan ini," Ujar Daniel. Dia tersenyum pada orang-orang di sana, berusaha menampilkan wajah tenang ke mereka.


Ilya menghela nafas panjang. Dia menyuruh Ve kembali lagi ke dalam bayangannya, sementara itu Gauri berbicara pada Hunter yang menjaga gate dungeon.


"Ini sangat besar"


Daniel berucap kagum sekaligus merinding secara bersamaan. Baru kali ini dia melihat gate sebesar itu, apalagi warna yang dimiliki oleh gate terlihat menakutkan.


["Warna pada gate menunjukkan level kesulitannya, biasanya semakin gelap warna yang muncul maka semakin sulit pula untuk ditaklukkan. Gate ini berwarna merah kehitaman, itu cukup sulit jika di level Hunter biasa meskipun mereka masuk ke sana dengan jumlah besar"]


Ilya masih diam menatap gate itu. Apa Hyun sudah masuk ke sana? Bagaimana cara dia masuk? Mungkinkah gate itu muncul karena ulah Antonio juga? Semua pikiran itu memenuhi otaknya saat ini.


'Antonio.'


Mereka belum pernah bertemu, namun Ilya sudah memiliki rasa dendam pada sosok tersebut sebab dialah Do Hwa meninggal dunia.


"Kita bisa masuk sekarang, kakak."


Gauri selesai berbicara pada penjaga gate tadi. Ilya menatap orang-orang yang berada di belakang garis pembatas, mereka menyaksikan Ilya masuk ke dalam gate tanpa sepatah katapun—membuatnya terkesan dingin dan tak acuh.


"Pastikan untuk tidak ada yang berada di dekat gate, sebelum kami keluar kalian tidak boleh mendekatinya"


Daniel memberikan pesan pada penjaga gate yang dijawab dengan anggukan antusias. Meskipun kesan pertama Ilya pada Daniel itu bodoh, tapi sebenarnya Daniel orang yang cukup peduli pada keselamatan orang-orang.


Tak berbeda dengan sang kakak. Gauri ikut pergi tanpa mengatakan apapun, mengikuti Ilya di belakangnya lalu Daniel pun ikut serta masuk ke dalam.

__ADS_1


Suara hiruk-pikuknya masyarakat menghilang dalam sekejap saat mereka masuk melewati gate. Udara dingin yang menusuk kulit, juga suasana sepi langsung menyambutnya seolah mereka masuk ke dalam dimensi lain.


"Ini, labirin" Daniel terkejut begitu melihat pemandangan di depannya.


Sebuah labirin. Jalan panjang yang berliku-liku, memiliki banyak cabang dan membingungkan. Labirin adalah wujud dungeon itu, sangat jarang, namun bukan berarti mereka tidak bisa menaklukkan dungeon tersebut.


"Sayang! sebegitu rindunya kah kamu padaku hingga kamu datang lebih awal begini?"


Hyun, sosok yang Ilya cari muncul di depannya sambil tersenyum tipis pada mereka bertiga.


"Tapi, kamu kok mengajak orang lain? Aku kan hanya ingin berduaan dengan sayangku"


["Pandai sekali dia berbohong. Kekuatannya hampir meledak, dia pasti kesakitan sekarang"]


Noe mengatakan itu saat dia melihat Hyun yang tampak santai, padahal tubuh bagian dalamnya sedang kacau sekarang.


"Berhenti memanggil kakak ku dengan sebutan menjijikan begitu"


Tangan Gauri sudah siap dengan senjata yang dia miliki. Pedang panjang mengkilap dan tajam, sedetik saja Ilya telat menahannya mungkin area sekitar mereka sudah menjadi tempat bertarung Gauri dan Hyun.


"Tahan, Gauri. Kamu ingat? Aku yang akan berurusan dengannya"


Ilya bicara dengan nada datar. Matanya masih menatap Hyun yang berdiri sejak tadi, perempuan itu memainkan tangannya sendiri lalu melangkah sedikit ke depan.


"Ah~ tidak seru kalau begini. Kalian akan menganggu pertemuan kami."


Ucapannya terdengar menggema di labirin yang sepi.


"Jadi kalian harus pergi"


"!!?"


"Kakak!—"


"ARI!?"


Ilya berteriak terkejut saat menyadari sosok Gauri dan Daniel sudah tidak ada di dekatnya. Dia menatap Hyun marah, kemana perempuan itu membawa mereka pergi?


"Ke mana kau membawa mereka!?"


Ilya berteriak, tapi Hyun masih meladeninya dengan tenang.


"hm? ke mana kira-kira? aku tidak akan mengatakannya padamu meskipun kamu adalah sayangku, kau tahu? kita harus benar-benar berdua untuk membuatku mati."


Hyun melesat dengan cepat ke depan Ilya dan lelaki itu menahan serangannya menggunakan tangan kosong. Saat dia menyentuh tangan Hyun, ia merasakannya. Aliran kekuatan dalam diri Hyun yang tampak tak beraturan dan hampir meledak, seperti yang Noe ucapkan Hyun sedang tidak baik-baik saja sekarang.


"Hanya kamu yang boleh membunuhku, Ilya. Aku adalah musuh mu, jadi jangan ragu untuk melawanku"


Labirin awal itu berubah menjadi pemandangan lain. Ilya seperti di bawa ke tempat asing, di sana dia bertarung dengan Hyun yang mampu mengimbanginya.


Sementara Ilya melawan sang calon bencana kedua, di lain tempat Gauri sedang menodongkan ujung pedangnya pada lelaki asing yang ikut berpindah bersama dia.


"Siapa kau?"


Wajahnya tidak terlihat seperti warga di negaranya, dia memiliki ciri-ciri fisik yang jarang terlihat dimasyarakat.


rambut silver hampir ke putih, matanya berwarna ungu cerah yang mengingatkan orang-orang pada bunga lavender, tubuh ramping dengan balutan baju kemeja dan celana hitam panjang, namun dia tak beralas kaki. Lelaki itu mengangkat kedua tangannya seolah-olah menyerahkan diri pada Gauri, dia menatap Gauri datar kemudian membuka mulutnya.


"Tenanglah adik Ilya. Ini aku, Noe"

__ADS_1


__ADS_2