
Ilya tidak tahu bagaimana bisa dia berakhir di cafe bersama si calon bencana kedua, tapi yang pasti dia tidak menyukai situasinya saat ini.
"Aku pikir kau bekerja di dungeon setiap hari, bagaimana bisa kau ada di sini?"
Ilya bertanya singkat sambil menatap perempuan berambut merah ombre di depannya, dia sengaja tidak mengatakan secara gamblang tentang pekerjaan si calon bencana kedua yang seorang pembunuh hunter karena mereka sedang berada di tempat ramai.
Selain vibes, penampilannya pun berbeda dengan sosok yang Ilya lihat waktu dulu, dia terlihat lebih normal dan tidak gila sehingga itu membuat Ilya berpikir mungkin perempuan ini memiliki dua kepribadian dalam tubuhnya.
"Aku juga perlu hiburan tau. Pergi dan mengambil nyawa orang itu cukup menyebalkan,"
Ilya terkejut karena dia mengatakannya dengan enteng, bagaimana kalau ada yang dengar? Mereka bisa kena masalah!
"Tidak bisakah kamu kasih filter pada ucapan mu? Kita sedang di luar sekarang!"
Dia tersenyum manis saat melihat Ilya mengomelinya.
"Kau masih tetap mencurigakan"
Kemudian Ilya mendiamkan perempuan itu yang kini tertawa kecil.
'Noe! Hei! Noe!'
Sejak tadi suara Noe tidak terdengar. Dia lagi-lagi menghilang saat seperti ini, padahal Ilya ingin tahu berapa lama lagi waktu untuk calon bencana kedua ini mengalami ledakan kekuatan tapi entitas yang bisa mengetahuinya malah menghilang.
'Kemana dia saat seperti ini?'
Ilya pikir Noe mungkin saja tidur, tapi memangnya sistem butuh waktu tidur? Sementara Ilya pusing memikirkan di mana Noe berada, perempuan itu terus memandangi wajahnya sejak tadi—membuat Ilya merasa tidak nyaman.
"Apa?"
Ilya berucap ketus. Dia harus waspada, bagaimanapun sosok di depannya adalah calon bencana yang tidak dia kenali apalagi ia itu memiliki pekerjaan yang berbahaya.
Perempuan itu tersenyum lagi. Sial, melihat senyumannya itu membuat Ilya merinding.
"Tidak seru kalau hanya aku yang makan saat kita kencan"
Ia melahap makanannya dengan nikmat.
"Kita tidak kencan tuh"
Ilya membalas tak acuh. Matanya menatap sepotong kue tart di piring yang perempuan itu pesan untuknya, belum disentuh ataupun dimakan.
"Tapi kita makan berdua"
Perempuan itu menjawab dengan tatapan polos. Ilya menghela nafas jengah, dia harus menjelaskan situasi saat ini supaya dia paham.
"Ini bisa terjadi bahkan pada seseorang di luar sana"
Ilya menyendok separuh kue tart di piring lalu memakannya, sedangkan perempuan itu berbicara kecewa.
"Eeh? Aku pikir kita sedang melakukan kencan sekarang"
Ilya mendengus singkat atas ucapan perempuan itu.
"Apa definisi kencan menurut mu?" Ujarnya bertanya.
"Dua orang yang makan bersama?" Jawabnya spontan. Amat sangat yakin dengan jawaban tersebut.
__ADS_1
"Kalau begitu semua orang pasti bisa melakukannya"
Ilya tersenyum mengejek atas jawaban sang puan.
"Cih. Jadi, apa kencan itu?" Perempuan itu cemberut kesal.
"Itu adalah hal yang dilakukan para pasangan yang saling mencintai"
"Berarti kita sedang melakukannya"
"Kita tidak saling mencintai"
"Tapi aku mencintaimu"
Ilya langsung diam begitu dia mendengar ucapannya. Untuk sesaat Ilya merasa baper dengan ucapan itu, namun dia harus menyadarkan dirinya sendiri bahwa saat ini perempuan di depannya tidak benar-benar serius mengatakan bahwa ia mencintainya.
"Itu bukan cinta tapi perasaan sesaat ketika kau penasaran akan sesuatu. Lagipula, aku bahkan tidak mengetahui nama mu mana bisa kita saling mencintai"
Dia mengakhiri ucapannya. Mata hazel milik Ilya bertatapan dengan mata garnet perempuan itu, dia yakin matanya memakai softlens karena saat mereka bertemu waktu itu matanya berwarna hitam.
"Nama ya? Kau mau tau nama ku yang mana? Aku punya banyak nama lho!"
Dia menjawab dengan wajah ceria sedangkan Ilya menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Aku hanya perlu satu nama saja" Ilya menjawab singkat tak acuh.
'tidak mungkin aku memanggilnya 'hei' atau 'kau' terus menerus.'
Agak terdengar menyedihkan saat dia berbicara memiliki banyak nama begitu.
"Lee Hyun! Iya, kamu bisa memanggil ku dengan nama itu!"
Perempuan itu, Lee Hyun menjawab antusias. Ilya akhirnya tahu nama si calon bencana kedua.
Ia segera menghabiskan kue di piringnya tanpa mempedulikan tatapan senang dari Hyun
'Dia memanggil nama favorit ku!'
Lee Hyun memang bukan nama aslinya. Sebagai seorang pembunuh bayaran, nama adalah hal tak penting yang harus diganti ketika ia bertugas—Hyun memiliki nama asli, namun dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun.
Untuk sekarang dia senang karena Ilya akan memanggilnya dengan nama favoritnya.
"Apa aku juga boleh memanggil nama mu?"
Ia bertanya agak ragu namun amat sangat berharap.
"Tentu saja?"
"Ilya"
"Hm"
"Liya! Aku ingin memanggil mu begitu"
'Dia suka seenaknya'
Nama asli Ilya jadi terdengar seperti panggilan untuk perempuan sekarang.
"Aku menolak."
__ADS_1
Ilya menolaknya dengan tegas. Dia tidak mau dipanggil dengan nama Liya, apalagi oleh perempuan di depannya ini.
"Eey!? Kenapa?"
Hyun berucap kecewa, padahal menurutnya itu nama yang imut dan cocok untuk Ilya.
"Nama itu terdengar seperti panggilan untuk perempuan"
Dia mengatakan alasannya, Hyun mengerti tapi dia masih kecewa dengan keputusan Ilya.
"Padahal aku ingin memiliki nama panggilan untukmu"
"Panggil aku Ilya saja, kalau Sigma itu nama keluarga ku"
Hyun mengangguk.
"Baiklah, Ilya. Hehe"
Padahal Ilya pikir dia akan keras kepala dan Keukeh ingin memanggilnya begitu, tapi rupanya dia cukup mudah berubah pikiran.
Bukannya saat seperti ini dia hanya terlihat mirip dengan anak sekolah dasar yang baru saja mendapatkan teman? Tampak polos dan lugu, tapi Ilya tidak bisa menganggapnya seperti itu karena bagaimanapun Hyun masih seseorang yang mencurigakan.
Dia pun bisa jadi berpihak pada orang jahat.
"Aku sudah selesai! Ayo kita main lagi!"
Dia segera berdiri kemudian mendekat ke bangku Ilya.
"Hei! Aku gak mau!"
Tangannya menarik Ilya keluar, dia pun memeluk lengan lelaki itu erat.
"Ilya jangan malu-malu begitu. Selanjutnya kita ke pusat perbelanjaan!"
Ilya langsung diseret oleh Hyun tanpa persetujuan. Ingin melawan tapi dia urungkan sebab melihat wajah bahagia Hyun yang terlihat asli itu membuatnya tidak enak hati, mungkin Hyun hanya seorang yang berjiwa kekanakan dan dia memiliki alasan tersendiri tentang pekerjaannya yang tidak biasa itu.
Sepanjang siang itu Ilya hanya menemani Hyun untuk melakukan semua hal yang dia inginkan, sesekali Hyun mengajak Ilya untuk ikut serta dengan dia juga—seperti mandi bola, tentu saja di sana hanya Hyun orang dewasanya.
Ilya sampai menepuk jidatnya sendiri karena heran dengan tingkah sang puan, ingin rasanya dia pura-pura tidak kenal saja waktu itu karena malu menerima tatapan dari para ibu-ibu yang ada di sana.
Sepanjang hari itu juga Ilya berusaha menghubungi Noe, namun dia masih tak mendapatkan jawaban apapun. Noe seperti hilang dari sana, dan ini adalah waktu terlama bagi sistem itu menghilang.
"Beban mental sialan, aku tidak bisa menghubungi Ilya saat ini"
Noe meremas dadanya sendiri karena merasakan sakit di sana. Saat ini dia sedang berada dalam alam bawah sadar Ilya, 'wilayahnya' yang dia tempati sejak pindah dari dunia sana.
Penjaga dimensi memintanya untuk membantu Ilya. Sebagai bantuan informasi dan kekuatan bagi lelaki itu supaya dia bisa melakukan tugas darinya dengan baik, namun tampaknya saat ini Noe mengalami kesulitan atas beban yang dia tanggung.
Selama lima ribu tahun Ilya terkurung di dungeon dia mengalami kelelahan mental yang parah, dia hampir gila jika saja otaknya tak memikirkan tentang adik dan ibunya—tapi itu tidak cukup, dalam waktu yang amat sangat lama itu hal lain tercipta dalam alam bawah sadarnya.
Kekuatan negatif yang bersumber dari beban mentalnya sudah banyak hingga itu bisa membuat kerusakan pada diri Ilua, tapi Ilya tidak mengalami itu ketika dia kembali ke bumi.
Itu semua karena Noe lah yang menggantikan dirinya untuk menerima semua kekuatan negatif yang dia peroleh dari dungeon. Dia bukan sistem, Noe adalah jiwa lain yang penjaga dimensi tanamkan pada diri Ilya sebagai bentuk hukuman untuk Noe sendiri.
Kini kalian mengetahuinya. Alasan mengapa terkadang Noe menghilang bukan karena dia mengalami eror, namun itu karena dia berusaha untuk menekan kekuatan negatif supaya tidak mencemari dirinya dan Ilya.
Noe berperan sebagai tameng, dia ada untuk melindungi Ilya dari situasi buruk.
"Ugh! Dia berbahaya, calon bencana kedua, dia menyembunyikan pisau dibalik senyumannya yang manis!"
__ADS_1
Topeng yang dimiliki oleh Hyun diketahui oleh Noe, tapi sayangnya dia tidak bisa mengatakan itu pada Ilya saat ini karena dia pun sedang mengalami kesulitan.
'Sialan!'