
Hari Senin dan Jumat cerita ini libur, terima kasih.
"Evakuasi semua orang yang masih ada di dalam pelindung! Tidak boleh ada yang tertinggal!"
Gauri berteriak memberikan perintahnya pada Hunter yang bekerja untuknya. Dia menatap Remy yang belum juga tenang, lelaki itu langsung kehilangan kendali setelah dia keluar dari dungeon—sebelum itu Remy bergumam "itu sudah pecah" lalu dia berlari keluar dan saat ditemukan kondisinya sudah menjadi seperti sekarang.
Gauri tidak tahu apa yang dimaksud "sudah pecah" tapi yang pasti dia harus bisa menenangkan asistennya itu.
"Nona Gauri! Kak Remy terus membakar benda-benda di sekitarnya!"
Yoo-han yang bertugas untuk mengamati berucap singkat. Anak itu memiliki skill yang bisa menembus kekuatan apapun, karena tubuh Remy terhalang api biru yang mengelilinginya jadi kemampuan Yoo-han ini sangat diperlukan.
Gauri mendecih. Ini sudah dua jam sejak Remy mengamuk, dia khawatir lelaki itu kehabisan mana dan berakhir membunuh dirinya sendiri.
Hunter yang kehilangan kendali atas kekuatannya sangat jarang terjadi. Bahkan mungkin ini kasus pertama yang ada di dunia, karena itulah mereka kekurangan informasi bagaimana caranya supaya Remy bisa kembali seperti semula.
"Pasangkan segel lagi!"
Hunter yang memiliki skill pengunci mengangguk. Dia merentangkan kedua tangannya di depan, kemudian berusaha menyegel Remy.
"Segel!"
Es mulai menutupi Remy namun sedetik kemudian es tersebut pecah bak kaca karena tidak tahan dengan kekuatan Remy. Lagi-lagi Gauri terdiam, mereka sudah berkali-kali menyegelnya namun berakhir dengan kegagalan.
"Biarkan aku yang mengurusnya"
Gulid master Nex, Daniel Nixie berucap. Dia meregangkan otot-ototnya, bersiap untuk melompat ke arah Remy namun Gauri dengan cepat menariknya ke belakang.
"Kau mau membunuhnya? Dia bawahan ku!" Gauri berteriak marah.
"Lalu kau mau bagaimana!? Dia bisa mati kehabisan mana!"
Gauri tersengal. Dia tidak bisa menjawabnya karena dirinya pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, memikirkan dia akan tidak berdaya seperti ini membuat Gauri kesal.
"Aku yang akan melakukannya! Aku—"
Ucapannya tertunda karena Yoo-Han yang berteriak.
"Nona Gauri! Itu—Tuan Ilya di sana!"
Yoo-Han menunjuk ke atas, tepatnya ke arah bangunan runtuh yang bagian bawahnya terdapat lautan api.
Wajah Gauri memucat. Dia tidak menyangka sosok kakaknya akan ada di sana.
"KAK ILYA!"
Ia menaikkan suaranya namun Ilya tidak dapat mendengarnya sama sekali.
'Ugh! Panas banget'
Ilya bertahan dengan rasa panas yang menyentuh kulitnya. Ledakan kekuatan Remy membuat hampir seluruh daerah ini menjadi lautan api, jika saja tidak ada kubah pelindung mungkin api di sana akan menyebar kemana-mana dan menyebabkan bencana seperti yang penjaga dimensi katakan.
["Dia masih memiliki kesadaran. Lakukan sesuatu atau calon bencana akan benar-benar meledak"]
'Pemicunya adalah kehilangan Calista, karena dia ada di sini jadi Remy bisa kembali kan?'
"Calista, panggil dia kakak!"
Calista mengangguk paham lalu ia pun mulai berteriak.
"Kakak!"
"Kakak! Bangun!"
"Kakak!!"
Ia melakukannya berkali-kali namun Remy tampaknya tak mendengarnya sedikitpun.
Saat Calista hendak berteriak lagi, percikan api mengarah pada mereka. Ilya menangkisnya dengan pedang, namun api tersebut masih bisa memberikan luka bakar di tangannya.
'Kau bilang aku ini level maksimal di dunia!'
Ucapnya, protes pada Noe karena serangan dari Remy tidak bisa dia halau. Seharusnya itu mudah, tapi kenapa dia tidak bisa melakukan sekarang?
["Itu benar, tapi jika kamu berhadapan dengan calon bencana yang semi mengamuk begini kamu pun bisa kalah juga"]
__ADS_1
Ilya berdecak kesal. Dia berdiri tegak, menatap lurus ke arah Remy yang kini menatapnya dengan tatapan lain—seolah-olah dirinya sudah hilang tertelan kekuatannya sendiri.
"Sadarlah bodoh! Adik mu ada di sini!"
Ilya berteriak lagi. Berharap sedikit pada usahanya kali ini, tapi Remy sama sekali tidak bereaksi—malahan dia menyerang Ilya menggunakan panah.
'Aku harus mendekatinya'
Ilya memotong anak panah yang melesat ke arahnya. Itu cepat dan kuat, jika saja dia manusia biasa mungkin Ilya akan mati tadi.
Ilya berlari dengan cara menginjak potongan-potongan batu bata dan benda yang melayang karena gravitasi di sana terpengaruh oleh ledakan kekuatan Remy, ia hampir mendekati si lelaki berambut biru itu namun Remy menolaknya dan mengeluarkan gelombang suara yang membuat Ilya terpental ke belakang.
"Ugh!"
'Kau bahkan bukan siren! Kenapa pula harus mendorong ku dengan berteriak!?'
Batinnya kesal. Ilya kembali berdiri, dia menabrak salah satu toko di sana yang kini hancur karena tubuhnya yang terlempar.
Calista tidak bisa membantu banyak. Dia merasa bahwa dirinya tidak berguna, bahkan Ilya sampai terluka seperti itu untuk melindunginya.
Jadi dia memutuskan melakukan apapun yang sekiranya bisa membantu Ilya, dan saat ini menyadarkan Remy dengan memanggilnya adalah hal yang bisa dia lakukan.
Tepat setelah Calista mengatakan itu pergerakan Remy berhenti. Matanya sedikit jernih, perlahan-lahan ia menatap Calista yang berdiri di atas gedung rusak.
"C—calis—ta?"
Ilya tersenyum tipis melihat kemajuan itu.
'Bagus! Dia sadar!'
Ilya melompat ke tempat Calista berdiri. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menyadarkan Remy.
"Calista, tolong bertahanlah sebentar. Kita akan mendekatinya"
Ilya menggenggam tangan Calista yang tadi dia tinggalkan di atas gedung tersebut, mereka harus melakukannya bersama-sama supaya kesadaran Remy kembali.
"Saya bisa bertahan!"
Dari bawah sana Gauri menatap Ilya khawatir. Dia kembali berteriak, berharap kakaknya itu akan berhenti melakukan hal yang berbahaya.
Dia melihat semuanya. Saat Ilya terpelanting, terluka dan menabrak toko—Gauri tidak bisa diam saja saat kakaknya menderita begitu.
"KAK ILYA!"
Ilya mendengar suara adiknya, tapi dia tidak berbalik sedikitpun.
'Maaf Ari. Aku akan menyelesaikan ini dulu'
Dia berlari cepat dengan menginjak benda-benda yang melayang di sana, saat mereka sudah hampir dekat dengan Remy Calista langsung berteriak padanya.
"Kak Remy berhenti!"
Remy berhenti menyerang begitu dia mendengar suara adiknya. Sekarang saatnya untuk Ilya menggunakan potion pemberian dari penjaga dimensi.
'Noe! Potion nya!'
["Dimengerti"]
Botol kecil dengan cairan berwarna putih muncul di tangan kiri Ilya.
'MAMAM NIH POTION!'
Calista melepaskan genggaman tangan Ilya lalu melompat untuk memeluk kakaknya sementara Ilya memasukkan cairan di botol potion dengan paksa ke mulut Remy, lalu tangannya menekan dahi lelaki itu membuat mereka bertiga terjatuh tertarik gravitasi.
Bom!
Api yang mengelilingi Remy menghilang, rambutnya pun sudah kembali ke warna semula. Remy terbaring dengan Calista diatasnya, sementara itu Ilya terjatuh agak jauh di sebelah mereka.
Nafas Remy tak teratur. Dia berbicara dengan suara serak, sambil menyentuh lembut wajah Calista yang ada di atasnya.
"Haahh—haahh—haaah—Calista? Kamu terluka!?"
Ia mengusap luka gores di pipi sang adik, juga beberapa luka lebam karena terkena skill miliknya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa kok."
Calista berucap singkat. Senyuman hangatnya mampu menenangkan Remy yang ketakutan. Sebenarnya alasan dia mengamuk adalah karena hilangnya Calista, sesuai dengan yang Ilya pikirkan.
Remy membenarkan posisi duduknya. Dia membiarkan Calista duduk di kakinya yang diluruskan, tanpa menatap wajah sang adik dia berbicara.
"Maaf, maafkan aku. Ini semua salahku, mau itu ingatanmu yang hilang atau semua nasib buruk yang kamu miliki. Ini semua salahku"
Calista tersenyum tipis kemudian memeluk Remy.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri kak Remy, ini bukan salahmu"
Mata Remy terbelalak.
"Kamu—kamu ingat?"
Sang adik mengangguk singkat. Dia belum melepaskan pelukannya itu.
"Sedikit. Tapi aku tahu bahwa kakak adalah kakak kandung ku, kak Remy selalu melindungi ku di panti asuhan. Bahkan setelah kita berpisah pun kamu masih begitu"
Beban yang Remy tanggung selama ini seperti hilang tersapu angin. Ucapan dari Calista cukup membuatnya senang. Perasaannya campur aduk, tapi yang pasti itu semua bukan perasaan buruk.
"Terima kasih"
Remy membalas pelukan adiknya tanpa menyadari tatapan haru dari Ilya yang terbaring di sana.
'Wah, gini ya rasanya jadi nyamuk'
Ilya tersenyum dengan tubuhnya yang masih terlentang. Dia menatap langit, kemudian jendela notifikasi berwarna biru tua muncul secara tiba-tiba.
Ting!
Ilya menatapnya heran. Normalnya para Hunter memang memiliki layar notifikasi untuk menampilkan statusnya, tapi sejak awal Ilya tidak pernah memiliki hal seperti itu.
Karenanya sampai sekarang Ilya tidak tahu skill utama apa yang dia miliki.
'Ini pertama kalinya layar notifikasi muncul'
Saat Ilya kebingungan dengan situasinya, suara Gauri terdengar mendekat.
"Kakak!"
Ia menoleh dan melihat sosok Gauri yang berlari ke arahnya dengan wajah pucat, terlihat jelas bahwa dia khawatir padanya.
"Apa—apa yang kakak lakukan di sini? Apa kakak terluka?"
Gauri segera mengecek tubuh Ilya, dari depan dan belakang—dia memastikan apakah sang kakak memiliki luka parah atau tidak.
Ia tersentak begitu melihat luka gores panjang di sebelah perut Ilya.
"Perut kakak terluka! Ayo kita segera ke pihak medis!"
Dengan sigap Gauri menggendong Ilya bak putri dengan mudah. Ilya tersenyum canggung, dia merasa malu karena Gauri menggendongnya seperti ini.
"Aku tidak apa-apa! ini akan sembuh dengan sendirinya kok"
Selang satu menit berlalu kemudian luka yang Ilya miliki pun sembuh seketika. Kemampuan yang dia miliki setelah keluar dari dungeon, mau separah apapun lukanya Ilya bisa sembuh setelah jeda satu menit—namun kemampuan itu tidak menetralisir rasa sakitnya, sehingga Ilya harus menahan rasa sakit itu meskipun nanti akan sembuh kembali.
"Ini akan menjadi berita yang luar biasa"
Tahu-tahu Daniel muncul diantara kedua kakak beradik itu. Dia menatap Ilya cerah, kemudian memukul punggungnya seolah-olah mereka adalah bestie yang amat sangat akrab.
"Aku menantikan pertarungan kita nanti!"
Ilya hanya tertawa garing sementara Gauri mengomeli Daniel yang memukul punggung kakaknya.
Ilya tidak bisa menahan matanya untuk terus terbuka karena lelah, karena itu perlahan ia mulai tertidur—namun orang-orang di sana menganggap dia pingsan, jadi saat Ilya tidur Gauri dan Calista adalah orang yang paling nyaring berteriak panik.
"KAK ILYA!!"
"TUAN PENYELAMAT!"
["Kuat bukan berarti tidak bisa merasa lelah kan? kau tidurlah dulu"]
__ADS_1