Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
The diary (2)


__ADS_3

Do Hwa hampir menyerah. Dia pikir itu sekedar buku harian biasa, namun tangannya terhenti saat membaca satu halaman terakhir buku tersebut.


[Akhirnya, potion ini berhasil kami sempurnakan.]


Dia menahan nafasnya, sebab merasa senang karena akhirnya menemukan hal yang dia cari.


"Ini dia" Gumamnya singkat. Do Hwa kembali membaca halaman selanjutnya, di sana tulisan salah satu Peneliti yang menjadi seniornya tertulis dengan tidak rapi, seolah-olah dia menulisnya secara terburu-buru.


[Aku merasa bangga karena dengan potion ini kami akhirnya bisa melenyapkan semua monster itu. Tapi, bagaimana jika ini jatuh ke tangan orang yang salah? Antonio orang yang mencurigakan. Meskipun dia sering mengatakan tentang kebebasan dari dungeon dan monster, namun dia seperti orang yang paling tidak rela jika dungeon dan monster lenyap. Aku pikir itu hanya asumsi kosong, tapi rupanya kami benar-benar tertipu olehnya selama ini.]


Do Hwa kembali membuka halaman selanjutnya. Buku harian itu cukup tebal meskipun ukurannya kecil, dia tidak bisa berhenti membacanya di sana.


[Antonio sama gilanya seperti William. Namun William berhasil dimanfaatkan oleh Antonio, kami pun dia manfaatkan dengan meyakinkan kami para peneliti untuk membuat potion yang dia mau. Antonio berani meyakinkan aku untuk menjadikan manusia hidup sebagai objek percobaan ramuan ini padahal itu adalah hal ilegal.


Aku dibutakan oleh ambisi hingga tutup mata, padahal saat aku selesai membuatnya perasaan sesal dan tak enak hati langsung menyeruak dalam diriku. Aku merasa bersalah atas semua nyawa yang dikorbankan, mereka orang-orang baik yang tidak beruntung karena bertemu dengan orang seperti kami. Selain memanfaatkan para peneliti, Antonio juga memanfaatkan putri angkat William. Anak itu masih muda, namun dia memiliki bakat yang luar biasa]


Air matanya mengalir begitu saja ketika Do Hwa membaca halaman itu. Meskipun tidak ada namanya, tapi dia tahu siapa pemilik dan penulis buku harian ini.


Dengan cepat Do Hwa mengusap air matanya sendiri. Dia tidak boleh menangis sekarang, tugasnya belum selesai.


[Untuk siapapun yang menemukan buku harian ku, aku memohon padamu untuk menghancurkan potion ini demi keselamatan umat manusia di masa depan nanti. Satu potion ini bisa jadi sangat berbahaya jika dimiliki oleh seseorang berhati gelap, karena itu aku mohon padamu. Tolong hancurkan kuncinya sebab jika kunci ini lenyap maka potion yang kami buat akan langsung hancur. Aku mohon padamu, kami semua tidak bisa melakukannya-Tertanda Robert Don]


Tepat di halaman terakhir buku tersebut terdapat kunci kecil khusus yang menempel, tampaknya itu adalah kunci untuk membuka brangkas lain yang Do Hwa tak tahu di mana itu berada.


Han Do Hwa mengambil kunci tersebut, dia menatapnya sejenak sebelum menggenggamnya dengan sangat erat.


'Aku harus menghancurkannya!'


Ini adalah wasiat terakhir dari senior sekaligus gurunya yang sudah meninggal dunia, Do Hwa harus melaksanakan apa yang Robert inginkan dan menghancurkan kuncinya.


Do Hwa merobek-robek buku harian milik seniornya, setelah itu tangannya sibuk menghancurkan kunci yang dia temukan tadi—perempuan itu menggunakan item untuk memotong kunci menjadi dua bagian namun item itu tidak terlalu berguna untuknya.


'Pasti ada cara lain'


Tidak banyak yang Do Hwa miliki karena item-item miliknya sudah disita oleh pemerintah, saat ini dia hanya punya dua item dan salah satunya dia gunakan tadi.


"Nona Han, waktunya sudah habis."


Tangan Do Hwa gemetar karena panik. Dia langsung menyembunyikan tangannya di balik punggung, kemudian menatap petugas yang masuk ke ruangan itu.


"Baiklah. Ayo kita pergi"


Do Hwa berjalan pelan menuju petugas yang membukakan pintu untuknya. Dia memasukkan kunci tadi perlahan ke dalam kantung baju, berharap si petugas itu tidak curiga dengan apa yang dia lakukan.


"Apa yang kamu masukkan tadi?"


Deg.


Kaki perempuan itu membeku. Jantungnya berdegup kencang karena gugup dan takut secara bersamaan, dia belum bisa menggunakan kekuatan teleportasi karena item di tangannya yang membuat dia tidak bisa kabur.


"Ini hanya barang peninggalan ibu ku"


Jawab Do Hwa singkat. Dia berbohong menggunakan nama ibunya, berharap petugas itu merasa sungkan pada ucapannya tadi.


"Benarkah?"


Do Hwa menelan ludahnya kasar. Tidak, dia tidak boleh ketahuan di sini. Kunci yang dia temukan harus dihancurkan, dan Do Hwa berniat untuk mengatakan hal ini pada Ilya supaya dia bisa meminta bantuan pada lelaki itu.

__ADS_1


Han Do Hwa tahu seharusnya dia tidak se-panik ini. Toh petugas yang ada bersamanya juga berasal dari guild yang sama dengan Ilya, tapi entah kenapa melihat tatapan anak muda itu sukses membuat Do Hwa merasa terintimidasi.


"Kau bohong nona Han"


Saat itu juga Do Hwa merasa jantungnya keluar dari tempat yang seharusnya. Dia berusaha tenang, meskipun sejak tadi tangannya sudah gemetaran sebab takut lelaki di depannya ini akan mengambil kunci dari tangannya.


"Aku tidak bohong! Ayo kita kembali saja, jadwal sidang ku sore ini kan?"


Do Hwa mundur. Tidak bisa begini, dia harus mengalihkan pembicaraan dan pergi dari sana.


"Sayangnya kita tidak akan kembali ke sana, nona Han."


Ucapannya membuat Do Hwa terkejut. Dia berbalik, menatap Hunter tersebut kemudian matanya terbelalak saat dia melihat sosok tak terduga yang ada di sana.


"Kerja bagus, Hunter Yoo-han. Ikutlah dengan Lukas karena ada hal lain yang ingin aku bicarakan dengan Do Hwa."


Hunter itu, Yoo-han, dia mengangguk paham kemudian mengikuti apa yang lelaki tadi ucapkan setelah wajah aslinya terlihat—Do Hwa kenal dia. Salah satu Hunter yang bekerja di guild Orbit, tapi saat ini perempuan itu tidak bisa memikirkan masalah Yoo-han sebab dia harus mengurusi masalahnya sendiri dengan lelaki di depannya.


"Long time no see, ms Han. Aku tidak mau basa-basi, berikan kunci itu padaku sekarang juga"


Tubuh tinggi dan berotot milik lelaki itu membuat Do Hwa goyah, apalagi tatapan mengancamnya terlihat sama dengan tatapan sang ayah dulu saat memberikan hukuman pada Do Hwa.


Usia lelaki itu empat puluhan, lebih tua dari ayah angkatnya dan ini kali pertama Do Hwa bertemu langsung dengan atasan William.


"Aku tidak mau"


Jawabannya tegas. Do Hwa menahan semua tekanan dari kekuatan milik lelaki di depannya. Antonio Cass menatapnya tajam, dia tahu kalau Han Do Hwa tidak akan membuat ini menjadi mudah.


"Berbeda dengan ayahmu, kau tidak akan mau menerima jabatan atau kekuasaan sebagai bayaran kan? Bagiku seseorang yang tidak bisa dimanfaatkan itu tidak berguna"


Dugh!


Luka lama yang sudah tertutup kembali terbuka lagi karena serangan tiba-tiba dari Antonio di perut Do Hwa, hingga membuat perempuan itu terlempar ke dinding ruangan doa.


Darah segar mengotori dress biru muda yang dia pakai. Kini Do Hwa menatap tajam ke arah Antonio yang melemaskan tangannya sendiri, lalu ia menginjak kedua kaki Do Hwa hingga tulangnya patah.


Argh!!


Do Hwa meringis menahan rasa sakit yang dia rasakan. Antonio tersenyum miring, tampak jelas wajah puas sebab melihat Han Do Hwa yang menderita.


"Kau bertahan cukup bagus. Padahal kekuatan mu sedang disegel oleh item itu, tapi kamu masih hidup setelah mengenai serangan ku. Hebat, aku kagum padamu"


Pujian itu terdengar seperti sarkasme bagi Han Do Hwa. Dia sama sekali tidak senang mendengarnya.


"Aku ambil ini"


Antonio mengambil kunci yang Do Hwa simpan di sakunya saat sang puan masih belum bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar, dia kesakitan namun kunci itu tidak boleh dimiliki oleh Antonio.


"J—jangan, jangan mengambilnya!"


Lelaki itu menatapnya tak acuh. Sudah begini pun Do Hwa masih berusaha untuk mempertahankan kuncinya, melihat usaha itu membuat Antonio tertawa.


"Jangan sentuh aku, kau makhluk tak berguna"


Setelah mengatakan itu Antonio menepis kasar tangan Do Hwa, lalu berbalik dan meninggalkan perempuan itu bersandar di dinding dengan perutnya yang masih terluka.


Pandangan Do Hwa semakin pudar. Saat ini dia sama saja dengan manusia biasa tak berkemampuan, jadi luka di perutnya bisa membuat dia meninggal dunia dalam beberapa jam kedepan.

__ADS_1


Di ujung-ujung kesadarannya dia mendengar suara Antonio yang berbicara.


"Kau sangat mencintai rumah ini kan? Aku akan memberikan kehormatan padamu karena sudah merawat kunci ini dengan baik. Matilah di sini bersama rumah yang amat kau sayangi, ini adalah kebaikan terakhir dariku untukmu, Han Do Hwa."


Do Hwa mengigit bibirnya kesal. Dia ingin membalas ucapan Antonio, mengatakan betapa gilanya ia dan mengutuk lelaki itu untuk pergi ke neraka saja—tapi dia tidak bisa. Suaranya tak mampu keluar, dia sudah berada di akhir masa hidupnya yang seharusnya sudah selesai dari dulu.


"Ba—bajingan. Aku harap, kau, mati saja."


Suaranya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar seperti sebuah ucapan. Antonio masih bisa mendengarnya, dia menjawab ucapan Do Hwa tanpa menatap perempuan itu.


"Itu yang diinginkan oleh raja dunia, tapi aku belum bisa mati sekarang"


Kemudian Antonio memerintahkan pada dua Hunter yang memakai topeng bersamanya melemparkan item. Semacam bom, namun memiliki daya ledakan yang lebih kuat dari bom biasa.


Antonio pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Meninggalkan Do Hwa dan bom dengan waktu hitung mundur yang semakin dekat, sebentar lagi bom itu akan meledak di sana lalu Han Do Hwa mulai putus asa pada nasib kehidupannya sebab dia kesulitan untuk melarikan diri.


'Aku bakal mati di sini? begitu saja?'


Dia tidak tahu kalau sekarang adalah hari terakhir hidupnya.


'Hahaha, kalau tahu bakal begini seharusnya aku menyatakan perasaan ku pada Ilya tadi'


Kematian memang sebuah misteri. Do Hwa merasa menyesal sebab dia belum menikmati kehidupannya dengan sempurna, dia bahkan baru bisa menjalani hidup damai belum lama ini—tapi waktunya sangat cepat berakhir.


'Setidaknya aku bisa bertemu dengan ibu nanti'


Ia menutupi luka di perutnya dengan tangan, merasakan kembali rasa sakit dari luka itu dan tanpa sadar air matanya pun mengalir.


'Aku tidak mau mati'


Dia ingin hidup. Kematian adalah hal yang menakutkan, Han Do Hwa ingin membuka matanya lagi lalu menikmati angin senja bersama orang-orang yang berharga untuknya.


'Tolong aku!'


angka di bom itu semakin berkurang, dua puluh detik lagi bom akan segera meledak di sana.


"Tolong aku"


untuk terakhir kalinya dia berusaha. Berharap ucapan pelannya itu dapat di dengar oleh seseorang dari luar, namun tidak ada yang datang hingga cahaya menyilaukan muncul lalu ledakan pun terjadi.


BOOM!!


["Aku ingin hidup"]


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Omaigat Yoo-Han sayang, kok tega-teganya kamu😱😭 Do Hwa bertahan dong, aku kit hati nulis chapter ini😭


__ADS_2