
Tangan Ilya menahan belati milik perempuan itu yang hampir saja memutuskan syaraf pusat miliknya dengan leher, kalau saja Ilya tidak memiliki sensitivitas tinggi mungkin dia sudah mengucapkan selamat tinggal pada dunia sekarang.
"Kau cepat, aku menyukainya!"
Perempuan itu menghilang lagi, sekarang kabut tipis mulai muncul entah dari mana dan membatasi jarak pandang Ilya kedepan.
["Ini teknik membunuh, berhati-hatilah"]
Noe memberikan peringatan pada Ilya. Teknik menyerang tanpa suara, sering dilakukan oleh para pembunuh di masa lalu—dengan memanfaatkan kabut tipis dan menyerang titik buta lawan.
Ilya tahu itu. Dia memfokuskan Indra pendengarannya, berusaha menangkap pergerakan perempuan itu yang pasti akan menyerangnya kapan saja.
Buagh!
Tangan Ilya meninju tepat di sebelah perempuan itu, membuatnya terdiam karena terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Ilya—padahal dia tidak menampakkan diri dan hampir membunuhnya, tapi Ilya tahu dengan tepat dimana dia bersembunyi.
Jantungnya berdegup kencang, baru kali ini ada seseorang yang mampu menahan semua serangannya. Mata perempuan itu berkilat kagum, senyumannya melebar bersamaan dengan dirinya yang melompat menjauh dari Ilya.
"Aku suka"
Ilya mengernyitkan dahinya ketika dia mendengar perempuan itu bergumam dengan ekspresi yang sulit diartikan, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu lalu menyerang si perempuan tadi menggunakan pedang kembar yang baru Ilya ambil dari tas sub-ruang miliknya.
"Aku menyukaimu! Ayo kita lihat sampai mana kamu bisa membuatku senang!"
Pedang Ilya ditahan oleh perempuan itu namun karena tekanannya yang kuat dia pun terlempar jauh ke belakang—menabrak batu besar hingga menciptakan retakan di batu tersebut, dia meludah, mengeluarkan darah efek dari menahan serangan Ilya tadi lalu kembali melakukan serangan.
'Dia gila kan?'
["Kau tidak boleh berkata kasar pada perempuan, tapi harus aku akui calon bencana kali ini memang gila"]
Ilya terus menahan semua serangan yang perempuan itu arahkan padanya. Semakin lama serangannya semakin cepat, hingga Ilya agak sedikit kewalahan meskipun dia bisa mengimbanginya dengan baik.
Perempuan itu memakai belati dengan racun sedangkan Ilya menggunakan pedang kembar yang baru saja dia beli di tempat pembelian Item tadi, rank senjata miliknya adalah A jadi itu tidak mudah hancur meskipun menyentuh racun yang dapat melelehkan senjata biasa.
Rambutnya yang diikat gaya ekor kuda semakin acak-acakan karena pertarungannya dengan Ilya, tapi ekspresi wajahnya malah sumringah seolah-olah dia sangat menyukai luka dan serangan yang Ilya arahkan padanya.
Uhuk!
Ilya menghentikan serangannya sejenak saat dia melihat perempuan itu batuk darah. Seharusnya dia tidak terlalu berlebihan saat melawan calon bencana yang akan menjadi sekutunya nanti, tapi baru kali ini Ilya bertarung dengan manusia yang setara dengan dirinya—yah, sebenarnya dia belum pernah melawan seseorang sih, kan dia menyembunyikan kekuatannya dari publik—mana ada yang mau bertarung dengan Hunter rank F.
"Sayang, kamu sangat kasar. Aku rasa kita akan bertemu lagi nanti."
Dia menyentuh area perutnya yang menerima luka goresan panjang dari pedang Ilya tadi, Ilya hendak membuka mulutnya namun gempa kecil di sana membuatnya berhenti untuk melakukan itu dan pandangannya menatap ke bawah—dia merasakan sesuatu akan muncul ke permukaan, dan itu adalah benda yang sangat besar dan sedang marah.
__ADS_1
"Karena aku tidak bisa menjadi lawan mu sekarang, kamu lawan bos monster dulu ya? Kita pasti bertemu lagi nanti, jadi tunggu aku ya sayang!"
"Hei!—"
["Bahaya!"]
Ilya melompat ke belakang saat seekor tikus tanah dengan cakar tajamnya muncul ke permukaan, itu adalah bos di dungeon ini dan ukurannya bukan main.
Selain itu kulitnya juga tebal. Monster ini seperti memiliki armor berupa kulit yang sulit di tembus, selain itu gigi dan cakar miliknya pun bisa merobek tubuh manusia dengan sangat mudah.
Mata Ilya menatap ke sekeliling, dia mencari perempuan itu namun yang dia temukan hanyalah debu gurun yang panas. Rupanya dia sudah kabur sejak tadi.
["Tidak apa-apa. Dia pasti akan datang lagi padamu, kau adalah targetnya jadi kita bisa bertemu dengan calon bencana kedua nanti"]
Ilya mengangguk setuju dengan ucapan Noe. Sekarang yang harus dia urus adalah bos monster di depannya, bagi Ilya mudah saja melawannya karena dia sudah tahu titik lemah monster itu di mana.
"Aku tidak perlu menggunakan seluruh kekuatan ku untuk membunuh mu monster jelek!"
Kakinya menginjak tanah untuk pijakan supaya dia bisa melompat tinggi. Ilya menatap tajam titik lemah monster itu, tepatnya ada di tengah dahinya yang tertutup bulu abu-abu lebat.
Ilya masih menggunakan pedang kembarnya, dia segera melesat ke arah titik lemah itu kemudian menebasnya dengan sekali serang.
Crakk!!!
Brugh!
Ilya menghela nafas panjang. Dia menatap tubuh Monster yang terjatuh lunglai tak berdaya di depannya, bersamaan dengan itu hujan darah ungu mengotori baju baru miliknya.
Ah—ingatkan Ilya untuk membuat alasan pada Gauri nanti, dia tidak mau membuat adiknya itu curiga.
"Ayo kita kembali"
Ilya berbalik untuk pulang. Dia berniat membiarkan mayat monster tersebut di sana dan memberikannya pada Hunter yang beruntung saja, mana bisa dia membawanya kembali.
"Hebat"
Deg.
Seolah membeku, kakinya terhenti saat dia mendengar suara seseorang yang memberikan pujian. Ilya mencari sosok itu lalu menemukan lima orang Hunter yang terpaku menatap kagum dan takut pada Ilya yang kini terdiam di tempatnya.
"Hebat banget! Anda Ilya Sigma kan!? Kekuatan anda keren! Anda menyembunyikannya dan mengatakan anda adalah rank F? Prank nya kocak banget!"
Kikuk. Ilya tidak menyadari ada satu party yang sejak tadi melihatnya bertarung, tidak, sejak kapan mereka ada di sana? Apa sejak awal? Kalau gitu gawat dong? Ilya jelas sudah tertangkap basah memiliki kekuatan berlebihan sebagai Hunter rank F.
__ADS_1
Beralasan pun tidak berguna. Dia jelas akan terlihat ingin menyembunyikan kekuatannya dari mereka, padahal bukti nyata sudah ada di depan mata.
'Apa aku bunuh saja ya?'
["Kau bisa melakukannya seperti terakhir kali"]
Jarang-jarang Noe setuju dengan pemikiran brutal miliknya. Ilya bisa membunuh mereka lalu memberikannya pada monster dulu seperti yang Remy lakukan waktu itu, jadi dia tidak akan terkena masalah dan orang yang mengetahui kekuatannya pun akan hilang. Selain itu, Ilya juga harus menghancurkan gawai salah satu Hunter itu yang merekam dirinya tadi.
Ilya bisa melakukannya, dia yakin bisa melakukannya.
Tangannya bersiap menyentuh senjata yang dia gunakan terakhir kali, hendak menyerang kelima Hunter itu, namun suara seseorang yang dia kenal semakin mendekat, membuatnya harus mengurungkan niatnya.
"Kakak."
Orang yang paling tidak ingin Ilya temui malah muncul. Gauri datang bersama Yoo-Han yang menatap terkejut pada mayat monster di belakang Ilya, kelima Hunter yang berdiri tak jauh dari Ilya jelas bukan pelaku dari matinya monster tersebut.
Dan semua bukti menunjukkan dengan jelas bahwa Ilya-lah si kontributor utama yang membunuh bos monster.
'kau menyembunyikannya dengan baik selama ini, Ilya'
Remy tidak bisa membantu saat Ilya sudah ketahuan begini.
Gauri menatap Ilya datar. Lelaki dengan tinggi seratus tujuh puluh dua centimeter itu beranggapan bahwa sang adik sedang menahan marahnya, dia harus siap menjelaskan semuanya pada Gauri nanti.
"Ayo kita bicara setelah ini kakak"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1