Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
Perubahan rencana.


__ADS_3

"Selanjutnya kita ke sana!"


"Tunggu! Hyun, aku harus kembali"


Hyun menatap kecewa pada Ilya yang tiba-tiba berhenti di belakangnya. Dia masih mau bermain dengan lelaki itu, tapi jika Ilya mengatakan dia harus pulang maka dia pun tak bisa menahannya.


'Aku bisa menculiknya'


"Jangan coba-coba untuk menculik ku"


Mulut Hyun mengerucut membentuk cemberut karena pikirannya dibaca dengan mudah oleh Ilya.


"Cih. Aku tidak berpikir begitu"


Ilya memutar bola matanya malas. Dia tidak percaya, padahal ekspresi Hyun tadi memperlihatkan dengan jelas niat busuknya.


"Aku tidak mau keluar dengan mu lagi kalau kamu melakukan penculikan"


Wajah Hyun langsung sumringah. Dia mendekatkan wajahnya ke Ilya, menatap lurus mata hazel lelaki itu.


"Kamu mau main denganku lagi!?"


Ilya mengangguk singkat. Lagipula, dia harus dekat dengan calon bencana kedua ini supaya dia bisa tahu kapan Hyun akan mengalami ledakan kekuatan.


Hyun tersenyum lebar, kemudian tangannya melingkar di leher Ilya lalu memeluknya erat—membuat Ilya sedikit terkejut karena pelukan tiba-tiba itu.


Dia belum siap! Bagaimana pun ini kali pertama Ilya menerima pelukan dari seorang perempuan selama dua puluh tujuh tahun masa hidupnya! Tapi, kenapa dia harus di peluk oleh seorang perempuan agak gila seperti Hyun? Meskipun dia cantik tapi kan tetap saja.


"Hei! Kita jadi pusat perhatian nih!"


Orang-orang yang lewat jadi menatap mereka. Berpikir bahwa mereka pasangan muda yang cocok dan romantis, padahal sebenarnya Ilya berusaha melepaskan pelukan Hyun darinya.


"Aku senang banget bisa ketemu kamu lagi nanti! Ayo kita main ke lebih banyak tempat!"


Hyun tampaknya tak mendengarkan seruan Ilya tadi, dia malah kesenangan dan pelukannya semakin erat.


'KAU MAU MEMBUNUHKU YA!?'


Dengan satu tarikan nafas Ilya berhasil melepaskan pelukan maut Hyun darinya. Dia menatap Hyun yang masih tersenyum senang, polos banget kelihatannya.


"Jangan pernah memeluk ku seperti tadi lagi, paham?"


"Oke"


"Bagus"


Ilya mengakhiri ucapannya dengan mengelus kepala Hyun singkat. Hyun terdiam begitu dia merasakan tangan Ilya yang mengelus kepalanya, merasa aneh sebab sentuhan fisik itu.


'Dia tidak menjambak ku'


Ia menyentuh kepalanya sendiri saat Ilya berjalan duluan di depan. Tidak sakit ataupun perih, biasanya dia hanya menerima jambakan di rambutnya karena gagal menjalankan misi yang akhirnya mengharuskan dia memakai wig atau menerima tamparan di pipi.


Tapi sentuhan tangan dari Ilya tadi sangat lembut, seolah-olah dia adalah benda berharga yang dijaga dengan baik.


"Kau tidak mau ikut? Kita bisa ketinggalan keretanya"


Hyun segera sadar dari lamunannya. Sekarang pun Ilya menunggu dirinya dengan sabar, padahal kan dia bisa saja pergi duluan—toh tujuan mereka tidak sama.


"Oh? Baik!"


Dia menjawabnya singkat kemudian berjalan ke arah Ilya. Mungkin karena terpikir tentang sikap lembut Ilya padanya, dia jadi tidak fokus saat berjalan sehingga tubuhnya tak sengaja hampir bertabrakan dengan seseorang yang lewat.


"Hati-hati!"


Ilya dengan sigap menopang tubuh Hyun yang hampir terjatuh, sedangkan orang yang menabraknya pergi begitu saja.


"Dasar! Setidaknya minta maaf dong!"


Ujar Ilya ketus. Dia menatap orang yang menabrak Hyun dengan tatapan marahnya, orang itu pergi tanpa berbalik, sedangkan Hyun tidak paham mengapa Ilya marah-marah begitu.


"Kenapa kau melakukannya?"


"Apa maksudmu?"


Hyun menundukkan wajahnya menatap trotoar jalan.


"Menolong ku. Padahal kau tahu apa pekerjaan ku, aku bisa saja membunuh dia di tempat tadi tapi kau malah membantu ku"

__ADS_1


Ilya pikir dia marah karena mendapat bantuan darinya. Lelaki itu jadi merasa tidak enak hati, tapi bagaimanapun juga Ilya tidak bisa diam saja saat melihat Hyun hampir terjatuh meski dia tahu Hyun tidak benar-benar membutuhkan bantuannya.


"Katakanlah itu adalah naluri seorang lelaki. Aku tidak bisa membiarkan mu terluka saat bersamaku. Meskipun begitu, aku tahu kamu perempuan yang kuat"


Ilya tersenyum canggung diakhir kalimatnya. Dia tidak mengatakan kebohongan, itu memang faktanya dan Hyun tahu saat menatap lurus ke mata Ilya yang jernih.


'Apa sikap semua lelaki sepertimu?'


Hyun berpikir sejenak karena ucapan Ilya yang dalam, namun dia segera menepiskan pikirannya itu karena dia tahu apa yang dia pikirkan tidak benar.


'Tidak, pasti hanya Ilya yang seperti ini'


Semua lelaki yang dia kenal tidak sama seperti Ilya. Mereka kasar dan jahat, Hyun harus berusaha untuk bisa hidup diantara orang-orang itu.


Hatinya terasa hangat saat dia melihat sosok Ilya yang bermandikan cahaya matahari sore. Ilya terdiam cukup lama sebelum dia mengulurkan tangannya pada Hyun.



(Hayuk mas, ke KUA sekalian mau ga?//Kabur dikejar Hyun bawa golok)


Tanpa sadar mulutnya membentuk sebuah lengkungan kecil, senyuman paling tulus yang dia punya. Kakinya melangkah cepat mendekati Ilya, dia menyambut baik tangan lelaki itu lalu berjalan beriringan dengannya.


"Aku jadi semakin mencintaimu"


"Berhenti mengatakan itu."


"Hehehe, oke."


Hyun tidak bisa menolak perasaan baru ini. Perasaan ketika jantungnya berdegup kencang hanya karena berada disampingnya, perasaan hangat dan senang karena menatap wajahnya—Hyun pikir dia merasakan perasaan seperti perempuan normal pada umumnya.


Perasaan mengagumi sosok lelaki yang membawa angin segar seperti musim semi, dia jadi ingin memilikinya.


"Kau mendengar sesuatu?"


"Hm? Apa?"


Ilya menatap Hyun disebelahnya yang tersenyum simpul. Dia merasa tadi telinganya menangkap suara benda yang jatuh ke air, karena mereka sedang berjalan di dekat sungai jadi Ilya pikir ada seseorang yang kehilangan benda miliknya.


"Bukan apa-apa. Mungkin aku hanya salah dengar,"


"Nanti kita mau main ke mana?"


Celetuk Hyun singkat. Semakin mengeratkan pelukannya di tangan Ilya, meskipun Ilya berkali-kali melepaskan tangannya itu tapi Hyun kembali melakukannya lagi hingga Ilya menyerah sendiri.


"Terserah kamu"


Dia membalasnya dengan tak acuh.


"Aku mau main ke rumah mu boleh?"


"Tidak"


"Ey? Kenapa?"


"Aku punya adik protektif yang akan mengintrogasi kamu kalau kalian bertemu"


Mendengar kata adik membuat Hyun kepikiran. Dia tahu Ilya memiliki adik perempuan, tapi karena mereka belum pernah saling bertatap muka jadi dia penasaran seperti apa adik Ilya itu.


"Apa dia cantik?"


"Selain ibuku, dia adalah perempuan paling cantik di dunia"


Ilya menjawabnya sambil tersenyum bangga, membuat Hyun cemburu melihatnya.


"Aku cemburu padanya"


"Dia adikku"


"Apa aku juga cantik?"


"Entahlah"


Mata Hyun memicing. Meskipun Ilya menjawabnya tak acuh tapi Hyun tahu bahwa saat ini Ilya sedang gugup dan berusaha tenang, ia menautkan jari-jarinya dengan tangan kanan Ilya yang dia gandeng lalu tak ada percakapan lagi diantara mereka.


'Aku semakin penasaran dengan mu'


...******...

__ADS_1


"Kau tidak pulang sekarang?"


Ilya bertanya singkat karena Hyun terlihat tidak memiliki niat untuk masuk ke dalam kereta. Mereka sudah ada di stasiun kereta api bawah tanah, tapi sepertinya niat Hyun hanya mengantarkan Ilya saja.


"Aku ada urusan di sini."


"Tentang 'pekerjaan' mu?"


Ilya menekankan pada kata pekerjaan lalu Hyun mengangguk membenarkan ucapannya.


"Kamu memang paling tahu aku."


Hyun tersenyum tipis karena tebakan Ilya, meskipun kali ini pekerjaannya agak berbeda dengan yang biasa dia lakukan.


"Baik, kalau begitu kita berpisah di sini. Sampai jumpa lagi, Hyun"


Ilya sudah melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kereta, tapi Hyun membuatnya berhenti.


"Tunggu sebentar."


perempuan itu menarik wajah Ilya untuk mendekat padanya, karena tinggi badan mereka tidak terlalu jauh jadi dia dengan mudah mendaratkan bibirnya pada lelaki itu.


"Aku gak menerima ciuman dari seseorang yang tidak aku cintai"


Ilya berhasil menghalangi bibir merah merona Hyun menggunakan tangannya. Hyun kembali cemberut lantaran kecewa aksinya malah gagal, namun sedetik kemudian dia tersenyum simpul lalu menarik tangan Ilya yang menutup mulutnya.


"Kamu benar. Kau memang belum mencintaiku"


Hyun mencium punggung tangan Ilya seperti seorang ksatria pada lady di era bangsawan dan itu membuat Ilya membatu ditempatnya. Hyun terlalu banyak memiliki kejutan hari ini.


"Tapi aku akan berusaha sampai kamu menjadi milikku, Ilya Sigma"


Diakhir ucapannya dia menyeringai sementara Ilya langsung menarik tangannya lalu masuk ke dalam kereta tanpa berbicara lagi pada Hyun, dia meninggalkan perempuan itu yang menatapnya sambil melambaikan tangan tanda perpisahan mereka.


"Dadah Ilya! Jangan lupa pikirkan aku ya!"


Dia berseru saat kereta mulai melaju. Jantung Ilya berdegup kencang karena gugup dan malu secara bersamaan, dia merasa hawa tubuhnya terlalu panas hari ini.


'Dia memang gila!'


Pdkt yang terlalu menguras tenaga. Ilya langsung lelah hanya bertemu sekali dengan Hyun, kalau begini gimana dia bisa menghadapi Hyun nanti!?


"Haaa—capek banget"


Ilya langsung duduk di bangku penumpang dan bersandar karena lelah. Ia menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan sore kota, lalu mulutnya bergumam pelan mencoba memanggil Noe.


"Noe"


["Apa kencan mu sudah selesai?"]


Noe langsung muncul dan berbicara omong kosong.


'Si sialan ini! Kemana saja kau!? Dia sudah pergi dan kami tidak kencan!'


Ilya berucap marah karena Noe yang menghilang tiba-tiba tadi. Andai saja Noe tidak menghilang, mungkin dia bisa langsung bertanya padanya tentang kondisi kekuatan dalam tubuh Hyun stabil atau tidak.


Terdengar suara mendengus singkat dari Noe, dia menjawab pertanyaan Ilya dengan tidak niat.


["Itu bukan urusanmu, dan untuk si calon bencana itu kalian akan bertemu lagi nanti"]


Ilya semakin kesal pada sistem miliknya itu. Dia menutup matanya sambil menyilang kan kedua tangannya di dada lalu tertidur di sana.


'Terserah lah.'


Dia marah pada Noe dan memutuskan untuk bertanya nanti saja. Sekarang Ilya harus istirahat, sebelum dia sampai di apartemennya.


['Dia anehnya mengurungkan niatnya untuk membunuh Ilya hari ini']


Noe berucap heran sambil mengingat kejadian tadi. Meskipun dia tidak bisa berbicara pada Ilya, namun dia merasakannya.


Noe jelas-jelas merasakan niat buruk Hyun yang ingin membunuh Ilya, tapi dia malah membuang ramuan yang dapat membunuh Ilya ke sungai dan pergi begitu saja.


Di satu sisi Noe bersyukur karena kalau ramuan itu digunakan untuk melawan Ilya maka itu akan memberikan dampak yang buruk untuk waktu yang agak lama, namun di sisi lain Noe penasaran dengan alasan Hyun mengubah rencananya.


['Tidak mungkin kan dia benar-benar jatuh cinta pada bocah ini?']


Noe agak ragu dengan asumsinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2